Rezeki Ramadhan untuk Seorang Ayah Pengemudi Bajaj

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: tiktok/@jesicathamrin
Sumber: tiktok/@jesicathamrin

Rezeki Ramadan untuk Seorang Ayah Pengemudi Bajaj

Kota Medan, Sumatera Utara - (16/04/26) Bulan Ramadhan selalu membawa berkah tersendiri bagi setiap orang. Tak terkecuali bagi seorang Bapak pengemudi bajaj yang menjadi bagian dari sebuah momen spesial dalam sebuah konten berbagi di bulan penuh ampunan ini. Dalam sebuah pertemuannya dengan Jestham yang menyentuh hati, seorang Bapak paruh baya diberi kesempatan untuk berbelanja secara gratis selama dua menit penuh di sebuah toko. Tawaran yang sederhana namun berdampak luar biasa bagi kehidupannya sehari-hari.



Saat diberikan kesempatan untuk berbelanja, raut wajah Bapak ini langsung berubah. Tubuhnya terlihat gemetar, bukan karena takut atau dingin, melainkan karena rasa haru dan bahagia yang tak bisa disembunyikan. Dengan durasi waktu hanya dua menit, ia langsung bergerak cepat mengisi keranjang belanjaannya dibantu dengan Jestham yang bergerak cepat memenuhi keranjang berisi kebutuhan pokok rumah tangga.



Beras, minyak goreng, gula, dan telur menjadi prioritas utamanya. Ketika ditanya tentang kebutuhan rumah yang paling penting, ia menjawab singkat, "Beras, minyak". Sebagai seorang ayah yang harus menghidupi lima orang di rumah, ia tahu betul apa yang paling dibutuhkan keluarganya. Indomie dan telur juga tak luput dari keranjang belanjanya, menunjukkan bahwa makanan sederhana namun mengenyangkan adalah yang utama baginya.



Di balik kegembiraannya, tersimpan cerita perjuangan yang mengharukan. Bapak ini adalah tulang punggung keluarga dengan lima orang di rumah yang hanya mengandalkan penghasilannya sebagai pengemudi bajaj. "Ibu nggak kerja, cuma saya bawa bajaj itu aja," ujarnya dengan polos. Sehari-hari, penghasilannya sebagai tukang bajaj sangat bergantung pada orderan yang masuk. Ketika sepi, ia harus rela tidak bisa membawa pulang makanan yang diinginkan anak-anaknya.



Saat ditanya tentang kesulitan menjadi seorang ayah, mata Bapak ini berkaca-kaca. "Kenapa kok sedih pak bicara soal anak-anak?" tanya Jestham. "Kita kan harus tanggung-jawab," ucapnya terbata. Ia mengaku seringkali ingin membawakan kue-kue seperti bika ambon untuk anak-anaknya, tapi terkendala kondisi keuangan. Namun di balik kesedihannya, ia tetap menyimpan harapan besar, "Jangan anak seperti kita juga nanti, kalau bisa anak lebih baik hidupnya daripada kita". Sebuah doa sederhana yang pasti terucap dari setiap orang tua di dunia.



"Pas kebetulan juga beras habis memang rezeki banget ya bapak," Sahut dari Jestham yang terenyuh. Ia pun mengangguk dengan penuh syukur, "iya rezeki Ramadhan". Tepat di bulan suci ini, rezeki datang menghampiri saat sangat dibutuhkan. Setelah selesai berbelanja, dengan penuh syukur ia mengucapkan "Alhamdulillah" dan berterima kasih kepada Jestham yang telah memberinya kesempatan ini, menjadikannnya sebagai perantara rezeki dari tangan Tuhan.



Bagi seorang Bapak pengemudi bajaj, kesempatan untuk berbelanja kebutuhan pokok selama dua menit saja sudah cukup membuatnya gemetar haru dan meneteskan air mata. Ia mengaku seumur hidupnya baru pertama kali mendapatkan kesempatan seperti ini. Kesempatan sederhana yang Jestham bagikan ini memberikan dampak yang luar biasa bagi mereka yang membutuhkan. Meski hanya dua menit, baginya itu adalah momen yang tak ternilai, bisa membawa pulang makanan untuk keluarganya di bulan Ramadhan yang penuh berkah.



Kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa masih banyak saudara kita yang berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Seorang ayah dengan segala keterbatasannya tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarganya. Mari jadikan momen ini sebagai pengingat bahwa sekecil apa pun uluran tangan kita, akan selalu berarti besar bagi mereka yang sedang berjuang.