Tongkat, Kaki yang Tak Sempurna, dan Semangat yang Tak Pernah Patah

Tongkat, Kaki yang Tak Sempurna, dan Semangat yang Tak Pernah Patah
Kota Medan, Sumatera Utara - (01/06/26) Lampu merah menyala. Kendaraan pun berhenti. Di sela-sela waktu tunggu itu, Jestham melihat pemandangan yang membuat hatinya tercekat. Seorang bapak dengan tongkat di tangannya, memapah kakinya yang tak lagi sempurna, berjalan pelan di antara kendaraan yang berhenti. Ia sedang menjajakan air mineral. Kendaraan demi kendaraan ia tawarkan, namun tak jarang Jestham melihat ia ditolak. Ada yang menggeleng, ada yang pura-pura tidak melihat. Namun bapak itu tetap melangkah, tetap mencoba, tetap berharap.
Jestham pun membuka kaca jendela dan memanggilnya dengan ramah. "Pak, berapa satu pak?" tanyanya. Bapak itu menghampiri dengan susah payah. "Rp6.000," jawabnya. Jestham tersenyum, "Rp6.000? Saya beli dua boleh? Sudah terjual banyak?" Bapak itu menggeleng pelan. "Belum. Sepi," ujarnya lirih. Satu kata yang sederhana, namun begitu berat maknanya. Jestham hanya bisa mengangguk, merasakan getir di hati.
Jestham kemudian bertanya, "Pak, sudah makan?" Bapak itu terdiam sejenak, lalu menggeleng. Ternyata sampai saat itu, ia belum makan. Mungkin sejak pagi ia sudah berkeliling, menawarkan dagangannya, menahan lapar demi sesuap nasi. Jestham tak bisa membiarkan itu. "Pak, saya ada rezeki dari Tuhan. Nanti beli makan ya, Pak," ucapnya sambil menyerahkan uang. Bapak itu terkejut. Matanya berkaca-kaca. "Makasih ya, Bu. Belum pernah dapat kayak gini," ucapnya dengan suara bergetar.
Kalimat itu sederhana, namun menusuk hati. "Belum pernah dapat kayak gini." Sebuah pengakuan yang menggambarkan betapa kerasnya hidup yang ia jalani. Betapa seringnya ia ditolak, diabaikan, bahkan mungkin dianggap tidak ada. Namun hari itu, di tengah lampu merah yang menyala, ada seseorang yang melihatnya. Ada seseorang yang peduli. Ada seseorang yang tidak hanya membeli dagangannya, tapi juga memastikan ia bisa makan.

Jestham tak bisa berlama-lama. Lampu segera berubah hijau. "Bapak, laris manis jualannya ya, Pak. Kebetulan ini udah lampu hijau, saya jalan dulu ya. Hati-hati ya, Pak, ya," pamitnya dengan penuh kelembutan. Bapak itu mengangguk, mengucap terima kasih sekali lagi. Senyumnya merekah, Jestham pun melambaikan tangan, meninggalkan bapak itu dengan hati yang penuh syukur.
Pertemuan singkat di lampu merah itu mungkin hanya berlangsung beberapa detik. Namun bagi bapak itu, momen tersebut bisa jadi menjadi salah satu momen paling berharga di hari itu. Bukan hanya karena uang yang ia terima, tapi karena ada seseorang yang mau bertanya, "Sudah makan?" Ada seseorang yang melihatnya sebagai manusia, bukan sekadar penjual air mineral di pinggir jalan.
Kisah mereka mungkin tidak terlihat, mungkin terabaikan, namun mereka ada. Dari kepedulian yang sederhana, dari perhatian yang tulus, dari keberanian untuk melihat mereka yang sering tak terlihat.







