2 Menit yang Mengubah Segalanya: Haru Biru Bapak Binsar dan Misi Belanja Kilat Jestham

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: youtube/@ownerjestham
Sumber: youtube/@ownerjestham

2 Menit yang Mengubah Segalanya: Haru Biru Bapak Binsar dan Misi Belanja Kilat Jestham

Kota Medan, Sumatera Utara - Pernahkah kamu membayangkan, apa yang akan kamu ambil jika hanya diberi waktu 2 menit untuk berbelanja gratis sepuasnya? Itulah tantangan seru yang kali ini dilontarkan Jestham kepada seorang bapak bernama Binsar. Pertemuan mereka terjadi di pinggir jalan, saat Jestham melihat raut wajah bapak yang tampak linglung dan letih. Tanpa banyak tanya, Jestham langsung mengajaknya ke Indomaret terdekat dengan satu misi sederhana, membuat bahagia, meski hanya dalam hitungan menit.



"Bapak, saya ada rezeki dari Tuhan untuk belanja sembako sepuasnya. Mau enggak kita ke sana?" tawar Jestham. Tanpa pikir panjang, Bapak Binsar pun mengangguk. Sesampainya di dalam minimarket, Jestham memberikan aturan main yang bikin deg-degan, durasi hanya 2 menit! "Selama 2 menit, Bapak boleh ambil apa aja yang di dalam sini. Saya kasih durasi waktu 2 menit. Siap, Pak? Siap... 2...1... Mulai!" teriak Jestham memberi aba-aba, langsung disambut dengan gerak cepat sang bapak yang tiba-tiba berubah menjadi atlet belanja dadakan.



Satu keranjang, dua keranjang, hingga tiga keranjang mulai penuh! Jestham berteriak memberikan semangat, "Cepat, Pak! Ambil, Pak! Ambil lagi! Minyak mau enggak, Pak? Telur, Pak! Telur di depan! Indomie! Indomie!" Bapak Binsar bolak-balik mengambil beras, minyak goreng, telur, mi instan, hingga sabun cuci. Ia memakai kedua tangannya agar lebih cepat, sesekali tertawa kecil karena terbawa suasana seru yang diciptakan Jestham.



Setelah waktu habis dan semua barang dihitung, wajah Bapak Binsar berubah haru. Matanya berkaca-kaca. Ia mengaku, "Jujur saya enggak pernah belanja sebanyak ini sebelumnya. Paling kalau saya pun belanja beli beras itu hanya satu karung yang 5 kiloan. Kalaupun beli minyak, itu beli minyak yang minyak curah yang seperempatan aja." Jestham pun terdiam, mendengar betapa sederhananya kebutuhan sehari-hari yang selama ini susah ia penuhi. Di balik keranjang-keranjang penuh itu, ada sebuah keluarga yang selama ini hanya bisa bermimpi untuk sekadar kenyang.



Perbincangan hangat pun terjalin. Jestham bertanya tentang anak-anaknya. Ternyata, Bapak Binsar memiliki 4 orang anak yang semuanya masih sekolah. Hari itu, ia mengaku orderan sedang sepi. Bahkan, di rumah pun sudah tidak ada stok beras sama sekali. "Saya mikirin anak-anak aja di rumah, Bu. Karena di rumah belum ada beras juga. Jadi dari tadi kepikiran gitu," ujarnya dengan suara bergetar. Lebih mengharukan lagi, saat ditanya apakah ia sudah makan, Bapak Binsar menjawab dengan lantang, "Karena saya belum makan sampai tengah malam pun saya enggak ada masalah. Yang penting anak-anak saya bisa makan duluan daripada saya."



Jestham yang mendengar itu sontak merasakan perih di dadanya. Ia menatap jaket Grab yang dikenakan Bapak Binsar yang sudah tampak lusuh dan robek. "Saya pernah tanya sih atribut begini kalau tidak salah harganya 200-an ya, Pak ya?" tanya Jestham. Sang bapak menjawab dengan polos namun menusuk hati, "Daripada beli atribut, lebih baik memenuhi kebutuhan di rumah dulu. Beli atribut juga enggak bisa nyicil, harus bayar tunai cash ke kantornya." Kalimat itu menjadi tamparan realita bahwa bagi sebagian orang, seragam kerja adalah kemewahan yang harus dikorbankan demi perut anak-anak di rumah.



Mendengar pengorbanan yang begitu dalam, Jestham tak bisa tinggal diam. "Saya ada rezeki ini. Bisa enggak Bapak gunakan sebagian dari rezeki ini untuk beli atributnya? Sisanya Bapak bisa bawa anak-anak pergi jalan-jalan," ucap Jestham sambil memberikan bantuan tulus. Saat itu juga, Bapak Binsar tak kuasa menahan haru. Ia mengaku, selama ia bekerja menjadi driver Grab, belum pernah ada orang yang memberinya rezeki sebanyak ini. "Saya terharu saja, Bu. Itu berkat Tuhan ya, Bu," ucapnya sambil berdeham menahan tangis bahagia yang hampir pecah.



Kisah Bapak Binsar adalah pengingat bagi kita semua bahwa di balik setiap senyuman yang terpaksa dipaksakan, ada perjuangan yang tak terlihat. Pengorbanan seorang ayah untuk anak-anaknya tidak pernah bisa diukur dengan uang. Jestham kembali membuktikan bahwa berbagi tidak harus selalu dalam waktu yang lama, hanya dengan 2 menit dan perhatian tulus, ia mampu mengubah hari seorang ayah yang hampir menyerah. Sebelum berpisah, Jestham bahkan menyiapkan ongkos Grab untuk mengantar sembako itu pulang. "Nanti Bapak boleh pesan Grab, di bawa pulang," katanya. Bapak Binsar hanya bisa mengangguk dengan air mata kebahagiaan, berdoa semoga kebaikan ini berbalas berlipat untuk Jestham dan semua orang baik di luar sana.