Borong Tisu Koran Seorang Ibu: Tawar-Menawar Hangat yang Berujung Haru

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: youtube/@ownerjestham
Sumber: youtube/@ownerjestham

Borong Tisu Koran Seorang Ibu: Tawar-Menawar Hangat yang Berujung Haru

Kota Medan, Sumatera Utara - (20/08/26) Lampu merah atau jalanan yang ramai memang sering menjadi tempat pertemuan tak terduga. Kali ini, Jestham bertemu dengan seorang ibu yang sedang menjajakan tisu koran. Dengan ramah, Jestham menyapa, "Halo, apa kabar? Sehat? Sudah sarapan?" Ibu itu tersenyum dan menjawab seadanya. Jestham pun melihat dagangan yang dibawa ibu tersebut. "Jualan apa nih?" tanya Jestham. "Tisu, koran," jawab ibu itu singkat. "Tisu koran berapa?" "Satu Rp5.000," ujarnya.



Jestham tampak tertarik. Ia pun mulai menghitung koran yang ada. "Ini saya beli ya," ucapnya sambil mengambil satu per satu. Ibu itu membantu menghitung, "Dua, empat, enam, delapan, dua belas, empat belas, delapan belas, dua puluh." Ternyata ada 20 koran dengan harga Rp5.000 per biji. "Itu tisunya tiga lagi," ujar ibu itu. Jestham langsung menyahut, "Ada? Ya udah, ini tiga tisunya saya beli juga ya." Ibu itu mengangguk, "Boleh, boleh."



Setelah semua tisu dan koran dikumpulkan, Jestham menghitung totalnya. "Satu biji tadi berapa? Rp25.000 ya?" tanyanya memastikan. Ibu itu mengangguk. "Ininya ada berapa tadi? Rp5.000 ada berapa? Dua puluh berarti Rp100.000." Jestham lalu menyimpulkan, "Iya berarti totalnya Rp200.000. Saya kan sudah borong gini banyak, Bu. Enggak diskon sedikit?" Ibu itu menjelaskan bahwa ia mengambil barang dagangannya dari tempat lain, bahkan harus naik ojek.



Namun Jestham terus mencoba dengan lembut, "Saya pengen banget tawar. Boleh ya?" Ibu itu akhirnya melunak, "Bolehlah, boleh." Jestham pun berkata, "Saya tawarnya segini ya." Ibu itu hanya bisa mengucap syukur, melihat uang yang diberikan melebihi harga yang sudah dihitung. Setelah transaksi selesai, ibu itu tak kuasa menahan haru. "Ibu terharu aku, Bu," ucapnya dengan suara bergetar. Melihat itu, Jestham mengingatkan dengan lembut, "Ibu jangan lupa sarapan ya."



Diketahui sang Ibu berjuang untuk bisa membayar sewa rumah, Jestham pun tak hanya membeli tisu dan koran tapi juga memberikan tambahan untuk membantu ibu tersebut. "Saya tambahkan sedikit ya," ucapnya tulus. Ibu itu menerimanya dengan penuh syukur. "Makasih banyaklah, Bu. Mudah-mudahan masih banyak lagi rezekinya," ujarnya penuh harap. Jestham hanya tersenyum, "Iya, sama-sama."



Ada satu hal yang membuat momen ini semakin istimewa. Jestham ternyata tidak mengambil semua koran yang sudah ia borong. "Saya ambil satu aja ya. Sisanya boleh Ibu jual lagi. Enggak apa-apa," ucapnya. Ibu itu terkejut, "Enggak apa-apa?" Jestham meyakinkan, "Enggak apa-apa. Saya enggak bisa baca semua." Ia sengaja menyisakan dagangan itu agar ibu tersebut masih bisa menjualnya kembali. Kebaikan yang tidak hanya memberi, tapi juga memberdayakan.



Sebelum berpisah, Jestham mengucapkan pamit dengan penuh kehangatan. "Makasih ya, Bu. Sehat-sehat ya, Ibu ya. Permisi, Ibu." Ibu itu membalas dengan doa yang tak kalah tulus, "Makasih banyaklah, Bu. Mudah-mudahan murah rezeki." Jestham tersenyum dan melambaikan tangan, "Permisi ya, Ibu."



Pertemuan singkat di jalanan itu membuktikan bahwa kebaikan tidak selalu harus berupa hal besar. Jestham kembali menunjukkan bahwa kepedulian bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Dan yang paling indah, kebaikan itu tidak berhenti pada satu orang, tapi terus mengalir dan berlipat ganda.