Kisir Kisah Jestham dan Bapak Penjual Balon: Sepasang Tongkat, Seikat Harapan

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: youtube/@ownerjestham
Sumber: youtube/@ownerjestham

Kisir Kisah Jestham dan Bapak Penjual Balon: Sepasang Tongkat, Seikat Harapan

Kota Medan, Sumatera Utara - (23/12/25) Di pinggir jalan yang ramai, Jestham bertemu dengan seorang Bapak paruh baya yang sedang berjualan balon. Hal yang menarik perhatian adalah Bapak ini berjualan sambil bertumpu pada tongkat. Kakinya tampak bengkak dan terasa sakit. Meskipun demikian, Ia tetap semangat menjajakan balonnya kepada setiap orang yang melintas.



Jestham mendekat dan bertanya, "Berapa, Pak, balon yang satu ini?" Bapak itu menjawab, "Rp15.000." Jestham kemudian bertanya mengenai kondisi kaki Bapak yang bengkak. Ternyata keluhan ini sudah lama Ia rasakan. "Sudah berobat, tetapi belum mempan. Kadang terasa panas, seperti ada yang menarik," jelasnya. Meskipun dalam keadaan sakit, Ia tetap memaksakan diri untuk berjualan.



Setiap harinya, Bapak ini hanya mampu menjual tiga sampai lima balon. Penghasilannya sangat pas-pasan. Bahkan, saat Jestham bertanya berapa balon yang sudah terjual hari itu, Ia menjawab, "Baru tiga." Lokasi jualannya yang kurang strategis membuatnya sepi pembeli. Namun Ia tetap sabar dan bertahan tanpa mengeluh.



Jestham kemudian membeli satu balon. Setelah membayar, Ia memberikan sejumlah uang lebih sambil berkata, "Pak, ini tambahan untuk Bapak berobat ya. Semoga cepat sembuh." Bapak itu terlihat terkejut dan terharu. "Murah rezeki, ya Bu," ucapnya dengan suara bergetar. Jestham hanya tersenyum dan mendoakan agar Bapak tersebut selalu diberikan kesehatan.



Momen sederhana ini menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak harus dilakukan dalam skala besar. Cukup dengan peka dan mau berbagi. Jestham tidak hanya membeli balon, tetapi juga memberikan perhatian yang tulus. Hal kecil seperti itu ternyata sangat berarti bagi Bapak penjual balon tersebut.



Bapak ini adalah contoh nyata seseorang yang tidak mudah menyerah. Meskipun menderita sakit dan penghasilannya sangat terbatas, Ia tetap berusaha. Ia tidak mengeluh dan tidak meminta-minta. Ia hanya terus berjualan, menunggu pembeli datang satu per satu dengan kesabaran yang luar biasa.



Semoga cerita ini dapat membuat kita lebih peka terhadap sesama. Terkadang, yang dibutuhkan oleh orang-orang di sekitar kita bukan hanya materi, tetapi juga rasa peduli dan penghargaan. Jestham telah menunjukkan hal tersebut. Kini, giliran kita untuk dapat melakukan kebaikan serupa dengan cara masing-masing.