"Rezeki Buat Abang untuk Bayar Kereta": Kejutan untuk Ojol yang Hampir Kehilangan Motor

"Rezeki Buat Abang untuk Bayar Kereta": Kejutan untuk Ojol yang Hampir Kehilangan Motor
Kota Medan, Sumatera Utara - (11/06/26) Saat sedang melintas di jalanan, Jestham melihat seorang abang ojol yang tengah berhenti di pinggir jalan. Wajahnya lesu, tatapannya kosong. Jestham pun menghampiri dan bertanya, "Bang, ada orderan?" Abang itu menggeleng pelan. "Masih belum ada, Kak. Udah lama di sini, sepi." Jestham tersenyum dan menawarkan sesuatu yang tak pernah disangka. "Ada rezeki dari Tuhan. Belanja sembako sepuasnya, mau nggak?" Tanpa pikir panjang, abang itu mengangguk. "Mau, Kak."
Sesampainya di minimarket terdekat, Jestham menjelaskan aturan mainnya. Dalam durasi dua menit, abang ojol itu boleh mengambil apa saja kebutuhan rumah yang paling penting. "Untuk anak-anak saya, nanti bapak pulang bawa beras banyak," ujarnya penuh semangat. Begitu hitungan dimulai, abang itu langsung berlari. Ia mengambil beras, minyak, gula, susu anak, mi instan, sabun, semua ia sambar dengan cepat. Hingga waktu habis, ia berhasil mengumpulkan berbagai macam kebutuhan pokok untuk dibawa pulang. "Puji Tuhan, ada juga orang baik yang bisa membantu untuk kebutuhan keluarga. Saya berterima kasih," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Sambil menunggu pembayaran, abang itu mulai bercerita. "Cuma ini pekerjaan saya, driver Grab. Udah banyak persaingan sekarang, kan. Sedangkan kredit kereta pun kadang nunggak," ujarnya lirih. Jestham mendengarkan dengan saksama. Seorang kepala rumah tangga yang memikirkan segalanya, berjuang untuk keluarga, namun keadaan tak selalu berpihak. "Saya sedih karena tiba-tiba ada orang baik yang membantu saya. Saya juga berterima kasih kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Tuhan telah mempertemukan dan menolong saya melalui orang baik. Semoga rezekinya semakin berlimpah dan terhindar dari segala kecelakaan. Amin," doanya tulus untuk Jestham.
Abang itu juga menceritakan bagaimana ia berjuang sehari-hari. Ia bahkan pernah hampir dibegal, namun Tuhan masih melindunginya sampai saat ini. "Hari ini doa-doa Abang dijawab sama Tuhan, iya kan?" kata Jestham yang ikut terharu. Abang itu mengangguk, matanya semakin basah. Ia selalu mengandalkan Tuhan di setiap langkahnya, bahkan ketika jalan terasa begitu berat.
Jestham kemudian menanyakan tentang sepeda motor yang menunggak. Abang itu menghela napas. "Setiap bulannya saya harus menyicil Rp810.000. Baru Rp200.000 yang didapat. Udah nunggak sekitar 15 hari, udah 3 kali ditelpon dari kolektornya," ceritanya. Ia berjuang mencari talangan dana untuk menutupi dulu. Jika dalam 5 hari dari saat itu belum terbayar, sepeda motornya akan ditarik. Jestham bertanya, bagaimana jika sarana satu-satunya untuk mencari nafkah itu ditarik? Abang itu hanya bisa pasrah. Ia hanya berusaha semaksimal mungkin.
Bahkan, ia sempat berpikir jika itu terjadi, mereka akan pulang kampung saja. Namun tetap ada kesulitan baru, karena kehidupan di kampung juga sulit mendapat pekerjaan. "Saya berserah. Saya berdoa ketika Tuhan benar-benar membukakan jalan. Saya juga sungguh-sungguh untuk bekerja. Saya berdoa untuk jalan terbaik. Mungkinlah hari ini Tuhan itu menjawab dan menunjukkan orang-orang terbaik. Puji Tuhan," syukurnya. Ia mengaku sejak merantau, baru inilah ia mendapatkan rezeki bertemu orang-orang seperti ini.

Jestham pun memberikan tambahan rezeki untuk abang itu. "Bang, rezeki buat Abang untuk bayar kereta, ya. Saya tambahkan sedikit lagi," ucapnya sambil menyerahkan uang tunai. Abang itu terkejut, tak percaya. "Terima kasih, Kak. Terima kasih banyak," ucapnya dengan suara bergetar. Saat ditanyai tentang anak, abang ojol itu mengungkapkan betapa besarnya rasa sayangnya. "Saya terpikir kalau saya nggak kerja, gimana anak-anak? Apa yang saya kasih? Makanan untuk anak-anak saya." Ia yakin dan percaya bahwa Tuhan memberikan kesulitan, maka Tuhan juga membukakan jalan untuk setiap kesulitan itu. "Tuhan itu luar biasa. Mungkinlah ini perpanjangan tangan Tuhan kepada orang-orang baik seperti Kakak dan semuanya ini."
Sebelum berpisah, abang itu menyampaikan pesan untuk anak-anaknya. "Untuk anak-anak saya, maafin bapak jika bapak tidak bisa memenuhi semua. Tetapi bapak sudah berjuang pagi, siang, dan malam. Saya sebagai bapak minta maaf untuk anak saya, untuk kekurangan, kebutuhan keluarga kita, karena rezeki terbatas," ujarnya dengan suara yang dalam. Jestham pun menutup pertemuan itu dengan doa yang tulus. "Bang, saya doakan Abang sehat selalu. Ngojeknya lancar, rezekinya lancar. Selalu andalkan Tuhan juga. Ini barang bawa pulang. Semoga bawa suka cita di dalam rumah dan keluarga. Jadi berkat untuk keluarga." Abang itu mengangguk, membawa pulang bukan hanya sembako, tapi juga harapan bahwa hidup masih punya jalan.







