Borong Tisu Bapak Renta: Tawar-Menawar Hangat yang Berujung Syukur

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: tiktok/@jesicathamrin
Sumber: tiktok/@jesicathamrin

Borong Tisu Bapak Renta: Tawar-Menawar Hangat yang Berujung Syukur

Kota Medan, Sumatera Utara - (30/05/26) Saat sedang melintas di jalanan, mata Jestham tertuju pada seorang bapak yang sudah renta. Ia duduk di pinggir jalan, menawarkan tisu dagangannya kepada siapa saja yang lewat. Langkah Jestham pun terhenti. Ia memanggil bapak itu, "Bapak, saya mau beli tisunya." Mendengar itu, wajah bapak tersebut langsung berubah cerah. "Boleh," jawabnya antusias, seolah tak menyangka akan ada yang menghampirinya hari itu.



Bapak itu pun menyebutkan harganya. "Rp15.000 untuk sepaket tisu," ujarnya sambil menunjukkan dagangan yang ia bawa. Jestham memperhatikan tisu-tisu itu dengan saksama. Lalu, ia melontarkan pertanyaan yang membuat bapak itu semakin bersemangat. "Saya mau borong semua tisunya, boleh?" Senyum di wajah bapak itu semakin mengembang. Ia mengangguk, matanya berbinar. "Boleh," jawabnya cepat, seolah tak ingin melewatkan kesempatan yang datang begitu saja.



Jestham lalu bertanya, "Tisunya jadi berapa semua, Pak?" Bapak itu mulai menghitung dengan teliti. "Rp15.000, ditambah Rp18.000, jadi Rp33.000," jawabnya. Jestham tersenyum dan mengajukan penawaran. Ia bertanya apakah harganya bisa ditawar. Tanpa pikir panjang, bapak itu menjawab boleh. Bahkan, dengan murah hati ia langsung menurunkan harga dagangannya menjadi Rp23.000 saja. Sebuah gestur sederhana, namun menunjukkan betapa besarnya keinginannya untuk menjual dagangan hari itu.


Raut wajah bahagia dan senyum syukur bapak penjual tisu renta saat menyambut kepedulian dari Jestham dari luar jendela mobil.
Raut wajah bahagia dan senyum syukur bapak penjual tisu renta saat menyambut kepedulian dari Jestham dari luar jendela mobil.

Namun Jestham punya rencana lain. Ia tak ingin bapak itu pulang dengan tangan kosong. Dengan lembut, ia menyodorkan sejumlah uang yang nilainya justru jauh melebihi harga yang sudah disepakati. "Segini boleh?" tanyanya. Bapak itu terkejut bukan main. "Astaghfirullahaladzim, serius nih? Alhamdulillah," ucapnya penuh syukur. Ia menerima uang itu dengan tangan yang sedikit gemetar, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.



Meski sudah menerima rezeki yang tak terduga, senyum ramah bapak itu tak pernah lepas dari wajahnya. "Terima kasih banyak. Mudah-mudahan berkah," doanya tulus untuk Jestham. Jestham pun membalas dengan doa yang tak kalah hangat. "Amin, amin. Sehat-sehat ya, Bapak ya," ucapnya lembut. Bapak itu mengangguk, "Alhamdulillah, mudah-mudahan." Doa dan syukur itu mengalir begitu saja, tanpa perlu dipaksakan. Momen itu terasa begitu sederhana, namun penuh makna.



Sebelum benar-benar berpisah, Jestham mengucapkan pamit dengan penuh kehati-hatian. "Bapak hati-hati ya, saya permisi ya," ucapnya sambil tersenyum. Bapak itu melambaikan tangan, masih dengan senyum yang sama sejak awal pertemuan. Jestham pun melanjutkan perjalanannya, meninggalkan bapak renta itu dengan hati yang ringan. Pertemuan mereka singkat, hanya beberapa menit, namun kesannya begitu dalam.


Momen hangat dan penuh keharuan saat jestham berpamitan dengan gesture santun kepada bapak penjual tisu renta dari dalam mobil.
Momen hangat dan penuh keharuan saat jestham berpamitan dengan gesture santun kepada bapak penjual tisu renta dari dalam mobil.

Bagi bapak itu, hari yang awalnya biasa saja berubah menjadi hari yang penuh keberkahan. Bagi Jestham, momen itu menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak perlu menunggu waktu yang tepat. Pertemuan singkat itu ditutup dengan rasa syukur yang berat, sebuah rasa yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, hanya bisa dirasakan.