Jagung Rebus di Sudut Jalan Bangkok: Kebaikan Kecil yang Membuat Seorang Bapak Menangis

Jagung Rebus di Sudut Jalan Bangkok: Kebaikan Kecil yang Membuat Seorang Bapak Menangis
Kota Medan, Sumatera Utara - (09/07/26) Saat itu, Jestham sedang bersama Koko, berjalan santai menikmati waktu libur di Bangkok. Udara malam terasa dingin, namun jalanan masih cukup ramai. Mereka berdua melangkah tanpa tujuan yang jelas, sekadar menikmati suasana kota. Hingga tanpa sengaja, mereka melewati seorang bapak pedagang kaki lima. Pukul 10 malam, dan bapak itu masih belum pulang. Begitulah yang dipikirkan Jestham saat melihatnya.
Sebelumnya, saat mereka hendak pergi, mereka sudah melihat bapak itu. Ia sempat tertidur di dekat dagangannya. Mungkin sedang sepi pembeli. Masa saat hendak jalan pulang, mereka masih melihat bapak itu. Akhirnya, mereka memutuskan untuk membeli. Mereka pun berhenti dan menghampiri gerobak sederhana itu.

Dengan bahasa seadanya, Koko menyapa bapak itu. "How much?" tanyanya. Bapak itu menjawab pelan, "Twenty baht." Ia adalah penjual kuliner jagung rebus kaki lima. Koko pun memesan dua porsi, lalu mengambil uang dari dompetnya.
Ketika hendak membayar, Koko memberikan uang lebih dari harga yang seharusnya. Bapak itu langsung menyadarinya. Ia buru-buru merogoh kantong, hendak mencari kembalian. Namun Koko menggeleng dan berkata bahwa tidak perlu dikembalikan. Mendengar itu, bapak tersebut langsung menangis terharu. Air matanya jatuh, tak kuasa ia tahan.
Mungkin saat itu memang sepi pembeli. Hingga ia harus bertahan menunggu sampai larut malam. Mungkin juga sudah lama ia tidak merasakan kebaikan dari orang asing. Jestham yang melihat pemandangan itu pun ikut tersentuh. Ia mendekat dan berkata dengan lembut, "No crying." Kalimat sederhana itu diucapkan bukan untuk mengecilkan perasaannya, tapi untuk menenangkannya.

Bapak itu mengusap air matanya. Ia tersenyum tipis, lalu mengucap terima kasih berulang-ulang. Jestham dan Koko pun berpamitan. Mereka melambaikan tangan, dan bapak itu membalas dengan senyum yang masih merekah. Malam itu, langkah mereka pulang terasa lebih ringan.
Liburan memang tentang bersenang-senang. Tapi kadang, liburan juga tentang membuka mata dan hati terhadap kehidupan orang lain. Di sudut jalan Bangkok, di malam yang dingin, seorang bapak penjual jagung rebus mengajarkan mereka arti syukur yang sesungguhnya. Dan bagi Jestham serta Koko, malam itu menjadi salah satu kenangan paling berharga dari perjalanan mereka.







