Jestham Kembali dengan "Jestham Traktir", Bawa Kebahagiaan untuk Keluarga Ojol Penuh Tanggung Jawab

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: youtube/@ownerjestham
Sumber: youtube/@ownerjestham

Jestham Kembali dengan "Jestham Traktir", Bawa Kebahagiaan untuk Keluarga Ojol Penuh Tanggung Jawab

Kota Medan, Sumatera Utara - (28/12/25) Jestham hadir lagi dengan aksi "Jestham Traktir" yang seru. Kali ini, seorang Bapak driver ojol yang setiap hari berjuang menghidupi keluarganya, mendapat tantangan tak terduga. Bayangkan, Ia diberi kesempatan belanja gratis sebanyak-banyaknya, tapi cuma dalam waktu dua menit! Langsung semangat, apalagi demi bisa memberi kejutan untuk istri dan anak tercinta.



Aksi dimulai dengan percakapan hangat di pinggir jalan. Jestham mendatangi Bapak yang bernama Ramadan itu dan menawarkan “rezeki dari Tuhan," belanja sepuasnya dalam dua menit. Dengan sedikit rasa tak percaya dan senyum sumringah, Bapak Ramadan menyanggupi. Di dalam toko, sebelum start, Ia menyebutkan kebutuhan paling mendesak seperti beras, minyak, dan pampers. Rupanya, Ia memiliki seorang anak balita. Jestham pun memberi semangat, “Harus cepat-cepat biar kita ngambilnya banyak!” menambah tensi sekaligus tawa.



“Satu, dua, tiga… mulai!” Detik-detik dua menit itu berlangsung sangat intens dan penuh gelak tawa. Dengan panik namun gembira, Bapak Ramadan berlarian mengambil barang. Beras, minyak, telur, dan pampers menjadi target utama. Jestham dan tim berteriak memberi arahan, “Cepat Bang!”, “Itu pampers!”, “Deterjen di ujung!” Suasana gaduh dan heboh saat Ramadan berusaha memaksimalkan waktu yang singkat itu benar-benar menghibur dan mengundang senyum.



Setelah waktu habis, Bapak Ramadan tampak kelelahan namun wajahnya berseri. Ia mengaku tidak menyangka akan mendapat rezeki tak terduga seperti ini. Saat berbincang lebih dalam, cerita perjuangan hidupnya perlahan terungkap. Bapak Ramadan adalah seorang ayah dengan tanggung jawab besar. Anak semata wayangnya yang berusia dua tahun sedang sakit dan telah dua minggu dalam kondisi tidak fit. Sebagai kepala keluarga, Ia merasa tekanan terberat adalah tanggung jawab untuk selalu bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga.



Ia juga bercerita bahwa dirinya sudah sekitar satu setengah tahun tidak bekerja tetap karena harus membantu mengurus anak, dan istrinya tidak bisa sendirian. Saat ini, Ia bekerja sebagai driver ojol dengan penghasilan yang sangat bergantung pada pesanan, sering hingga larut malam. Kekhawatiran terbesarnya adalah biaya berobat anaknya. “Pengen juga sih nanya-nanya lagi bawa berobat. Kenapa anak saya 3 hari ini dia udah 2 minggu sakit-sakit,” ujarnya dengan raut haru.



Mendengar cerita tersebut, Jestham tidak hanya memberikan barang belanjaan, tetapi juga memberikan bantuan tambahan berupa sejumlah uang. “Mana tahu ini Bapak mau gunakan untuk berobat anak,” ujar Jestham dengan tulus. Bapak Ramadan pun tak kuasa menahan haru. Ia bingung mencari kata-kata untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya, sambil berujar bahwa sebagai perantau di Medan, orang sering mengira Ia baik-baik saja, padahal perjuangan hidupnya tidak mudah.



Jestham Traktir kali ini benar-benar menyentuh hati. Perpaduan antara momen lucu dan gaduh saat belanja dua menit, dengan momen haru dan berbobot saat mendengarkan pengabdian seorang ayah, menciptakan alur kisah yang sempurna. Kita diajak tersenyum melihat semangat Bapak Ramadan, sekaligus terharu menyaksikan ketulusan dan tanggung jawabnya yang besar. Aksi sederhana ini bukan sekadar traktiran, tapi suntikan semangat dan pertolongan nyata di saat yang tepat.



Kisah perjuangan Bapak Ramadan ini adalah cermin ketabahan banyak orang tua di luar sana. Di balik kesibukan mencari nafkah, ada tanggung jawab besar dan harap untuk keluarga yang tersayang. Aksi Jestham Traktir ini bukan sekadar memberi bantuan materi, tetapi juga menjadi pengingat akan kehadiran rezeki dan kebaikan di tengah perjuangan. Semoga cerita sederhana ini dapat menyentuh hati dan menginspirasi kita semua untuk senantiasa bersyukur serta peduli terhadap sesama. Karena dalam setiap perjuangan, selalu ada ruang untuk harapan dan kebahagiaan.