Jestham Borong Dagangan Ibu Penjual Tisu dan Koran, Sang Ibu Menangis Ceritakan Suami Meninggal Sejak 2010: Berjuang Sendiri

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: youtube/@ownerjestham
Sumber: youtube/@ownerjestham

Jestham Borong Dagangan Ibu Penjual Tisu dan Koran, Sang Ibu Menangis Ceritakan Suami Meninggal Sejak 2010: Berjuang Sendiri

Kota Medan, Sumatera Utara - Air mata seorang ibu penjual tisu dan koran menetes di pinggir jalan saat Jestham menghampirinya. Belum satu pun dagangannya laku hari itu. Namun, percakapan singkat dengan Jestham perlahan mengubah kesedihannya menjadi rasa syukur.



Awalnya, Jestham menanyakan apa yang dijual ibu tersebut. "Bu, berapa harga tisunya?" tanya Jestham. "Satu. Yang ini Rp15.000. Yang ini Rp12.000," jelas ibu itu. Jestham lalu menanyakan apakah dagangannya sudah banyak terjual. "Belum ada yang laku," ujar ibu itu.



Ibu itu juga menceritakan bahwa ia biasanya berjualan koran, namun sekarang orang sudah jarang membeli. Melihat ibu itu menangis, Jestham pun menanyakan penyebabnya. "Kenapa kok nangis? Apa yang buat sedih, Bu?" tanya Jestham. "Belum ada bawa duit," jawab ibu itu.



Jestham kemudian menawarkan untuk memborong semua dagangan ibu tersebut. "Saya ada rezeki dari Tuhan. Saya borong semua. Boleh?" tanya Jestham. Ibu itu pun dengan senang hati mengizinkannya. Jestham lalu menghitung satu per satu barang dagangan yang akan diborongnya.



Setelah dihitung, totalnya mencapai Rp60.000. "Jadi ini 60. 60 semuanya ya?" tanya Jestham. "Iya," jawab ibu itu. Jestham lalu menawarkan untuk menawar harga. "Saya mau tawar. Boleh? Benar ya? Saya tawar ya, Bu. Jangan marah ya. Saya tawar segini boleh?" tanya Jestham sambil menyerahkan uang tunai. "Alhamdulillah. Makasih banyak, Mbak," ucap ibu itu penuh syukur.


Suasana haru saat ibu penjual tisu dan koran menerima bantuan rezeki dari Jestham di pinggir jalan.
Suasana haru saat ibu penjual tisu dan koran menerima bantuan rezeki dari Jestham di pinggir jalan.

Dari percakapan itu, ibu tersebut kemudian menceritakan bahwa ia sudah tidak memiliki suami. "Turut berduka ya, Bu," jawab Jestham. Ibu itu pun menjelaskan bahwa suaminya meninggal pada tahun 2010. "Meninggal tahun 2010. Sudah lama, Bu. Berjuang sendiri ya, Ibu ya," kata Jestham.



Ibu itu pun tak henti mengucapkan syukur dan mendoakan Jestham. "Makasih banyak ya, Mbak. Semoga Allah memberikan kemurahan rezeki. Sehat selalu, panjang umur," ucapnya. Jestham pun mengaminkan doa tersebut sambil membalas dengan pesan hangat. "Amin. Ibu sehat selalu ya. Jangan lupa sarapan, dan jangan lupa selalu berdoa," kata Jestham. "Amin. Terima kasih banyak," jawab ibu itu.


Suasana haru saat ibu penjual tisu dan koran menerima bantuan rezeki dari Jestham di pinggir jalan.
Suasana haru saat ibu penjual tisu dan koran menerima bantuan rezeki dari Jestham di pinggir jalan.

Jestham pun berpamitan. "Hati-hati, Ibu. Permisi, Bu," kata Jestham. Aksi kebaikan ini kembali menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap sesama, terutama kepada seorang ibu yang berjuang sendiri setelah ditinggal suaminya, bisa membawa kebahagiaan dan harapan baru. (24/09/26)