Berhenti di Lampu Merah, Berbagi Kebahagiaan: Kisah Jestham dan Bapak Penjual Tisu

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: tiktok/@jesicathamrin
Sumber: tiktok/@jesicathamrin

Berhenti di Lampu Merah, Berbagi Kebahagiaan: Kisah Jestham dan Bapak Penjual Tisu

Kota Medan, Sumatera Utara - (26/07/26) Lampu merah menyala. Kendaraan pun berhenti. Di sela-sela waktu tunggu itu, Jestham melihat seorang bapak tua yang sedang berkeliling menjajakan tisu. Langkahnya pelan, wajahnya lelah, namun ia tetap berusaha menghampiri setiap mobil yang berhenti. Jestham pun membuka kaca jendela dan memanggilnya dengan ramah. "Bapak, berapa tisunya, Pak?" Bapak itu menghampiri dengan senyum tipis. "Yang kecil Rp10.000, yang besar Rp15.000," jawabnya. Jestham mengangguk, lalu bertanya lagi, "Sudah laku berapa, Pak?" Bapak itu menjawab dengan suara lirih, "Baru dua, Kak."



Mendengar jawaban itu, hati Jestham tergerak. Ia pun berkata, "Saya beli semua deh, Pak." Bapak itu terkejut. Matanya membelalak, tak menyangka akan mendapat rezeki sebesar itu. Jestham mengambil dua bungkus tisu dan beberapa botol air mineral yang dibawa bapak itu. "Berapa ini semua, Pak?" tanya Jestham. Bapak itu langsung menghitung dagangannya. "Rp35.000, Kak," jawabnya dengan suara bergetar. Jestham tersenyum dan mengeluarkan beberapa lembaran uang yang nilainya lebih dari harga yang seharusnya.


Bapak penjual tisu menunjukkan bungkus tisunya ke arah jendela mobil saat berinteraksi dengan Jestham di jalanan.
Bapak penjual tisu menunjukkan bungkus tisunya ke arah jendela mobil saat berinteraksi dengan Jestham di jalanan.

"Rp35.000? Saya bayarnya segini ya, Pak," ucap Jestham sambil menyerahkan uang itu. Bapak tersebut menerimanya dengan terkejut. "Aduh, banyak sekali, Kak. Alhamdulillahi rabbil 'alamin," ucapnya penuh syukur. Ia tak pernah menyangka, di hari yang sepi itu, ia justru mendapatkan rezeki yang jauh lebih besar dari biasanya. Jestham tersenyum hangat, "Alhamdulillah. Sehat-sehat ya, Bapak ya."



Jestham juga menyempatkan diri bertanya, "Bapak sudah makan?" Bapak itu menggeleng pelan. Jestham hanya bisa mengangguk, merasakan getir di hati. Betapa banyak orang di luar sana yang harus menahan lapar demi mencari nafkah. Namun ia juga tahu, ia tidak bisa memaksa. Yang bisa ia lakukan adalah memastikan bapak itu pulang dengan membawa lebih dari yang ia harapkan.



Sebelum berpisah, Jestham mengucapkan pamit dengan penuh kelembutan. "Kami permisi ya, Pak. Laris manis jualannya," ucapnya sambil tersenyum. Bapak itu mengangguk, mengucap terima kasih berulang-ulang. Jestham pun melambaikan tangan, meninggalkan lampu merah itu dengan hati yang ringan. Pertemuan singkat, namun penuh makna.



Dalam ketidaksengajaan itu, Jestham kembali berhasil menebarkan sedikit kebahagiaan dan keberkahan untuk sesama. Rezeki yang kita bagi, tak akan pernah mengurangi apa yang kita miliki. Justru, ia akan kembali berlipat ganda dalam bentuk yang tak terduga.



Kebaikan memang tidak pernah memerlukan syarat yang rumit. Cukup dengan kepekaan dan hati yang tulus, kita bisa menjadi alasan seseorang tersenyum di penghujung hari yang melelahkan. Semoga semakin banyak orang yang tergerak untuk melakukan hal yang sama, dan semoga setiap kebaikan yang kita tebar selalu menemukan jalan untuk kembali berlipat ganda.