13 Bungkus yang Tak Kunjung Terjual: Ketika Jestham Memeluk Haru Seorang Penjual di Depan Sekolah

13 Bungkus yang Tak Kunjung Terjual: Ketika Jestham Memeluk Haru Seorang Penjual di Depan Sekolah
Kota Medan, Sumatera Utara - (10/08/26) Ada pertemuan yang mengingatkan kita bahwa di balik setiap dagangan yang tak terjual, ada harapan yang terus dipupuk. Itulah yang dirasakan Jestham ketika melihat seorang bapak-bapak duduk termenung di depan sekolah, ditemani dagangannya yang masih tersisa banyak. Wajahnya lelah, tatapannya kosong. Jestham pun menghampiri dan menyapa dengan lembut, "Bapak, saya mau beli. Boleh?" Bapak itu mengangkat wajah, matanya berbinar. "Boleh, boleh," jawabnya cepat, seolah tak ingin melewatkan kesempatan.
Jestham bertanya, "Satu biji harganya berapa, Pak?" "Rp10.000," jawabnya. "Ini sudah terjual banyak. Tinggal 13 lagi," lanjutnya. Jestham penasaran. "Dari jam berapa, Pak?" "Jam 10 pagi," jawabnya lirih. Jestham melihat jam. Hari sudah hampir jam 5 sore. Berarti bapak itu sudah duduk di sana selama hampir tujuh jam, namun hanya beberapa dagangan yang terjual. "Sepi ya, Pak?" tanya Jestham. Bapak itu menghela napas, "Ya enggak bilang enggak sepi macam mana? Udah gitu emang keadaan tadi di sekolah."
Jestham terdiam. Ia merasakan getir di hati bapak itu. Tanpa pikir panjang, ia berkata, "Bapak, saya ada rezeki dari Tuhan. Saya borong semuanya boleh enggak?" Mata bapak itu langsung berkaca-kaca. "Alhamdulillah," ucapnya pelan, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Jestham tersenyum dan bertanya, "Berapa semuanya jadinya, Pak?" "130," jawabnya singkat. "130? Boleh tawar, Pak?" "Boleh," jawabnya pasrah.
Jestham tersenyum penuh arti. "Berapa tawarnya?" tanyaJestham. Bapak itu terdiam sejenak, lalu menjawab, "100." "100?. Beneran?" tanya Jestham. "Iya. Daripada nunggu lama," lanjutnya pasrah. Jestham mengangguk. Ia tahu, bapak itu rela melepas dagangannya dengan harga jauh di bawah modal asalkan semuanya habis. Tapi Jestham punya rencana lain.

"Tapi saya pengin tawarnya segini loh, Pak," ucap Jestham sambil menyodorkan lembaran uang yang nilainya justru lebih dari harga yang seharusnya. Bapak itu terkejut. Boleh. Boleh," ucapnya berulang-ulang, suaranya bergetar. Air matanya jatuh perlahan. "Jadi enggak pernah dapat gini. Enggak pernah nampak gini. Ada orang baik hati sama saya," ucapnya dengan suara parau. Jestham tersenyum hangat, "Alhamdulillah. Puji Tuhan ya, Bapak ya."
Bapak itu masih tak percaya. Ia menatap uang di tangannya, lalu menatap Jestham, lalu kembali menatap uang itu. "Simpan ya, Bapak ya," ucap Jestham lembut. "Saya izin ambil ya," kata Jestham sambil meraih dagangan yang tersisa. "Iya. Iya," jawab bapak itu, hatinya penuh syukur. Ia tak menyangka, di penghujung hari yang sepi, rezeki justru datang dari seseorang yang tak pernah ia kenal sebelumnya.

Sebelum berpisah, Jestham melihat kembali ke arah bapak itu, "Oke, Bapak. Terima kasih banyak ya, Pak ya," ucapnya. "Amin," jawab bapak itu lirih. "Sehat-sehat ya, Bapak ya. Semoga jualannya laris manis ya, Bapak ya," doa Jestham tulus. Bapak itu hanya bisa mengangguk, air matanya masih mengalir, namun senyumnya kini merekah. Ia mengucap syukur berkali-kali, memeluk erat uang di tangannya, dan melambaikan tangan saat Jestham perlahan menjauh.
Kadang, cukup dengan membeli dagangan yang tak laku, kita sudah menyelamatkan hari seseorang. Bapak penjual itu mungkin hanya sosok kecil di pinggir jalan, tapi ia punya harapan besar untuk keluarganya. Semoga setiap penjual di luar sana selalu dipertemukan dengan orang-orang baik, dan semoga kita semua diberi kepekaan untuk menjadi jawaban atas doa mereka.







