Puasa di Tengah Jalan, Kaki Sakit, dan Doa untuk Anak: Kisah Haru Bapak Ojol

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: tiktok/@jesicathamrin
Sumber: tiktok/@jesicathamrin

Puasa di Tengah Jalan, Kaki Sakit, dan Doa untuk Anak: Kisah Haru Bapak Ojol

Kota Medan, Sumatera Utara - (02/06/26) Orderan sepi. Sebuah kalimat yang sering terdengar, tapi kali ini terdengar berbeda. Jestham melihat seorang bapak ojol duduk termenung di pinggir jalan, menunggu orderan yang entah kapan datang. "Bapak, permisi saya mau tanya, ada orderan nggak ya, Pak?" sapa Jestham menghampiri. Bapak itu menggeleng pelan. "Nggak ada orderan. Sepi," jawabnya lirih. Jestham pun duduk di sampingnya dan mulai berbincang.



"Bapak, begini deh. Saya ada rezeki dari Tuhan. Belanja sembako sepuasnya, mau nggak?" tawar Jestham. Raut wajah bapak itu langsung berubah. Ada kesedihan, ada keterkejutan, ada juga ketidakpercayaan. "Bagaimana ya... namanya rezeki itu tidak ada yang menolak, karena doa," jawabnya dengan suara bergetar. Jestham tersenyum dan menunjuk ke arah minimarket yang tak jauh dari mereka. "Kita ke sana ya, Pak."



Bapak itu mengikuti mobil Jestham dari belakang. Sesampainya di minimarket, ia masih merasa tak percaya. "Seperti mimpi," ujarnya pelan. Jestham mempersilakannya masuk dan bertanya, "Kebutuhan rumah paling penting saat ini apa?" Bapak itu menjawab, "Ya biasalah, beras, minyak, segala macam." Ia mengaku bahwa beras di rumah sudah habis. Ia tinggal sendirian, terpisah dari anak dan istrinya.



Jestham mulai menjelaskan bahwa biasanya ia memberi durasi dua menit untuk belanja sepuasnya. Namun kali ini, ia melihat kondisi kaki bapak itu yang sedang sakit akibat jatuh dari sepeda motor. "Jangan pakai durasi ya, Pak. Kita ambil aja yang sesuai kebutuhan," ucap Jestham lembut. Pelan-pelan, dengan dibantu Jestham, mereka mulai mengambil beras, minyak, kecap, gula, telur, dan mi instan.


Dengan tersenyum bahagia, bapak ojol ini memasukkan berbagai bahan kebutuhan pokok ke dalam keranjang belanjanya di minimarket.
Dengan tersenyum bahagia, bapak ojol ini memasukkan berbagai bahan kebutuhan pokok ke dalam keranjang belanjanya di minimarket.

Jestham terus mempersilakan bapak itu mengambil lebih banyak. Setiap kali bapak itu berkata "Cukup", Jestham selalu menambahkan lagi. Mereka mengelilingi rak demi rak, sampai berhasil mengumpulkan berbagai macam sembako. Sambil menunggu semua barang ditotalkan, Jestham mengajak bapak itu berbincang. "Entah mimpi apa saya malam tadi. Nggak saya kira-kira. Dari pagi keluar cuma dapat Rp10.000," ujarnya. Ia juga mengaku sedang berpuasa hari itu. "Rezeki bapak puasa ya," kata Jestham.



Jestham kemudian menanyakan tentang kecelakaan yang menimpa bapak itu. "Jatuh. Maklum aja lah, Kak. Jatuh sudah macam tersiram air panas gitu. Kita nggak bisa menyalahkan. Tapi alhamdulillah sembuh," jelasnya sambil menunjukkan bekas luka di kakinya. Ia lalu bercerita tentang anaknya yang merupakan satu-satunya, kini tengah duduk di bangku 2 SMA. Anaknya tinggal bersama ibunya karena mereka telah berpisah.



"Kalau anak itu tanggung jawab kita sebagai seorang bapak. Kita sekolahkan dia, kita kasih biaya," ujarnya dengan penuh keyakinan. "Walaupun orang tuanya kayak gini, kalau anak janganlah. Biar dia sekolah, sekolahkan sampai tinggi." Jestham terdiam. Betapa besar kasih sayang seorang ayah, meski hidupnya sendiri sedang sulit. Ketika ditanyai apakah ada pesan yang ingin disampaikan untuk anaknya, bapak itu memejamkan mata sejenak, lalu mulai berbicara dengan suara yang dalam.



"Nak, abi sekarang belum sempat membelikan kereta, nak. Memang itu keinginan kamu, nak. Tapi abi menjaga kehidupan kamu untuk selamanya. Makanya abi nggak mau membelikan kereta untuk kamu karena abi takut. Kamu itu anak abi satu-satunya, buat abi. Untuk masa depan dunia akhirat, nak. Abi minta maaf nggak bisa memberikan. Yang penting kamu selesaikan sekolahmu, capai cita-cita kamu, apa keinginanmu, insyaallah abi akan membiayai kamu. Mudah-mudahan Allah mengabulkan, nak. Abi minta doa kamu supaya abi lancar, sukses, dan berusaha selagi abi hidup. Mudah-mudahan Allah mengabulkan permintaan kamu, nak. Amin ya Allah."


Wajah penuh rasa syukur terpancar dari bapak ojol saat membagikan cerita kehidupannya kepada Jestham.
Wajah penuh rasa syukur terpancar dari bapak ojol saat membagikan cerita kehidupannya kepada Jestham.

Jestham yang mendengarkan turut merasakan bagaimana dalamnya perasaan tulus kasih sayang dari seorang ayah untuk anaknya. Ia pun memberikan ongkos lebih untuk bapak itu. "Pak, ini saya ada ongkos buat bawa pulang barangnya. Boleh pesan ojolnya. Ini saya kasih dan saya lebihin buat Bapak. Ini ya, Pak, ongkosnya," ucap Jestham tulus. Bapak itu menerimanya dengan tangan gemetar. "Terima kasih. Panjang umur ya, Kak. Murah rezekinya ya, Kak," doanya penuh syukur, yang sekaligus menjadi akhir dari pertemuan mereka.



Perjuangan seorang bapak ojol mungkin tak terlihat oleh banyak orang. Kaki yang sakit, puasa di tengah jalan, orderan sepi, dan hidup terpisah dari anak namun ia tak pernah menyerah. Kebaikan sederhana bisa menjadi jawaban atas doa yang tak pernah terucap. Semoga setiap orang yang berjuang di jalanan selalu diberi kekuatan, dan semoga anak-anak mereka kelak menjadi alasan untuk terus melangkah.

ReferensiPuasa di Tengah Jalan, Kaki Sakit, dan Doa untuk Anak: Kisah Haru Bapak Ojol