"Saya Bayarnya Segini Boleh Nggak?": Rezeki Tak Terduga untuk Bapak Tukang Parkir

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: tiktok/@jesicathamrin
Sumber: tiktok/@jesicathamrin

"Saya Bayarnya Segini Boleh Nggak?": Rezeki Tak Terduga untuk Bapak Tukang Parkir

Kota Medan, Sumatera Utara - (05/06/26) Kita tidak pernah tahu apa yang sedang dialami oleh orang lain, apa pun profesinya. Di balik seragam parkir yang lusuh, di balik senyum yang dipaksakan, bisa jadi ada beban yang tak terlihat. Itulah yang dirasakan Jestham ketika bertemu dengan seorang bapak tukang parkir di suatu hari. Dari dalam mobil, ia membuka kaca jendela dan bertanya dengan ramah, "Pak, berapa parkir, Pak?" Bapak itu menghampiri dan menjawab singkat, "Rp3.000."



Jestham mengangguk, lalu mengeluarkan lembaran uang tunai. Namun bukan uang Rp3.000 yang ia serahkan. "Saya bayarnya segini boleh nggak?" ucapnya sambil menyodorkan nominal yang jauh lebih besar dari tarif parkir yang seharusnya. Bapak itu terkejut. Tangannya langsung membuat gestur syukur. Senyumnya muncul, tapi kali ini bercampur dengan haru. Matanya berkaca-kaca, tak menyangka akan mendapat rezeki sebesar itu hanya dari satu mobil yang parkir.



Jestham tidak berhenti di situ. Ia lalu bertanya dengan lembut, "Sudah makan, Pak?" Bapak itu menggeleng pelan. Belum. Mungkin sejak pagi ia sudah berdiri di sana, mengatur kendaraan, menunggu giliran, dan belum sempat mengisi perutnya. Jestham pun berkata, "Ini beli makan ya, Pak. Rezeki ya, Bapak ya," ucapnya tulus sambil menyerahkan uang tambahan. Bapak itu hanya bisa mengangguk, masih dengan mata yang berkaca.


Dengan penuh haru dan syukur, bapak tukang parkir ini menerima uang tunai dari Jestham dari balik kaca mobil.
Dengan penuh haru dan syukur, bapak tukang parkir ini menerima uang tunai dari Jestham dari balik kaca mobil.

Tak ada kata lain yang keluar dari mulut bapak itu selain terima kasih. Ia terus memanjatkan rasa syukur, mengulang-ulang doa dengan suara pelan. Rezeki yang datang di hari biasa, saat ia sedang menjalankan pekerjaannya sebagai tukang parkir, pekerjaan yang mungkin sering dianggap remeh oleh banyak orang. Namun hari itu, pekerjaannya justru menjadi jalan rezeki yang tak terduga. Bapak itu tak henti-hentinya mengucap syukur, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.



Jestham hanya tersenyum melihat reaksi bapak itu. Ia tak perlu penjelasan panjang, tak perlu balasan. Baginya, cukup melihat bapak itu bisa makan hari itu, sudah lebih dari cukup. Ia lalu berpamitan dengan penuh kelembutan. "Bapak, saya permisi ya. Sehat-sehat ya, Pak," ucapnya. Bapak itu mengangguk, masih dengan senyum yang sama, senyum yang lahir dari rasa syukur yang mendalam.


Sambil mengatupkan kedua tangan, bapak tukang parkir ini tersenyum penuh syukur dan memanjatkan doa tulus untuk Jestham.
Sambil mengatupkan kedua tangan, bapak tukang parkir ini tersenyum penuh syukur dan memanjatkan doa tulus untuk Jestham.

Pertemuan itu hanya berlangsung beberapa menit. Tidak ada percakapan panjang, tidak ada cerita sedih yang diumbar. Tapi dari situlah kebaikan mengalir. Bapak tukang parkir itu mungkin tidak akan mengingat nominal uangnya, tapi ia akan mengingat perasaan saat seseorang tiba-tiba peduli, menanyakan apakah ia sudah makan, dan memberinya rezeki tanpa diminta.



Kadang, kita terlalu sibuk untuk menyadari bahwa di sekitar kita ada orang-orang yang berjuang dalam diam. Tukang parkir, penjual tisu, pengemudi ojol, atau siapa pun yang kita temui di jalan. Mereka semua punya cerita, punya beban, punya harapan. Dan bagi bapak tukang parkir itu, hari yang biasa saja berubah menjadi hari yang penuh syukur, hanya karena seseorang memilih untuk peduli.