Orderan Sepi, Ponsel Tergadai: Kisah Haru Abang Ojol yang Terus Berjuang untuk Keluarga

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: tiktok/@jesicathamrin
Sumber: tiktok/@jesicathamrin

Orderan Sepi, Ponsel Tergadai: Kisah Haru Abang Ojol yang Terus Berjuang untuk Keluarga

Kota Medan, Sumatera Utara - Sore itu, Jestham bersama tim sedang bersiap menjalankan misi rutinnya, belanja sembako sepuasnya selama dua menit. Namun sebelum misi dimulai, mereka tak sengaja bertemu dengan seorang abang ojek online yang sedang bersiap mengantar orderan. Melihat kesempatan itu, Jestham langsung menghampiri dan menawarkan, "Bang, saya ada rezeki dari Tuhan. Belanja sepuasnya mau nggak? Dua menit?" Tanpa pikir panjang, abang itu menjawab, "Mau." Jestham pun mengarahkannya, "Abang antar dulu orderannya, saya tungguin di Indomaret sini ya."



Setelah selesai, obrolan pun dimulai. "Banyak orderan kita, Bang?" tanya Jestham. Abang itu menghela napas, "Udah dua minggu ini sepi. Butuh bayar anak sekolah lagi belum, kan. Sepi lah. Paling dapat cuma Rp80.000 dari pagi sampai malam, kadang sampai jam 3 malam lagi." Jestham terdiam mendengarnya. Ia lalu memperhatikan raut wajah abang itu yang tampak murung. "Kenapa sedih?" tanyanya lembut. Abang itu menjawab dengan senyum yang masih ia pertahankan, "Gimana lagi, Ci. Udah memang jalannya kayak gini ya kan. Udah muter-muter nyari orderan, nggak taunya ketemu Cici. Saya sering lihat di TikTok."



Jestham kemudian bertanya, "Biasanya kebutuhan rumah paling penting apa, Bang?" Abang itu menjawab, "Kebutuhan pokok. Kebetulan beras sudah habis, minyak, gula gitu, udah habis." Ia juga mengaku bahwa selama ini hanya membeli dua sampai tiga kilogram beras karena orderan yang sepi. Sementara ia harus membiayai sekolah anaknya yang sebentar lagi mau ujian, dan satu lagi mau tamat sekolah. Beban yang berat, namun ia tetap bertahan.



Misi belanja pun dimulai. Jestham memberi durasi dua menit, dan setelah hitungan mundur, abang ojol itu bergerak cepat. "Cepat, Pak! Lagi, lagi, Pak! Di rumah berapa orang, Pak?" tanya Jestham sambil mereka mengambil beras. Mengetahui ada enam orang di rumah, Jestham menambahkan beberapa karung beras lagi untuk stok. Dilanjutkan dengan gula, telur, minyak goreng, mi instan, makanan ringan, sabun, kopi, dan susu untuk anak. Hingga waktu habis, abang itu berhasil mengumpulkan berbagai macam kebutuhan pokok untuk dibawa pulang.



Setelah belanja selesai, mereka kembali berbincang. "Kebetulan kemarin orang rumah cuma beli beras dua kilo aja. Memang udah nampak habis," ujar abang itu. Ia kemudian mencurahkan isi hatinya. "Sepi orderan. Sehari bisa dapat Rp80.000, Rp30.000, bahkan maaf cakap ya, Ci, handphone saya pun tergadai. Karena untuk menutupin ini." Jestham tertegun. Seorang ayah yang harus menggadaikan ponselnya, alat kerja utamanya demi bertahan hidup.



Jestham lalu bertanya, "Jadi, Bang, ada nggak kata-kata yang pengen Abang sampaikan sama anak?" Abang itu terdiam sejenak. Matanya mulai berkaca-kaca. "Ya untuk anak-anak, mudah-mudahan rezekinya lebih dari ayahnya. Jangan kerja panas-panasan. Mudah-mudahan dapat kerja yang enak dan berbakti kepada orang tua, agama. Pokoknya diharapkan harus bisa menjadi yang lebih terbaik dari yang lain," pesannya sambil tak bisa menahan air mata. Ia juga menceritakan, "Kadang pas lagi nggak ada duit, kadang anak-anak minta Rp2.000 pun nggak ada. Nanti ya, Papa cari dulu. Kadang nanti sampai udah pulang malam, dia udah tidur. Sekarang jarang jumpa."



Tak hanya untuk anak, abang itu juga menyampaikan pesan untuk istrinya. "Buat istri saya, abang minta maaf kadang sering marah-marah nggak nentu, nggak tahu arah. Kadang adik minta pun belum ada. Ya abang usahakan semampu mungkin. Kalau ada kita beli, kalau nggak ada ya kita usahakan lagi. Semoga adik sabar." Ia mengaku terharu menceritakan perjuangan harinya sebagai driver ojol yang berkeliling ke mana pun, belum lagi kendala harus menelpon customer yang sulit dihubungi, menunggu orderan sepi yang terkadang setengah jam sekali bahkan satu jam sekali.



"Kadang nggak ada di rumah, tapi hatinya selalu di rumah untuk keluarga, ya. Udah dapat berapa nih, Bang?" Abang itu menjawab bahwa hari itu ia baru mendapatkan sekitar Rp67.000, belum lagi untuk mengisi bahan bakar kendaraan. Ia juga mencurahkan kisahnya yang pernah tidak memiliki apa pun di rumah. Anak yang mau sekolah besok hari bahkan tidak punya uang saku. Karena itu, ia memutuskan untuk narik ojol dari jam 1 malam sampai jam 7 pagi, demi uang saku anak sekolah keesokan paginya. "Itulah namanya kita berjuang, pasti ada jalan," katanya dengan penuh keyakinan.



Mendengar semua itu, Jestham tak bisa tinggal diam. "Bang, ini saya ada rezeki dari Tuhan untuk Abang. Mana tau bisa bayar uang sekolah," ucapnya sambil menyerahkan lembaran uang tunai. Abang itu langsung menadahkan tangannya, memanjatkan doa dengan penuh syukur. "Alhamdulillah, makasih banyak ya, Ci. Mudah-mudahan rezeki Cici sehat semua keluarga, diberikan keberkahan semuanya. Amin." Jestham tersenyum dan membalas doanya, "Semoga berkah untuk kita semuanya ya, Bang. Saya doakan Abang sama keluarga sehat-sehat. Jangan marah-marah terus sama istri, Bang, ya. Biar rezekinya lancar. Pokoknya sayang keluarga, sayang istri, rezekinya pasti lancar. Amin ya, Bang, ya."



Perjuangan seorang abang ojol mungkin tak terlihat oleh banyak orang. Orderan sepi, ponsel tergadai, jarang bertemu anak dan istri, namun ia tak pernah menyerah. Semoga setiap orang yang berjuang di jalanan selalu diberi kekuatan, dan semoga keluarga mereka kelak menjadi alasan untuk terus melangkah. (05/03/26)