Tangan Gemetar, Hati Bersyukur: Ketika Jestham Menemukan Ketulusan di Balik Kesederhanaan

Tangan Gemetar, Hati Bersyukur: Ketika Jestham Menemukan Ketulusan di Balik Kesederhanaan
Kota Medan, Sumatera Utara - (28/06/26) Ada kalanya kebahagiaan paling tulus justru lahir dari tangan-tangan yang paling gemetar. Itulah yang dirasakan Jestham ketika bertemu dengan seorang bapak becak di pinggir jalan. Begitu didekati, Jestham melihat tubuh bapak itu sedikit bergetar. Bukan karena dingin, tapi mungkin karena lelah dan lapar. "Sepi, Bu," jawabnya singkat saat ditanya soal orderan. Tanpa pikir panjang, Jestham mengajaknya ke minimarket terdekat. "Saya ada rezeki dari Tuhan. Belanja, mau nggak?" tawarnya disambut dengan senyuman tipis penuh harap.
Sesampainya di dalam toko, Jestham bertanya tentang kebutuhan pokok yang paling penting saat ini. Jawabannya langsung tegas dan polos, "Beras lah, Bu. Berasnya habis di rumah. Habis." Jestham pun segera mengarahkan sang bapak ke rak beras. "Sini, Pak. Silakan ambil, Pak. Ambil, Pak!" serunya semangat. Namun, bapak itu hanya mengambil empat bungkus beras. Jestham heran. "Udah 4 aja, Bu," katanya malu-malu. Jestham tersenyum, "4 aja? Nanti nggak papa, saya tambahin! Di rumah berapa orang?" Sang bapak menjawab ada dua anak. Jestham pun langsung menambah jatah berasnya tanpa ragu. "Saya tambahin ya, Pak. Biar cukup buat stok di rumah."
Bukan hanya beras, Jestham juga mempersilakan sang bapak mengambil telur, gula, minyak goreng, dan mi instan. "Saya ambilin lagi ya, Pak. Rezeki hari ini, Pak!" ucap Jestham sambil berlari kecil membantu mengambil barang-barang. Sang bapak hanya bisa tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca. "Alhamdulillahirobbilalamin. Alhamdulillah, bersyukurlah kepada Tuhan. Senang kali saya diberi rezeki hari ini," ucapnya lirih.

Setelah semua barang dibayar dan dimasukkan ke dalam tas, Jestham mengajak bapak itu mengobrol lebih dalam. Di sinilah ia baru menyadari betapa berat perjuangan seorang bapak becak di kota besar. "Udah makan belum, Pak?" tanya Jestham. "Belum makan malam, Bu. Tapi nggak papa lah. Ini kan udah bisa bawa pulang, itu kan udah cukup, kalau belum makan itu udah biasa," jawabnya polos. Jestham terkejut. "Bapaknya sampai bilang biasa loh, Pak." Sang bapak mengangguk. "Biasanya tukang becak biasa nggak papa, Bu. Namanya juga orang miskin, ya gitulah."
Pembicaraan berlanjut, dan Jestham mulai memahami keseharian sang bapak. Selain mengayuh becak, ternyata ia juga mengutip botol-botol bekas untuk dijual. Kadang ia menyewa becak, tidak punya becak sendiri. "Kadang-kadang ngutip botol juga, Bu," ucapnya malu-malu. Jestham bertanya berapa penghasilan hari itu. "Dapat 25 ribu, Bu. Dari pagi," jawabnya. Jestham terdiam. 25 ribu rupiah dari pagi hingga malam. Bahkan setelah membelanjakan uang untuk kebutuhan, hanya tersisa 13 ribu rupiah. Angka yang sangat kecil untuk seorang kepala keluarga yang harus menafkahi dua anak dan seorang istri di rumah.

Jestham tidak mau berhenti di situ. "Bapak belum makan nih. Saya ada rezeki dari Tuhan, saya mau belikan makanan. Izin boleh ya, Pak?" Sang bapak mengangguk pelan, tak kuasa menolak kebaikan yang terus mengalir. Jestham bertanya, "Pengen makan apa, Pak?" Dengan raut wajah berseri, sang bapak menjawab, "Mudah-mudahan ayam lah, Bu. Ayam atau ikan." Jestham pun segera memberikan tambahan uang tunai untuk bisa digunakan membeli makanan. Tangannya yang gemetar menerima uang itu dengan penuh syukur. "Makasih banyak ya, Bu," ucapnya dengan suara bergetar. Jestham tersenyum, "Sama-sama, Pak. Tangannya kok dingin kali, Pak?" Sang bapak hanya tersenyum, "Nggak papa lah, Bu."
Sebelum berpisah, Jestham memberikan doa yang tulus. "Pak, semoga berkah apa yang kita belanjakan hari ini. Berkah untuk keluarga juga. Titip salam sama anak-anak bapak yang ada di rumah, sama istri juga. Bapaknya sehat, saya doakan ya. Semoga besok orderan becaknya rame, botol-botol terkumpulnya banyak. Amin," doa Jestham dengan penuh harap. Sang bapak mengangguk, matanya basah oleh haru. "Alhamdulillah, Bu. Syukur kali. Alhamdulillah rezekinya saya diterima," ucapnya dengan senyuman yang sulit dilupakan. Mereka pun berpamitan dengan hangat, meninggalkan jejak kebaikan yang tak ternilai.
Kisah ini mengajarkan kita bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu diukur dari seberapa banyak yang kita miliki, tapi seberapa besar kita mampu bersyukur atas apa yang ada. Tangan yang gemetar karena kelelahan namun tetap mengucap syukur, itulah gambaran ketulusan yang sesungguhnya. Jestham mengingatkan bahwa setiap pertemuan bisa menjadi berkah jika kita mau peduli. Dan di balik setiap senyuman sederhana, tersimpan kekuatan yang luar biasa untuk terus berjuang. Semoga kita semua selalu diberi kepekaan untuk melihat dan berbagi dengan sesama. Indah, ceria, canda tawa, itulah kehidupan yang penuh makna ketika kita saling menguatkan.







