Dagangan Sepi, Bapak Penjual Tisu Ini Pulang dengan Rezeki Tak Terduga dari Jestham

Dagangan Sepi, Bapak Penjual Tisu Ini Pulang dengan Rezeki Tak Terduga dari Jestham
Kota Medan, Sumatera Utara - (18/10/26) Misi kebaikan Jestham kembali berlanjut. Kali ini, ia menghampiri seorang bapak penjual yang tengah menunggu pembeli di tengah cuaca mendung. Dagangan bapak tersebut tampak belum banyak terjual.
Awalnya, Jestham menanyakan harga barang yang dijual. "Pak, berapa? Satu apa? 2 seharga Rp15.000," tanya Jestham. Ia lalu menanyakan apakah dagangan bapak itu sudah banyak terjual. "Saya lihat sudah terjual banyak belum, Pak?" tanya Jestham. "Orang cuma mendungin, cuacanya sepi," jawab bapak itu. Jestham juga sempat menanyakan apakah bapak itu sudah makan. "Sudah makan, Pak? Belum, Pak," jawabnya.
Jestham kemudian menghitung jumlah dagangan yang tersisa. "Pak, ini ada berapa? Ada 30 ya? 15 plastik berarti," ujarnya. Setelah dihitung, totalnya mencapai Rp225.000. "Saya ada rezeki dari Tuhan mau borong semua. Boleh?" tanya Jestham. "Boleh, boleh, benar-benar, Pak," jawab bapak itu.
Jestham lalu menanyakan apakah harga bisa ditawar. "Bisa diskon, Pak? Bisa saya tawar?" tanya Jestham. "Bisa, Pak," jawab bapak itu. "Berapa tawarnya jadinya? Tadi 225 ya, Pak?" tanya Jestham lagi. Bapak itu tampak ragu. "Gimana ya bilangnya, Ibu saja lah yang ngasih harganya," ujarnya. Jestham pun menawarkan Rp500.000 sambil menyerahkan uang tunai. "Tawarnya Rp500.000 boleh, Pak?" tanya Jestham. Bapak itu menerimanya dengan penuh syukur.
Jestham pun mendoakan bapak itu. "Alhamdulillah. Sehat-sehat ya, Bu, murah rezekinya, panjang umurnya ya," doa Bapak itu tulus. Bapak itu kemudian menceritakan bahwa anak-anaknya sudah menikah semua. "Ya sedihlah, Bu. Macam mana namanya orang tua, Bu. Jadi udah, anak sudah kawin semua," ucap bapak itu.

Jestham lalu menghibur bapak itu. "Karena gitu belum laku, hari ini rezeki ketemu ya, Pak ya. Mudah-mudahan sehat-sehat selalu, murah rezekinya," kata Jestham. "Bapak, saya permisi. Izin ambil ya," ujarnya.
Jestham kemudian menanyakan sampai jam berapa bapak itu biasanya berjualan. Bapak itu mengaku berjualan sampai sore, tergantung situasi. Ia juga tak bisa berjualan sampai malam karena matanya rabun. "Saya sudah enggak bisa sampai malam, Bu. Karena mata saya rabun. Takut saya berlanggar aja. Saya selalu mau magrib itu pulang," ceritanya.

Pertemuan singkat itu berakhir dengan doa dan senyum syukur. Kisah bapak penjual tisu yang matanya rabun namun tetap gigih berjualan hingga sore menjadi cermin bahwa kebaikan sekecil apa pun bisa berarti besar bagi mereka yang sedang berjuang.







