Demi Anak, Kepala di Bawah Kaki di Atas: Kisah Haru Bapak Becak yang Ingin Menguliahkan Anaknya

Demi Anak, Kepala di Bawah Kaki di Atas: Kisah Haru Bapak Becak yang Ingin Menguliahkan Anaknya
Kota Medan, Sumatera Utara - (19/05/26) Saat sedang dalam perjalanan, Jestham melewati seorang bapak yang sedang mengayuh becaknya pelan-pelan di pinggir jalan. Bapak itu tampak berkeliling mencari penumpang, namun jalanan sepi. Tak ada yang menghentikannya. Jestham pun memutuskan untuk menghampiri. "Bapak, saya ada rezeki dari Tuhan. Ikutin mobil saya boleh?" tawarnya. Bapak itu terkejut, ragu sejenak, lalu mengangguk pelan. "Ini baru pertama saya masuk," ujarnya bahwa ia tak pernah masuk kedalam minimarket sebelumnya, seolah tak percaya ada orang yang mau peduli padanya.
Jestham bertanya, "Menurut Bapak, kebutuhan rumah paling penting saat ini apa?" Bapak itu menjawab dengan suara bergetar, "Beras, minyak, gula. Dapat makan bawa pulang itu sudah syukur." Jestham terdiam. Lalu bapak itu menambahkan sesuatu yang membuat hati Jestham tercekat. "Umur 40, anak sih kuliah dua orang. Semester 5 paling kecil." Jestham terkejut, "Anak kuliah dua orang? Hebat Bapak ya." Bapak itu hanya tersenyum getir. "Sedih saya. Kadang untuk uang kuliah, uang belanja itu enggak ada, Kak. Dia kuliah perlu duit jajan, ya kan."
Jestham mulai mempersilakan bapak itu mengambil beras. "Bapak, ambil berasnya dua aja?" tanyanya. Tapi Jestham segera menambahkan, "Jangan, saya tambahin ya." Bapak itu menolak halus. "Ya kan enggak mungkin saya mau ngomong mau berapa kata kakak suruh gini, ya enggak. Kan kita rezeki dikasih berapa dikasih orang itu yang kita terima." Jestham tersentuh mendengar kerendahan hati bapak itu. "Saya kalau Bapaknya begitu, saya senang ambil lebih banyak gitu. Untuk stok ya, Pak, ya di rumah." Bapak itu hanya bisa mengangguk, matanya mulai berkaca-kaca.

Belanja pun berlanjut. Jestham memasukkan telur, sarden, kornet, minyak, sabun cuci, dan berbagai kebutuhan pokok lainnya. Setiap kali bapak itu berkata "Cukup, Kak," Jestham selalu menambahkan lagi. "Bapaknya kalau ambil dikit-dikit, saya kasih banyak. Saya tambahin banyak-banyak ya, biar Bapaknya puas makan di rumah, bisa stok ya, Pak, ya." Bapak itu hanya bisa mengucap terima kasih berulang-ulang. "Terima kasih. Semoga rezeki Kak, sehat selalu. Amin, amin, amin." Jestham membalas, "Bapak juga ya, sehat selalu ya. Makasih doanya ya, Bapak."
Di tengah menunggu pembayaran, Jestham mengajak bapak itu berbincang lebih dalam. "Bapak tadi lagi nunggu sewa, lagi mau pulang?" tanya Jestham. "Iya, mau pulang. Setiap sore saya lewat situ pulang." ujarnya dengan mata berbinar. Jestham tersenyum. "Jadi Pak, sayang sama anak-anak?" Bapak itu menjawab dengan penuh keyakinan, "Oh, siapa orang tua yang enggak sayang. Demi anak, ibaratnya kepala di bawah kaki di atas, itu kata orang. Demi untuk anak kita. Pokoknya anak itu jangan sampai kayak kita. Kita sudah susah, anak kita susah pula. Jangan. Enggak ada orang tuanya itu kepingin anaknya itu susah kayak gitu. Kepingin dia lebih baik."

Bapak itu juga menyampaikan pesan untuk anak-anaknya. "Saya berterima kasih anak-anakku sekalian. Walaupun ayah tukang becak berusaha untuk membesarkan kalian, menyekolahkan kalian untuk mencapai tujuan atau cita-cita kalian. Tapi terimalah. Kemana saya minta sama kalian, rajin-rajinlah kalian belajar, patuh sama kedua orang tua. Kalau kami menurut apa, jangan lupa salat. Nah, itu yang saya minta saja. Itu nomor satu. Itu saja." Jestham mendengarkan dengan hati yang teriris. Betapa besar pengorbanan seorang ayah yang rela tidak makan demi anak-anaknya bisa kuliah.
Jestham pun memberikan bantuan tambahan. "Saya ada sedikit rezeki, mana tahu ini uang bisa Bapak gunakan untuk bantu bayarin kuliah." Bapak itu menerimanya dengan tangan gemetar. "Terima kasih banyak. Sekali lagi Kak, makasih banyak. Murah rezeki aku selalu." "Amin, semoga bermanfaat ya." balas Jestham.
Namun ada satu hal yang membuat Jestham semakin kagum. Bapak itu ternyata menyimpan kesedihan yang mendalam. "Itulah saya bilang, saya kalau kayak gini sedih. Maunya kita itu mengasih orang, jangan kita mau nerima aja. Tapi apa boleh buat keadaan kita kayak gini. Tapi kita kepingin pula, ini untuk kita aja enggak cukup, gimana kita mau nolong orang-orang. Nah itu yang saya sedihkan." Jestham tertegun. Seorang bapak yang hidupnya saja pas-pasan, ternyata hatinya ingin menolong orang lain. "Luar biasa ya, Bapak punya hati yang pengen memberi. Tapi Bapak kalau berbuat baik aja sebenarnya itu sudah mengasihi orang," ucap Jestham menenangkan.
Sebelum berpisah, Jestham berpamitan denganbapak itu. "Bapak hati-hati ya." "Ya, hati-hati," jawab bapak itu pelan. Ia membawa pulang bukan hanya sembako, tapi juga harapan bahwa perjuangannya untuk menguliahkan anak-anaknya tidak sia-sia. Kepala di bawah, kaki di atas, itulah pengorbanan seorang ayah. Jestham kembali membuktikan bahwa kebaikan sederhana bisa menjadi jawaban atas doa yang tak pernah terucap. Semoga setiap ayah di luar sana selalu diberi kekuatan, dan semoga anak-anak mereka kelak menjadi orang yang membanggakan.







