Jestham Borong Pecel Nenek 69 Tahun, Sang Nenek Curhat Impian ke Makkah hingga Sempat Menangis karena Tak Bisa Jualan

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: youtube/@ownerjestham
Sumber: youtube/@ownerjestham

Jestham Borong Pecel Nenek 69 Tahun, Sang Nenek Curhat Impian ke Makkah hingga Sempat Menangis karena Tak Bisa Jualan

Kota Medan, Sumatera Utara - Di usia 69 tahun, seorang nenek masih gigih menjajakan pecel keliling demi mewujudkan impiannya pergi ke Makkah. Impian itu nyaris tak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Namun, pertemuannya dengan Jestham di pinggir jalan membuat kisah perjuangan nenek tersebut akhirnya terungkap.



Awalnya, Jestham menanyakan dagangan yang dijual sang nenek. "Jualan apa, Nek? Pecel," tanya Jestham. "Berapa seporsi?" tanya Jestham lagi. "Kalau pakai pincuk Rp7.000, Rp6.000. Kalau bungkus Rp10.000," jawab nenek itu. Jestham pun langsung menawarkan untuk memborong semua dagangan. "Nek, saya bungkus borong ini boleh semua?" tanya Jestham. "Boleh," jawab nenek itu.



Jestham juga meminta tambahan tempe dan getuk. "Sama ini tempenya. Sama ini juga getuknya juga boleh," kata Jestham. "Soalnya anak saya suka banget makan tempe, Nek," ujarnya. Nenek itu pun tampak senang dan langsung menyiapkan pesanan.



Setelah dihitung, totalnya mencapai Rp40.000, dan nenek itu bahkan memberikan bonus satu. "Baik banget neneknya, dikasih bonus satu," kata Jestham.



Jestham kemudian mengajak nenek itu berbincang. Ia menanyakan sampai jam berapa nenek biasanya pulang. Nenek itu mengaku pulang sekitar jam 7 atau jam 8 malam. Jestham juga bertanya apakah semua dagangan dibuat sendiri. "Iya, semua buat sendiri," jawab nenek itu.



Nenek itu kemudian menceritakan bahwa ia memiliki lima anak, namun kini tinggal berdua dengan anak paling kecil. "Bapak sudah meninggal sudah lama," ujarnya. Anak paling kecilnya sudah menikah dan memiliki dua anak kembar. Meski begitu, nenek itu tetap semangat berjualan.



Saat ditanya untuk siapa ia semangat berjualan, nenek itu mengungkapkan keinginannya untuk pergi ke Makkah. "Penginnya pergi ke Makkah," ucapnya. Ia pun menabung setiap hari, dikumpulkan selama satu bulan baru disetorkan. Jestham pun terkejut ketika nenek itu mengaku sudah mengumpulkan Rp25 juta untuk kepergiannya ke Makkah.



"Kenapa kok sedih, Nek?" tanya Jestham. Nenek itu mengaku beberapa hari kemarin sakit sehingga tidak bisa berjualan, dan ia khawatir dengan setorannya. "Berapa hari kemarin sakit, enggak bisa jualan, mikirin waktu setoran," ujarnya.


Jestham saat membeli dan memborong dagangan pecel milik nenek berusia 69 tahun yang gigih mencari nafkah.
Jestham saat membeli dan memborong dagangan pecel milik nenek berusia 69 tahun yang gigih mencari nafkah.

Jestham pun memberikan total pembayaran dengan harga yang lebih tinggi dari seharusnya. "Hari ini rezeki ya, Nek ya. Bisa jumpa ya, Nek ya," kata Jestham. Nenek itu pun mendoakan Jestham. "Sehat-sehat ya. Bisa nolong orang," ucapnya. Jestham kemudian memperkenalkan diri saat nenek itu bertanya siapa namanya. "Jesica Thamrin. Dipanggilnya Jestham." jawabnya. "Nanti kalau habis salat disebut namanya," kata nenek itu. "Oh, sebut namanya. Terima kasih, Nenek. Saya permisi ya, Nek ya. Semoga laris manis ya," tutup Jestham.



Aksi kebaikan ini kembali menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap sesama, terutama kepada para orang tua yang tetap gigih berjuang di usia senja, bisa membawa kebahagiaan dan harapan baru. (22/10/26)


Suasana hangat saat Jestham berpamitan kepada nenek penjual pecel usai memborong seluruh dagangannya.
Suasana hangat saat Jestham berpamitan kepada nenek penjual pecel usai memborong seluruh dagangannya.