Jestham Traktir Bapak Becak 76 Tahun, Belanja Sembako Sepuasnya

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: tiktok/@jesicathamrin
Sumber: tiktok/@jesicathamrin

Jestham Traktir Bapak Becak 76 Tahun, Belanja Sembako Sepuasnya

Kota Medan, Sumatera Utara - (05/04/25) Saat sedang melintas, Jestham melihat seorang bapak tukang becak yang tertidur di dalam becaknya. Tubuhnya yang renta terlihat lelah, mungkin karena seharian belum mendapatkan sewa. Jestham pun menghampiri dengan hati-hati. Bapak itu terbangun sedikit terkejut, matanya masih sayu, namun ia berusaha tersenyum. "Bapak, saya ada rezeki dari Tuhan. Belanja sembako sepuasnya, mau nggak?" tawar Jestham lembut. Tanpa ragu, bapak itu menjawab, "Mau lah." Jestham pun mengajaknya menuju minimarket terdekat.



Di perjalanan, Jestham berkenalan dengan bapak itu. Namanya Bazarudin, usianya sudah 76 tahun. Ketika ditanya kebutuhan apa yang paling penting saat ini, bapak itu menjawab dengan polos, "Nomor satu beras, gula, minyak. Tinggal sendiri, masak sendiri." Jestham terdiam mendengarnya. Seorang bapak yang sudah sepuh, harus mengurus dirinya sendiri tanpa ada yang menemani. Tak terbayang bagaimana beratnya hari-hari yang ia jalani.



Melihat kondisi bapak yang sudah sangat renta, Jestham memutuskan untuk tidak menggunakan durasi dua menit seperti biasanya. "Kita ambil barang yang memang kebutuhan rumah," ucapnya lembut. Bapak itu sempat ragu. "Saya tunggu luar aja ya," katanya. Namun Jestham segera menenangkannya. "Nggak apa-apa, Pak. Yuk," ajaknya sambil mempersilakan bapak itu mulai mengambil beras. "Ini rezeki Bapak hari ini. Jangan segan-segan," tambahnya.


Jestham dan tim dengan penuh kehangatan membantu Bapak Bazarudin mengangkat keranjang belanja berisi minyak goreng dan kebutuhan pokok lainnya di minimarket.
Jestham dan tim dengan penuh kehangatan membantu Bapak Bazarudin mengangkat keranjang belanja berisi minyak goreng dan kebutuhan pokok lainnya di minimarket.

Jestham terus menuntun bapak itu untuk mengambil banyak barang lagi. Minyak, gula, kopi, mi instan, sabun, semua ia masukkan ke keranjang. Setiap kali bapak itu berkata "Udah", Jestham selalu menambahkan lagi. Ia berkali-kali menjelaskan bahwa ini adalah rezeki untuk bapak itu. Bapak Bazarudin hanya bisa mengangguk, matanya mulai berkaca-kaca. Ia tak menyangka akan mendapat perhatian sebesar ini dari seseorang yang baru ia kenal.



Setelah semua kebutuhan terkumpul, bapak itu mengaku bahwa ini pertama kalinya ia mendapat rezeki seperti ini. Hari itu, ia tidak mendapatkan sewa sama sekali. Jestham pun bertanya dengan hati-hati, "Jadi kalau nggak ada sewa, gimana makannya? Pernah satu hari itu nggak makan?" Bapak itu menjawab dengan suara lirih, "Pernah. Bahkan dua hari nggak makan. Uang nggak ada, indomi nggak ada." Jestham hanya bisa menunduk, merasakan getir yang mendalam. Dua hari tanpa makanan, di usia 76 tahun, sendirian.



Saat ditanyai tentang anak, sebuah kenyataan pahit terungkap. Bapak itu menceritakan bahwa anaknya adalah seorang pecandu narkoba. Bahkan, tak segan-segan ia memukul bapaknya sendiri. "Ini mata saya dipukulnya. Mabuk, bergaduh, diusir sama yang punya rumah," ceritanya sambil menunjuk matanya yang pernah terluka. Jestham tercekat. Istrinya sudah meninggal 8 tahun lalu. Kini ia hanya tinggal sendirian, tanpa siapa pun yang merawat, tanpa siapa pun yang menyayangi.


Dengan mata berkaca-kaca dan ekspresi haru, Bapak Bazarudin tak sanggup menahan rasa syukurnya saat menceritakan perjuangan hidupnya.
Dengan mata berkaca-kaca dan ekspresi haru, Bapak Bazarudin tak sanggup menahan rasa syukurnya saat menceritakan perjuangan hidupnya.

Jestham pun memberikan rezeki tambahan untuk bapak itu. "Bapak, saya ada rezeki dari Tuhan. Ini uangnya, kalau Bapak mau beli obat atau apapun, boleh Bapak gunakan," ucapnya tulus. Bapak Bazarudin menerimanya dengan tangan gemetar. "Allah yang tahu dek membayar kebaikan ini," ucapnya terharu, matanya basah. Kalimat itu sederhana, namun begitu dalam. Ia mungkin tak bisa membalas kebaikan Jestham dengan harta, tapi ia tahu siapa yang akan membalasnya.



Sebelum berpisah, Jestham menutup pertemuan itu dengan doa yang tulus. "Kebaikan Tuhan untuk Bapak hari ini. Bapak saya doakan sehat-sehat. Semoga barang yang kita beli bisa berguna untuk Bapak juga. Kita doakan supaya anaknya bisa taubat, gitu ya, Pak, ya," ucapnya lembut. Bapak itu mengangguk, masih dengan mata yang berkaca.



Kisah Bapak Bazarudin adalah cerminan bahwa di luar sana, banyak orang tua yang hidup dalam kesendirian, menanggung luka yang tak terlihat. Bagi Jestham, ini mungkin misi biasa. Tapi bagi Bapak Bazarudin, ini pertama kalinya ia merasa diperhatikan setelah sekian lama. Tidak ada kata yang bisa mewakili rasa syukurnya. Hanya air mata dan doa yang mengalir tanpa henti. Kadang, kebaikan tidak perlu dijelaskan. Cukup dilakukan, dan biarkan Tuhan yang membalasnya.