Part 2: Abang Indomaret 23 Tahun, 30 Detik yang Menyimpan Cerita di Balik Senyumnya

Part 2: Abang Indomaret 23 Tahun, 30 Detik yang Menyimpan Cerita di Balik Senyumnya
Kota Medan, Sumatera Utara - (21/01/26) Setelah aksi kakak pertama yang sukses membuat haru, kini giliran Abang Indomaret yang siap menunjukkan kebolehannya. Masih dengan tantangan yang sama, 30 detik belanja sembako sepuasnya bersama Jestham. Penasaran bagaimana seorang Abang kasir yang tampak kalem ini akan beraksi? Dijamin keseruannya tidak kalah, bahkan ada kejutan emosional yang siap menggetarkan hati. Yuk, kita saksikan bersama!
Sebelum memulai, Jestham sempat berbincang ringan. "Udah semangat, Bang?" tanyanya. "Udah, udah semangat!" jawab sang Abang dengan senyum penuh percaya diri. Beras, minyak, telur, dan Indomie sudah masuk dalam daftar incaran utama. Begitu aba-aba "1, 2, 3, mulai!" diberikan, Ia langsung bergerak cepat. Tangannya cekatan mengambil barang, matanya awas mencari sasaran berikutnya.

Suasana Indomaret pun langsung ramai oleh teriakan tim Jestham yang memberi kode. "Telur, Bang! Ambil telur! Indomie, Bang, Indomie!" Si Abang yang mulai berkeringat tetap fokus mengejar waktu yang terus berdetak. Beberapa kali sempat salah ambil, tapi segera dikoreksi oleh teriakan teman-temannya. Tegang? Pasti. Apalagi saat detik-detik terakhir, barang masih menumpuk di tangan dan keranjang mulai penuh. Begitu waktu habis, napasnya memburu tapi senyumnya merekah lebar. "Senang, Bang? Bahagia kali ya?" tanya Jestham. "Senang, baru pertama kali nih," jawabnya polos.

Setelah puas melihat hasil belanjaan yang lumayan banyak, Jestham mengajaknya ngobrol lebih dalam. Ternyata Abang ini baru berusia 23 tahun dan masih lajang. "Anak tunggal, tinggal sama mama. Bapak udah... pisah," ceritanya sedikit terbata. Jestham yang mulai menangkap ada sesuatu di balik ucapan itu, mencoba menggali lebih lanjut. Dari situlah keluar cerita yang membuat semua orang tertegun.
"Bapak ninggalin kita, ikut dengan orang lain, sudah 5 tahun lebih. Lebih milih orang lain daripada kami," ungkapnya pelan. Bisa dibayangkan bagaimana perasaannya sebagai seorang anak yang ditinggal begitu saja? Namun yang membuat salut, Ia tidak pernah menyalahkan keadaan. Justru kini Ia menjadi tulang punggung satu-satunya bagi ibunya. "Yang menghidupi mama cuma saya sendiri. Kalau untuk diri sendiri masih bisa dicari, tapi untuk mama, kasih aja semuanya."
Jestham yang sudah mulai terharu bertanya, "Kalau Bapak nonton video ini, apa yang ingin kamu sampaikan?" Dengan hati yang luar biasa lapang, Abang ini menjawab, "Sehat-sehat saja mereka. Yang terbaik untuk mereka. Di sini kami sudah baik-baik saja kok jalannya." Sungguh ketegaran yang mengagumkan. Meski ditinggal, Ia tetap mendoakan yang terbaik untuk sang ayah.
Ketika ditanya apa yang menjadi penyemangat hidupnya, jawabannya sederhana namun dalam, "Karena ingat mama. Cuma mama yang aku punya sekarang." Prinsip hidupnya pun sangat sederhana, apa pun yang halal untuk makan, dikerjakan saja. Yang penting badan sehat agar bisa terus bekerja untuk ibu. Di usia 23 tahun, pundaknya memang memikul beban berat, namun senyumnya tak pernah pudar. Jestham pun menutup perbincangan dengan pesan yang menyentuh, bahwa manusia boleh mengecewakan, tapi Tuhan tidak pernah. Abang ini hanya mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca namun penuh rasa syukur.

Tiga puluh detik belanja yang awalnya hanya sebuah permainan, berubah menjadi momen istimewa baginya. Bukan sekadar soal sembako gratis, tapi tentang didengar, dipahami, dan diberi semangat. Masih ada dua kakak Indomaret lain yang menanti giliran dengan kisahnya masing-masing. Pastikan tidak ketinggalan, karena cerita selanjutnya dijamin tidak kalah mengharukan!







