Baru Kehilangan Ayah, Abang Ojol Ini Dapat Kejutan dari Jestham agar Bisa Pulang Lebih Cepat

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: youtube/@ownerjestham
Sumber: youtube/@ownerjestham

Baru Kehilangan Ayah, Abang Ojol Ini Dapat Kejutan dari Jestham agar Bisa Pulang Lebih Cepat

Kota Medan, Sumatera Utara - Seorang abang ojol terlihat sedang mengantar orderan di depan rumah Jestham. Namanya Rijal, usianya 29 tahun. Hari itu, ia sudah bekerja sejak pagi. "Dari jam 6.00 pagi, Bu. Jam 4.30 sudah bangun," ujarnya saat ditanya Jestham. Biasanya, ia baru pulang ke rumah sekitar jam 11.00 malam. "Sampai malam dapatnya berapa, Bang?" tanya Jestham. Rijal menjawab, "Enggak tentu, Bu. Kadang 150."



Mendengar itu, Jestham pun menawarkan sesuatu. "Kalau hari ini pulang lebih cepat, mau enggak?" Rijal langsung mengangguk. "Mau," jawabnya singkat. Jestham tersenyum. "Saya ada rezeki dari Tuhan untuk Abang hari ini. Pulangnya lebih cepat hari ini." Rijal terkejut. "Serius?" tanyanya. Jestham mengangguk. "Serius. Rezeki loh dari Tuhan."



Jestham pun mengingatkan Rijal tentang salat. "Dari jam 4.30 pagi sudah bangun, berarti salat kita, Bang? Jangan lupa selalu salat ya, Bang ya," ujarnya. Rijal mengangguk. "Iya," jawabnya pelan. Jestham kemudian menyerahkan rezeki itu. "Ini untuk Abang. Biar lebih cepat pulang. Jangan lama-lama pulang hari ini ya," ucapnya.



Obrolan pun berlanjut. Jestham bertanya, "Semangat kerjanya dari pagi sampai malam untuk siapa?" Rijal terdiam sejenak. Lalu ia menjawab dengan suara lirih, "Enggak ada lah. Ayah baru meninggal kemarin." Jestham terkejut. "Ayah baru meninggal kemarin?" tanyanya. Rijal mengangguk. "Itu kan di rumah sakit seminggu. Habis itu pulang ke rumah meninggal. Sakit jantung," ujarnya.


Senyum gembira Rijal sang driver ojol saat tak menyangka menerima bantuan tak terduga dari Jestham agar bisa pulang lebih cepat setelah seharian bekerja.
Senyum gembira Rijal sang driver ojol saat tak menyangka menerima bantuan tak terduga dari Jestham agar bisa pulang lebih cepat setelah seharian bekerja.

Jestham pun menyampaikan turut berduka. "Ayah lagi lihat dari atas. Apa yang pengin Abang sampaikan sama ayah?" tanyanya lembut. Rijal menjawab singkat, "Sehat-sehat di sana. Udah enggak sakit lagi kan? Udah enggak sakit lagi." Jestham mengangguk. "Iya. Turut berduka cita ya, Bang ya. Sehat selalu ya, Bang," ucapnya.



Jestham kemudian bertanya, "Udah ada pasangannya, Bang?" Rijal menggeleng. "Enggak ada. Enggak ada yang mau," jawabnya sambil tersenyum tipis. "Namanya siapa, Bang?" tanya Jestham. "Rijal," jawabnya. Jestham pun bercanda, "Nama Rijal, pekerja keras. Umur 29. Hubungi kontak di bawah." Rijal tertawa kecil. "Bercanda, bercanda," ujar Jestham ikut tertawa. "Kita doakan supaya dapat pasangan yang seiman, habis itu yang baik, yang bagus semuanya ya, Bang ya," ujarnya.



Sebelum berpisah, Jestham kembali mendoakan Rijal. "Oke, bentar lagi dapat jodoh nih ya, Bang ya. Amin ya, Bang. Hati-hati, Bang, di jalan ya, Bang ya. Oke, bye bye," ucapnya. Rijal pun mengucap terima kasih dan melambaikan tangan. Hari itu, ia bisa pulang lebih cepat dari biasanya. Sebuah pertemuan singkat yang mungkin tidak akan diingat lama, tapi cukup untuk membuat hari Rijal terasa sedikit lebih ringan setelah kehilangan ayahnya. (05/12/25)