Ketika Rezeki Berbuah Senyuman: Kisah Jestham dan Seorang Bapak Becak

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: tiktok/@jesicathamrin
Sumber: tiktok/@jesicathamrin

Ketika Rezeki Berbuah Senyuman: Kisah Jestham dan Seorang Bapak Becak

Kota Medan, Sumatera Utara - (20/04/26) Kadang, rezeki itu datang bukan hanya untuk dinikmati sendiri, melainkan untuk dibagi. Itulah yang dirasakan oleh Jestham pada suatu hari ketika ia bertemu dengan seorang bapak tua di pinggir jalan. Sang bapak sedang mengayuh becaknya dengan tubuh yang tampak rapuh namun semangat yang tak pernah padam. Baginya, becak adalah satu-satunya sumber pendapatan untuk menghidupi keluarga di rumah. Hari itu, ia sedang berkeliling mencari penumpang di tengah teriknya matahari.



Melihat kondisi itu, hati Jestham tergerak. Tanpa pikir panjang, ia menghampiri dan menawarkan sesuatu yang mungkin tak pernah disangka oleh sang bapak. "Pak, saya ada rezeki dari Tuhan. Belanja sembako sepuasnya, mau nggak?" tawar Jestham dengan senyum tulus. Mendengar itu, raut wajah bapak itu langsung berubah. Dari lelah menjadi berseri-seri. Tanpa ragu, ia mengangguk sambil mengucap syukur, "Alhamdulillah." Sebuah jawaban singkat yang sarat makna.



Sesampainya di minimarket, Jestham kembali menjelaskan maksudnya. Biasanya, misi traktir sembako ini dilakukan dengan durasi singkat. Namun, karena kondisi bapak yang sudah lanjut usia, Jestham memutuskan untuk memberikan waktu lebih. Ia mempersilakan sang bapak untuk mengumpulkan satu per satu keperluan pokok rumah tangga yang akan dibawa pulang untuk keluarganya. Mulai dari beras, minyak goreng, mie instan, telur, sabun, gula, hingga berbagai kebutuhan pokok lainnya. Semua dipilih dengan penuh perhatian.



Saat mengambil beras, Jestham bertanya, "Di rumah ada berapa orang, Pak?" Bapak itu menjawab bahwa ia tinggal bersama anak, istri, dan cucu. Mendengar itu, Jestham langsung menambahkan jatah berasnya. "Kalau gitu saya tambahin berasnya ya, untuk stok di rumah. Agak banyak ya, Pak, saya tambahin." Bapak itu hanya bisa tersenyum dan mengucapkan rasa syukur yang tak terhingga. Setiap barang yang masuk ke keranjang adalah kebahagiaan yang ia rasakan.



Setelah semua kebutuhan terkumpul, perbincangan hangat terjalin. Bapak yang berusia 69 tahun itu bercerita bahwa dalam sehari, ia baru mengumpulkan uang sebanyak Rp35.000. Bahkan, ia belum sempat makan. Setiap hari, ia narik becak dari pagi hingga malam, berharap ada penumpang yang mau menggunakan jasanya. "Orderan sepi, nggak nyangka dapat rezeki banyak. Nggak sabar bawa ke rumah, pasti senang nengoknya," ucapnya dengan raut wajah yang berseri-seri.



Tak berhenti di situ, Jestham kembali bertanya, "Kalau saya ada rezeki untuk beli makan, makanan apa yang pengen Bapak beli?" Sang bapak langsung teringat makanan kesukaan anak dan istrinya. Ia menjawab ingin membeli sate padang dan pecal, makanan sederhana yang tak semua orang dengan mudah bisa membelinya. Jestham yang mendengar itu langsung memberikan kejutan lagi. Beberapa lembar uang tunai disodorkan dengan tulus. "Pak, saya ada rezeki lagi, semoga ini bisa bermanfaat. Saya izin kasih ya, Pak," ucap Jestham.



"Alhamdulillah, alhamdulillah, bersyukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Semoga rezeki ibu dan semua semakin bertambah ya, Allah," doa bapak itu dipanjatkan dengan penuh haru. Jestham pun membalas doa yang sama, mendoakan kesehatan dan keberkahan untuk sang bapak. Sebelum berpisah, Jestham berkata, "Bapak, saya doakan Bapak sehat selalu ya." Bapak itu mengangguk, tak sabar untuk segera pulang dan membawa kabar bahagia ini kepada anak dan istrinya di rumah.



"Semoga berkah ya, Bapak, untuk kita semua," pamit Jestham dengan senyum. Sebuah pertemuan singkat yang meninggalkan makna mendalam. Bahwa berbagi tak pernah mengurangi rezeki, justru melipatgandakan kebahagiaan. Dan kadang, kebahagiaan sejati terletak pada senyuman yang tercipta dari uluran tangan kita.