Hidup di Becak, Hati Tetap Lapang: Kisah Jestham dan Bapak yang Tak Pernah Lupa Berbagi

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: tiktok/@jesicathamrin
Sumber: tiktok/@jesicathamrin

Hidup di Becak, Hati Tetap Lapang: Kisah Jestham dan Bapak yang Tak Pernah Lupa Berbagi

Kota Medan, Sumatera Utara - (24/05/26) Ada pertemuan yang mengubah cara pandang kita tentang kehidupan. Itulah yang dirasakan Jestham ketika bertemu dengan seorang bapak becak di pinggir jalan. Awalnya, Jestham hanya ingin naik becak ke suatu tempat. Namun, begitu sampai di tujuan, sesuatu mengganjal di hatinya. "Pak, saya nggak ada uangnya, Pak. Gimana kalau saya bayarnya pakai belanja sepuasnya di dalam?" tawar Jestham. Sang bapak tersenyum dan mengangguk. Tanpa disadari, satu tawaran sederhana itu membuka pintu menuju kisah yang jauh lebih dalam dari sekadar transaksi becak biasa.



Sesampainya di minimarket, Jestham bertanya dengan siapa bapak itu tinggal. Jawabannya membuat hati Jestham tercekat. "Tinggal sendiri lah, Bu. Di becak ini aku tidur," ucapnya polos. Jestham hampir tak percaya. "Oh, di becak ini tidurnya? Jadi nggak ada rumah?" Sang bapak mengangguk. Jestham bertanya berapa lama sudah tinggal di becak. Jawabannya kembali menusuk: "Mulai tahun 2018, Bu." Tujuh tahun hidup di atas becak, menjadikannya sebagai rumah, tempat tidur, dan satu-satunya tempat berlindung. Jestham hanya bisa terdiam, mencoba mencerna realita yang begitu berat di hadapannya.



Namun, Jestham tidak membiarkan suasana larut dalam kesedihan. Ia segera mengajak bapak itu berbelanja. "Kita beli yang butuh-butuh aja ya, Pak. Bapak pengen beli apa?" tanyanya. "Beras lah, Bu. Beras," jawab sang bapak. Namun ada satu hal yang membuat Jestham terkesima. Bapak itu tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia berkata, "Beras bisa nanti numpang sama kawan. Nanti bagi sama teman." Jestham tersenyum haru. Di tengah segala kekurangannya, bapak ini masih ingat untuk berbagi dengan teman-temannya. Jestham pun membantunya mengambil beras, mi instan, kopi, gula aren, hingga minuman kaleng.



Bukan hanya kebutuhan pokok, Jestham juga memastikan kesehatan sang bapak tetap terjaga. Ia melihat bapak itu sering meraba perutnya. "Pak, obat-obat mau nggak? Promag kalau ada promag," tanya Jestham. Ternyata, bapak itu sering sakit maag. "Sering kelaparan lah, Bu," jawabnya malu-malu. Jestham langsung memasukkan promag dan tolak angin ke dalam keranjang. Ia juga menambahkan sabun mandi dan vitamin C. "Biar bapaknya segar, biar nggak panas lah," ucapnya tulus. Sang bapak hanya bisa tersenyum, matanya berkaca-kaca melihat perhatian yang luar biasa dari seorang yang baru dikenalnya.



Di tengah belanja, Jestham bertanya, "Bapak kalau dapat rezeki, buat apa?" Dengan semangat, bapak itu menjawab, "Bagi-bagi sama kawan, lah. Nanti jumpa lagi sama-sama. Apa yang saya ambil, bagi-bagi merata." Jestham terkagum-kagum. Seorang yang tinggal di becak, penghasilannya tidak menentu, bahkan sering kelaparan, tetapi ia tidak pernah lupa pada teman-temannya. "Luar biasa bapak ini, ya," gumam Jestham dalam hati. Ia pun menambahkan lebih banyak barang agar sang bapak bisa berbagi dengan semua temannya. "Saya ambilin banyak, Pak. Biar sama segar semuanya, Pak," kata Jestham sambil terus mengisi keranjang.



Ketika Jestham bertanya tentang penghasilan, sang bapak mengaku bisa mendapatkan 300 hingga 500 ribu rupiah sebulan. Jumlah itu harus dibagi untuk kebutuhan sehari-hari, setoran becak, dan sewa becak. "Kadang kalau nggak dapat pagi atau siang, nanti malam narik, nanti minum sendiri," ucapnya menggambarkan perjuangan yang tak pernah usai. Jestham bertanya apa yang paling ia syukuri dalam hidup. Dengan mata berbinar, bapak itu menjawab, "Sehat lah, Kak. Walaupun yang segini bisa-bisa aku tahan. Masih punya tangan, punya lengkap, pikiran masih bisa jalan. Itu pun udah kita syukuri sama Tuhan Yang Maha Kuasa."



Sebelum berpisah, Jestham memberikan kejutan terakhir. "Pak, kalau saya kasih rezeki, apa yang pengen bapak beli?" "Ikan tongkol, ikan lele," jawabnya sambil tersenyum. Jestham pun memberikan uang tunai dan berkata, "Ini rezekinya, Pak. Jangan kelaparan lagi, ya." Sang bapak menerimanya dengan tangan gemetar. "Makasih banyak, Kak. Murah rezeki, panjang umur. Di sore ini Tuhan, aku nggak nyangka Tuhan ada kakak sama abang ini. Senang kali aku belanja hari ini. Rezeki nggak terduga, uang kaget. Terima kasih banyak, Tuhan," doanya dengan penuh haru. Jestham mengangguk, ikut merasakan kebahagiaan yang sederhana namun begitu bermakna.



Kisah ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak diukur dari apa yang kita miliki, tapi dari seberapa besar kita mampu bersyukur dan berbagi dengan sesama. Seorang bapak yang tinggal di becak, tanpa rumah, tanpa harta, namun hatinya seluas lautan. Ia mengajarkan bahwa dalam keterbatasan pun, kita masih bisa memberi. Jestham menutup pertemuan mereka dengan doa, "Semoga apa yang kita belanjakan hari ini berkah. Nanti bawa pulang, bagi-bagi ke teman-teman, ya." Sang bapak mengangguk, senyumnya merekah, membawa pulang bukan hanya sembako, tapi juga harapan bahwa di dunia ini masih ada orang baik yang peduli.