26 Tahun Mengayuh Becak, 15 Ribu dari Pagi: Air Mata Syukur Seorang Ayah yang Tak Pernah Mengeluh

26 Tahun Mengayuh Becak, 15 Ribu dari Pagi: Air Mata Syukur Seorang Ayah yang Tak Pernah Mengeluh
Kota Medan, Sumatera Utara - (17/08/26) Ada pertemuan yang mengingatkan kita betapa kerasnya perjuangan sebagian orang, yang tak pernah terlihat oleh mata. Itulah yang dirasakan Jestham ketika melihat seorang bapak becak duduk termenung di pinggir jalan. "Hai Bapak, lagi ngapain?" sapa Jestham lembut. "Lagi nunggu sewa, Bu," jawabnya singkat. "Ada orderan?" tanya Jestham. "Nggak ada. Sepi," ujarnya lirih. Lalu, dengan suara yang hampir tak terdengar, ia berkata, "Kadang apa saya cuma lima belas ribu uang saya dari pagi sampai sekarang." Jestham terperangah. "Hah? Dari pagi?" Bapak itu hanya bisa menunjukkan lembaran uang di tangannya. Rp15.000, dari pagi hingga malam.

Jestham pun menawarkan sesuatu yang tak pernah disangka bapak itu. "Bapak, saya ada rezeki dari Tuhan. Kita belanja sembako sepuasnya, mau nggak?" Mata bapak itu langsung berbinar. "Mau. Mau," jawabnya cepat. Jestham memintanya mengikuti mobilnya menuju Indomaret terdekat. Sesampainya di sana, Jestham bertanya, "Menurut Bapak, kebutuhan rumah paling penting saat ini apa?" Dengan suara bergetar, bapak itu menjawab, "Beras, Bu. Gula, minyak. Pendapatan kita istilahnya nggak mencukupi tiap hari. Dari jam tujuh pagi saya kerja sampai malam, kadang dapat dua puluh lima ribu." Jestham terdiam. Betapa berat perjuangan seorang bapak yang hanya mengandalkan becak untuk menghidupi keluarganya.
Jestham mempersilakan bapak itu mengambil beras sepuasnya. "Berapa, Bu, ambilnya?" tanyanya ragu. "Terserah Bapak, ambil sepuasnya. Berapa Bapak rasa cukup?" jawab Jestham. Bapak itu hanya mengambil satu bungkus. "Cukuplah ini," ujarnya. Jestham tersenyum, "Cukup ya? Saya tambahin lagi ya, Pak, biar stok di rumah. Berapa orang di rumah, Pak?" "Lima, Bu," jawabnya. "Lima? Banyak ya. Wah, kita ambilin." Jestham pun terus menambahkan beras, minyak, gula, mi instan, sabun, kopi, roti, dan telur ke dalam keranjang. Setiap kali bapak itu berkata "Cukup", Jestham selalu menambahkan lagi.
Di tengah belanja, Jestham memperhatikan sesuatu. Tangan bapak itu gemetar hebat. "Kenapa kok gemetar, Bapaknya?" tanya Jestham lembut. "Iya, Bu. Baru ini saya dapat seperti ini," jawabnya dengan suara parau. "Rezeki ya, Pak, ya. Sampai gemetar tangan Bapaknya," ujar Jestham. Bapak itu hanya bisa mengangguk. "Gemetaran," ucapnya pelan. Jestham terus meyakinkan, "Nggak apa-apa, Pak. Ambil lagi. Di rumah lima orang, jadi kita harus ambil lebih banyak ya, biar stok di rumah." Setiap barang yang masuk ke keranjang, disambut dengan ucapan syukur yang tak henti-hentinya.
Setelah semua barang terkumpul, Jestham mengajak bapak itu berbincang sambil menunggu pembayaran. Di situlah cerita sesungguhnya terungkap. "Pertama kali begini buat saya, Bu. Nggak pernah saya dapat begini, Bu," ucapnya dengan mata berkaca-kaca. "26 tahun saya bawa becak ini, Bu." Jestham terkejut. "Berapa tahun?" "26 tahun. Benar-benar saya, bagaimana nggak gemetar," jawabnya. Jestham bertanya, "Bapak ini udah makan malam?" Bapak itu menggeleng. "Belum. Masa mau makan lagi, yang perlu kan anak-anak dulu. Makan baru kita makan. Makanya ini belum makan, lah."
Bapak itu bercerita bahwa ia sering menahan lapar demi anak-anaknya. "Mau pulang nanti khawatir nanti datang cucu minta duit untuk jajan. Orang rumah minta jajan, minta belanja. Jadi kayak mau ngapain lagi," ujarnya getir. Jestham hanya bisa mendengarkan dengan hati yang teriris. "Banyak orang yang mengeluh sulit ya, Pak, ya. Ada orang yang lagi berjuang dari pagi sampai malam dapat lima belas ribu. Belum makan sampai malam ini begini," ucap Jestham merenung.
Bapak itu juga bercerita tentang istrinya yang selalu sabar. "Cuma orang rumah ini, Bu, nggak pernah ribut. Pokoknya ada dimakan. Yang penting kita jangan ribut. Itulah dengan rumah, Bu. Yang saya bangga sama ibu ya yang ada di rumah. Pokoknya itulah dia bilang, walaupun kita nggak makan, Bang, jangan kita ribut, malu kita sama orang." Jestham terharu. "Luar biasa ya." Bapak itu lalu mengucapkan sesuatu yang membuat hati Jestham semakin teriris. "Pernah, Bu, makan nasi sama garam. Nasi sama garam. Mau bilang apalagi ya, nggak ada."
Jestham pun memberikan bantuan tambahan. "Saya ada rezeki dari Tuhan. Ini Bapak bisa gunakan. Bapak mau simpan dulu boleh, Bapak mau pakai untuk beli makan apapun boleh. Ya, jangan nggak makan ya, Pak, ya." Bapak itu menerimanya dengan tangan gemetar. "Makasih banyak, Bu. Semoga Allah membalasnya," ucapnya sambil menahan tangis. Ia lalu memanjatkan doa yang begitu tulus, "Ya Allah, berikanlah kakakku dan abangku hidayah rezeki. Berikanlah hidayah panjang umur. Berikan kakakku dan abangku hidayah sehat, berikan kakakku dan abangku hidayah rezeki. Amin."

Jestham tak kuasa menahan haru. "Bapak, terima kasih. Saya terharu sekali. Bapak doakan saya sampai terharu begitu. Terima kasih." Ia pun membalas doa itu dengan penuh ketulusan. "Bapak, saya doakan Bapak sehat selalu. Saya doakan semoga besok narik becaknya rame orderannya, banyak yang naik becak Bapak. Habis itu juga titip salam sama anak dan ibu yang ada di rumah, ya. Semoga apa yang kita belanjakan hari ini berkah untuk Bapak dan keluarga, dan untuk kita semua." Bapak itu mengangguk, air matanya jatuh, namun senyumnya merekah. Ia membawa pulang bukan hanya sembako, tapi juga harapan bahwa di dunia ini masih ada orang baik yang peduli.
26 tahun mengayuh becak, Rp15.000 dari pagi hingga malam, pernah makan nasi dengan garam, namun ia tak pernah mengeluh. Jestham kembali membuktikan bahwa kebaikan sederhana bisa menjadi jawaban atas doa yang tak pernah terucap. Semoga setiap bapak di luar sana selalu diberi kekuatan, dan semoga kita semua diberi kepekaan untuk melihat mereka yang sedang berjuang, meskipun mereka tak pernah meminta.







