"Nggak Apa-apa, Ini Rezeki dari Tuhan": Kejutan untuk Bapak Becak yang Tertidur di Becaknya

"Nggak Apa-apa, Ini Rezeki dari Tuhan": Kejutan untuk Bapak Becak yang Tertidur di Becaknya
Kota Medan, Sumatera Utara - (08/06/26) Saat sedang melintas di jalanan, Jestham melihat seorang bapak tukang becak yang tertidur di dalam becaknya. Tubuhnya yang renta terlihat lelah, mungkin karena sejak pagi belum mendapatkan sewa. Jestham pun turun dari mobil dengan niat tulus memberikan kejutan. "Bapak, saya ada rezeki dari Tuhan. Belanja sembako sepuasnya, mau nggak?" tawarnya lembut. Bapak itu terbangun dan langsung menjawab, "Duitnya nggak ada." Jestham tersenyum, "Nggak apa-apa, ini rezeki dari Tuhan. Nanti dibayarin. Mau?" Mendengar itu, semangat bapak tersebut langsung bangkit. Ia mengangguk dan mengikuti Jestham menuju minimarket terdekat.
Sesampainya di dalam minimarket, Jestham bertanya apa saja kebutuhan pokok di rumah. Bapak itu menjawab dengan suara haru, "Beras, telur." Ia juga mengungkapkan kondisinya yang sedang terkena asam urat di kakinya. Mendengar itu, Jestham memutuskan untuk tidak menggunakan durasi dua menit seperti biasanya. "Silakan diambil, Pak," ucapnya saat mereka berada di rak beras. Jestham bahkan melarang bapak itu hanya mengambil satu karung. Ia terus membantu menambahkan beberapa karung beras ke dalam keranjang mereka.
Belanja pun berlanjut. Telur, minyak, gula, mi instan, sabun, semua dimasukkan ke dalam keranjang. Setiap kali mengambil barang demi barang, bapak itu selalu mengucapkan syukur. "Alhamdulillah," ucapnya berulang-ulang. Jestham hanya tersenyum melihatnya. Ia lalu menunjukkan hasil belanjaan mereka, dan sambil menunggu pembayaran, mereka kembali berbincang. "Apa yang buat Bapak sedih banget? Saya lihat dari tadi," tanya Jestham dengan hati-hati.

Bapak itu menghela napas. "Mikirkan kadang awak duduk nggak ada sewa. Ya pasrah aja lah. Yang penting keluar, dapat berapa nggak tahu. Sekarang sepi," ujarnya sedih. Ia menceritakan bahwa sehari bisa mendapat Rp50.000, itu pun belum dipotong biaya bahan bakar. Terkadang rasa laparnya ia tahan. Ia juga bercerita tentang keadaan di rumah. "Kalau ada uang, cukup membeli beras sekilo dengan lauk hanya ikan asin dan kecap saja. Beli ikan udah nggak sanggup lagi, mahal. Syukuri aja apa yang ada," ceritanya dengan mata yang mulai berkaca. "Saya pun dalam hati masih bersyukurlah. Kami masih diberi kesehatan juga."
Jestham tersentuh mendengar semua itu. "Banyak orang yang kehidupannya bagus tapi lupa bersyukur. Tapi Bapak selalu bersyukur dalam keadaan apapun. Luar biasa ya, Bapak ya," ucapnya penuh kagum. Bapak itu hanya tersenyum tipis. "Kita itu kalau rajin ibadah, ya mudah-mudahan rezeki itu ada aja," ujarnya dengan penuh keyakinan. Kalimat itu sederhana, namun begitu dalam. Seorang bapak yang hidupnya pas-pasan, namun hatinya begitu lapang.
Saat ditanya mengenai anak, bapak itu menyampaikan pesannya dengan penuh kasih. "Terima kasih kepada anak-anak saya. Saya nggak nyusahkan anak. Biar sedikit banyaknya masih bisa nyari sendiri. Yang penting kalian sehat, baik-baik," ucapnya tulus. Jestham terdiam. Betapa besar pengorbanan seorang ayah yang tidak ingin membebani anaknya, meski dirinya sendiri sedang kesulitan.

Jestham pun memberikan tambahan rezeki untuk bapak itu. "Pak, saya ada rezeki untuk Bapak hari ini. Nanti beli ayam, nanti beli ikan," ucapnya sambil menyerahkan uang. Bapak itu menerimanya dengan tangan gemetar. "Terima kasih banyak ya, Bu. Tuhan balas rezekinya, semoga berlipat ganda ya, Bu. Amin," doanya tulus untuk Jestham. Ia lalu memanjatkan rasa syukurnya sekali lagi. "Semoga dimanfaatkan dan murah rezeki sekeluarga kami."
Pertemuan itu singkat, namun penuh makna. Bapak itu pulang dengan sembako di tangan, senyum di wajah, dan doa yang mengalir tanpa henti. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi besok, tapi hari itu, ia tahu satu hal, Tuhan masih mengingatnya, lewat seseorang yang tak ia kenal sebelumnya.







