Kebaikan Kecil, Dampak Besar: Air Mata Ibu Kurir yang Berjuang Demi Ujian Anak

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: tiktok/@jesicathamrin
Sumber: tiktok/@jesicathamrin

Kebaikan Kecil, Dampak Besar: Air Mata Ibu Kurir yang Berjuang Demi Ujian Anak

Kota Medan, Sumatera Utara - (21/04/26) Di depan halaman sebuah minimarket, seorang perempuan berseragam kurir makanan tampak terduduk lemas, menyendiri di antara hiruk-pikuk kendaraan yang berlalu-lalang. Raut wajahnya yang sembab dan pandangan matanya yang kosong langsung menarik perhatian Jestham dan tim. Ada sesuatu yang berbeda dari sosok ibu ini, bukan kelelahan fisik semata, melainkan beban berat yang tampak jelas terpancar dari sorot matanya. Tanpa ragu, Jestham pun mendekati dan menyapa ibu tersebut.



Percakapan awal berjalan biasa, sang ibu mengaku sedang menunggu orderan dan belum sempat mengisi perut sejak pagi. Namun tak lama kemudian, dinding ketegarannya perlahan runtuh. Air matanya mulai menetes ketika ia menceritakan masalah sebenarnya. "Anak nunggak belum bayar uang sekolah, enggak dikasih ujian, kelas 3 SMA, Ci," ujarnya terbata-bata, suaranya bergetar menahan isak. Jestham yang mendengar langsung tersentuh, ikut merasakan betapa beban sebesar itu menghimpit pundaknya.



Ternyata, tunggakan SPP anak semata wayangnya mencapai lebih dari Rp2.000.000, sebuah angka yang sangat besar bagi seorang driver ojol. Ia mengaku bingung karena uang yang baru terkumpul hanya sekitar Rp300.000, sementara teman-teman anaknya sudah lebih dulu mengikuti ujian. "Saya cari kesana-kesini juga masih belum dapat," lanjutnya lirih. Belum lagi, motor yang ia tumpangi sehari-hari ternyata adalah motor sewaan, sehingga penghasilan tipisnya harus dibagi untuk biaya sekolah keempat anak, biaya sewa motor, dan kebutuhan dapur sehari-hari.



Tak ingin larut dalam kesedihan terlalu lama, Jestham segera menggandeng sang ibu masuk ke dalam minimarket. "Kakak tenang dulu aja, mana tahu belanja ini bisa berkah buat keluarga, amin yaa?" ujarnya dengan senyum menenangkan. Jestham lalu memberikan sebuah tantangan unik yang ia sebut sebagai "rezeki dari Tuhan." Kesempatan belanja sembako sepuasnya selama dua menit penuh. Waktu pun mulai terhitung mundur, dan mereka segera berlarian di antara rak-rak.



Dua menit itu diisi dengan aksi heboh dan penuh tawa, berlawanan dengan suasana haru sebelumnya. Mereka mengumpulkan beras, telur, Indomie, minyak goreng, sabun, kopi, roti, hingga camilan untuk anak-anak di rumah. Jestham berteriak bersemangat, "Jangan pulang kalau nggak banyak!" sambil terus membantu mengisi keranjang baru yang hampir penuh.



Namun setelah euforia belanja usai, pintu hati sang ibu kembali terbuka. Saat Jestham bertanya apa kesulitan paling mendalam yang ia rasakan, jawaban singkat namun menusuk kalbu pun keluar. "Nggak bisa nyenengin anak," ujarnya dengan raut mata yang sangat sedih. Ia mengaku sering merasa menjadi orang tua yang gagal, takut anak-anaknya malu memiliki ibu dan ayah yang berprofesi sebagai ojol. "Paling engga saya bisa beli beras sekilo ke rumah," tuturnya lirih, menggambarkan betapa kecil keinginannya namun terasa begitu berat untuk diwujudkan.



Di balik kesedihannya, rasa syukur tetap ia pancarkan. "Tapi ini alhamdulillah rezeki, bisa dapat dari Cici, segitu banyaknya rasanya senang banget," katanya dengan senyum yang tak pernah pudar. Jestham yang terenyuh mendengar semua itu pun tak berhenti sampai di situ. Ia mengulurkan bantuan tambahan berupa uang tunai untuk membantu melunasi SPP anaknya. "Ini nggak banyak sih sebenarnya, tapi saya berharap bisa bantu," ucapnya sambil menyerahkan beberapa lembar uang. Ibu itu langsung bersimpuh dalam sujud syukur, tangis haru dan doa-doa tulus mengalir deras untuk kebaikan Jestham.



Di sela isaknya, sang ibu meninggalkan pesan untuk anak-anaknya di rumah. "Nak, hari ini kita dapet rezeki dari Allah melalui Cici Jestham, mudah-mudahan ini bisa membantu buat bayar uang sekolah. Nanti sudah tamat jadi anak yang sukses ya nak, semangat ya nak. Jangan malu punya orang tua kayak mama dan ayah, kami berjuang untuk kalian semua," pesannya dengan suara bergetar. Sebuah kalimat yang begitu dalam, membuat siapa pun yang mendengarnya ikut merasakan pilunya hati seorang ibu.



Melihat kekhawatiran sang ibu, Jestham segera menenangkan dengan penuh keyakinan. "Saya yakin semua anak-anak bangga memiliki orang tua seperti Kakak. Banyak orang tua yang acuh tak acuh terhadap anak, tapi kakak tetap bertanggung jawab pagi sampai malam. Luar biasa loh seorang ibu," tegasnya. Kalimat penegasan itu seolah menjadi pelepas dahaga, membuat sang ibu mengangkat kepalanya dengan lebih percaya diri. "Saya ibu yang luar biasa, yang berjuang untuk anak, untuk membesarkan anak, semoga kalian semua bangga punya orang tua seperti kami," ulangnya dengan air mata yang kini berubah menjadi air mata kebanggaan.



Sebelum berpisah, Jestham kembali memberikan ongkos tambahan untuk membawa belanjaan pulang ke rumah, sekaligus menjadi akhir dari pertemuan penuh makna itu.



Di balik seragam ojol yang biasa kita lihat berlalu-lalang, terkadang tersembunyi perjuangan hidup yang tak terbayangkan. Air mata yang tumpah bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti betapa besar cinta seorang ibu kepada anak-anaknya. Pertemuan Jestham dengan ibu ojol tersebut mengingatkan kita bahwa menjadi orang tua yang bertanggung jawab adalah sebuah kemuliaan, apa pun profesinya. Mari kita lebih peka terhadap sesama, karena siapa tahu, uluran tangan kecil kita hari ini adalah jawaban doa yang mereka panjatkan malam tadi.