Ketika Becak Rusak dan Hati Sepi: Uluran Hangat Jestham untuk Seorang Ayah Tangguh

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: tiktok/@jesicathamrin
Sumber: tiktok/@jesicathamrin

Ketika Becak Rusak dan Hati Sepi: Uluran Hangat Jestham untuk Seorang Ayah Tangguh

Kota Medan, Sumatera Utara - (01/07/26) Pertemuan paling berkesan sering kali datang dari momen yang paling tak terduga. Itulah yang dirasakan Jestham ketika melihat seorang bapak tua terdiam termenung di pinggir jalan, ditemani becaknya yang tampak tak bergerak. Rasa penasaran membawanya mendekat, dan dari sanalah sebuah kisah haru mulai terungkap. Hari itu, nasib sedang tidak berpihak pada sang bapak. Becaknya rusak, rantainya putus, dan ia tak punya uang untuk memperbaikinya. Satu-satunya harapan di hari itu adalah doa kecil agar ada penumpang yang sudi menggunakan jasanya.



Tanpa pikir panjang, Jestham mengajak bapak itu masuk ke minimarket terdekat. Seperti biasa, ia membawa misi sederhana, membelanjakan sembako sepuasnya. "Selama dua menit, Bapak boleh ambil apa aja yang di dalam sini. Semua boleh Bapak ambil. Siap?" teriak Jestham penuh semangat. "Siap satu, dua, tiga... Mulai! Lari, Pak! Lari, Pak!" Sang bapak pun berlari kecil, berusaha mengisi keranjang secepat mungkin. Jestham berteriak memberi arahan, "Beras, Pak! Minyak, Pak! Gula, Pak!" Suasana toko mendadak berubah menjadi arena perlombaan yang penuh gelak tawa.



Namun, ada satu hal yang membuat hati Jestham sedikit cemas. Di rak beras, ternyata stok sudah habis. "Berasnya kok habis, Bang?" tanyanya ke karyawan toko. Meskipun begitu, bapak itu tetap bersemangat mengambil minyak, gula, sabun, dan telur. Jestham terus membantunya, memastikan semua kebutuhan pokok terpenuhi. "Pak, ambil telur, Pak! Hati-hati ya, Pak!" Meskipun tidak ada beras malam itu, Jestham sudah merencanakan kejutan lain di akhir pertemuan mereka. Yang terpenting, sang bapak tetap tersenyum meski keringat bercucuran.



Setelah semua barang dihitung dan dibayar, Jestham mengajak bapak itu berbincang. Di sinilah cerita sesungguhnya mulai mengalir. "Pak, jadi Bapak tinggal sama anak dan istri?" tanya Jestham. Sang bapak menjawab dengan nada lirih, "Anak berdua di Kalimantan sama di Palembang, Bu. Dua-duanya pergi. Jadi bapak sendirian sekarang." Jestham terdiam. Seorang bapak tua tinggal sendirian, bekerja keras dengan becak yang rusak, tanpa ada yang menemani di rumah. "Apa sih paling sulitnya kalau hidup sendiri, Pak?" tanya Jestham. Mata bapak itu mulai berkaca-kaca. "Paling sedih itu kalau tinggal sendirian, nggak ada yang jaga, nggak ada yang ngerawat," jawabnya lirih.



Tak berhenti di situ, Jestham menatap tangan kiri sang bapak yang terbungkus rapi. Dengan penuh hati-hati, ia bertanya, "Pak, ini tangannya kenapa ya, Pak? Kalau boleh saya tahu..." Bapak itu menghela napas panjang. "Kecelakaan, Bu. Jatuh dari kereta. Udah delapan tahun yang lalu. Waktu itu mau diamputasi, tapi saya sedih banget. Saya nangis karena nggak bisa kerja, nggak bisa apa-apa lagi." Jestham terhenyak. Delapan tahun lalu, bapak itu kehilangan sebagian tangan kirinya. Namun ia tidak menyerah. Ia tetap mengayuh becak dengan satu tangan, tetap berjuang untuk hidup. "Tapi puji Tuhan, Tuhan kuatkan saya, Bu," ucapnya dengan senyum tipis.



Mendengar semua itu, Jestham tak kuasa menahan haru. Ia menatap becak tua yang tergeletak dengan rantai putus. "Kalau perbaiki rantai becak berapa, Pak?" "Biasanya seratus ribu, Bu. Tapi saya nggak punya uang," jawabnya polos. Jestham lalumenyerahkan beberapa lembaran uang tunai. "Pak, saya ada rezeki. Tadikan kebetulan beras tidak ada ya, Pak. Jadi saya tambahkan di dalam sini. Mungkin sisanya bisa Bapak gunakan untuk perbaiki rantai becaknya." Sang bapak hanya bisa menatap dengan mata berkaca. Tangannya yang masih utuh menerima rezeki itu dengan gemetar. "Terima kasih banyak, Bu."



Namun ada satu hal lagi yang membuat bapak itu tersentuh. "Saya baru urus KTP pindah, Bu. Biar dapat bantuan kalau sakit," ujarnya. Jestham pun mendoakan, "Semoga semua dipermudah, ya, Pak. Supaya bapak bisa dapat BPJS dan dirawat kalau sakit." Sang bapak mengangguk pelan. Doa itu terasa begitu hangat. "Saya doain bapak sehat selalu, tetap berusaha yang terbaik, tetap berdoa dan mengandalkan Tuhan selalu ya, Pak," ucap Jestham menutup pertemuan mereka.



Kisah ini adalah cerminan bahwa di balik setiap keterbatasan, selalu ada kekuatan yang tak terlihat. Meskipun tangan kirinya tak sempurna, hati sang bapak tetap utuh. Meskipun becaknya rusak, semangatnya tak pernah patah. Jestham mengingatkan kita bahwa berbagi tidak perlu menunggu kaya. Cukup dengan perhatian dan kepekaan, kita bisa menjadi jawaban doa bagi mereka yang sedang berjuang. Sebelum berpisah, Jestham berpesan, "Nanti jangan lupa beli berasnya ya, Pak, sama perbaiki sepedanya. Bapak sehat-sehat ya!" Sang bapak tersenyum lebar. Senyuman yang lahir dari perasaan bahwa di tengah kesendiriannya, masih ada orang baik yang peduli. Dan itulah keajaiban yang paling sederhana namun paling bermakna.