35 Ribu dari Pagi Hingga Sore: Ketika Jestham Menemukan Perjuangan Seorang Ayah

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: tiktok/@jesicathamrin
Sumber: tiktok/@jesicathamrin

35 Ribu dari Pagi Hingga Sore: Ketika Jestham Menemukan Perjuangan Seorang Ayah

Kota Medan, Sumatera Utara - (04/05/26) Ada pertemuan yang mengingatkan kita betapa beratnya perjuangan seorang ayah di tengah kerasnya kehidupan. Itulah yang dirasakan Jestham ketika melihat seorang bapak becak duduk termenung di pinggir jalan. "Permisi, Pak. Ada sewa nggak?" tanyanya. "Sepi, Bu," jawab sang bapak dengan wajah lesu. Jestham pun mendekat dan menawarkan, "Saya ada rezeki dari Tuhan, belanja sembako sepuasnya, mau nggak?" Mata sang bapak langsung berbinar. "Mau banget, lah! Mau banget!" serunya penuh semangat. Jestham tersenyum dan memintanya mengikuti dari belakang.



Sesampainya di minimarket, Jestham memperkenalkan diri. "Namanya siapa, Pak?" "Agus," jawabnya. "Saya Jestham, Bapak. Salam kenal," ucap Jestham ramah. Lalu ia bertanya kebutuhan paling penting di rumah saat ini. "Yang intinya beras, lah, Bu. Di rumah masih ada beras sedikit," jawabnya malu-malu. Jestham segera mengarahkannya ke rak beras. "Silakan ambil, Pak. Ambil," katanya. Namun sang bapak hanya mengambil satu bungkus. Jestham heran, "Hah? Di rumah berapa orang?" "Anak tiga, istri satu. Istri satu, lah. Ha ha," jawabnya sambil tertawa kecil.



Jestham tersenyum dan mulai menambah stok beras. "Kalau begitu kita harus ambil stok ya. Kita ambil banyak, ya." Sang bapak kaget, "Banyak kali, itu dah!" Jestham menjawab santai, "Nggak papa, rezeki hari ini. Kalau rezeki itu harus disyukuri, Pak." Sang bapak mengucap syukur, "Alhamdulillah, alhamdulillah." Jestham terus memasukkannya telur, "Silakan ambil, Pak." Bapak Agus hanya mengambil dua butir. "Dua aja, Kak. Dua biji aja," katanya malu. Jestham menolak, "Janganlah, di rumah banyak orang. Dua biji, Bapak? Ayo tak ambilin lagi!"



Belanja berlanjut ke minyak goreng, gula, kopi, mi instan, sabun, dan roti. Jestham terus menambah barang meskipun Bapak Agus sudah berkali-kali mengatakan cukup. "Rezeki ya, Pak, hari ini," ucap Jestham sambil terus mengisi keranjang. Bapak Agus hanya bisa terpaku, tak percaya dengan apa yang terjadi. "Nggak pernah belanja sebanyak ini. Nggak pernah," gumamnya lirih. Saat melihat semua barang terkumpul, matanya mulai berkaca-kaca. "Terharu, lah, gitu. Masih ada orang baik. Rezeki, ya," ucapnya dengan suara bergetar.



Setelah semua barang dibayar, Jestham mengajak Bapak Agus mengobrol. Di sinilah ia baru menyadari betapa berat perjuangannya. "Kalau boleh tahu, Pak, udah dapat berapa orderan hari ini?" tanya Jestham. Bapak Agus menghela napas panjang. "Sekitar 35 ribu, atau 37.500. Dari pagi sampai ini, udah mau sore," jawabnya. Jestham terperangah. Hanya 35 ribu rupiah dari pagi hingga sore. "Dari pagi, Pak? Iya, dari pagi," ulangnya dengan pasrah. Jestham bertanya, "Apa sih yang paling sulit jadi seorang ayah?" "Ya untuk mencari, untuk menafkahi anak istri. Itu yang paling sulit," jawabnya dengan tatapan kosong.



Jestham bertanya apakah sudah makan. "Nanti sore, lah. Belum," jawabnya singkat. Ia juga menceritakan bahwa anak-anaknya sudah besar, namun ia belum bisa memberikan kebahagiaan yang layak. "Maafkan ayah yang selama ini belum bisa membahagiakan anak istri. Karena memang inilah yang bisa diusahakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Itupun ya kita udah bisa merasa bersyukur. Jangan berharap lebih dari ayah, karena memang inilah keadaannya," ucapnya dengan suara lirih. Jestham hanya bisa mendengar, merasakan getaran doa seorang ayah yang merindukan kebahagiaan untuk keluarganya.



Setiap hari, Bapak Agus keluar dari rumah jam setengah 7 pagi dan baru pulang jam 9 malam. Istrinya sudah resah menunggu, tapi ia tetap memaksakan diri demi keluarga. "Memang sulit ya, Pak, ya, kehidupan sekarang," kata Jestham. Bapak Agus mengangguk, "Tapi itu pun kita paksakan, Kak, untuk bisa usaha, supaya kita jangan minta-minta. Karena kita masih diberi kesehatan, tenaga, bisa usaha," ucapnya dengan semangat yang tak pernah padam. Jestham terharu mendengarnya. Ia memberikan uang tunai, "Pak, saya ada rezeki untuk nanti malam. Bapak bisa bawa keluarga pergi makan, boleh, Pak."



Bapak Agus menerimanya dengan tangan gemetar. "Alhamdulillah, makasih banyak. Alhamdulillah, ya Allah," ucapnya berulang kali. Jestham mendoakannya, "Bapak, saya doain sehat selalu, di mana pun berada. Titip salam sama orang rumah juga, ya." Bapak Agus membalas, "Kakak pun gitu juga. Sehat-sehat. Amin." Jestham tersenyum.



Kisah ini mengajarkan kita bahwa perjuangan seorang ayah tidak pernah terlihat dari luar. Rp35.000 dari pagi hingga sore, mengayuh becak di bawah terik matahari, menahan lapar, hanya demi anak dan istri di rumah. Namun di balik semua itu, ia tetap bersyukur dan tidak pernah mengeluh. Jestham mengingatkan bahwa kebaikan sederhana bisa menjadi pelipur lara bagi jiwa-jiwa yang lelah. Semoga setiap ayah di luar sana diberikan kekuatan, dan semoga kita semua lebih peka untuk melihat dan membantu mereka yang sedang berjuang.