Air Mata Bahagia di Tengah Kesepian: Kisah Jestham dan Bapak yang Tak Pernah Mengeluh

Air Mata Bahagia di Tengah Kesepian: Kisah Jestham dan Bapak yang Tak Pernah Mengeluh
Kota Medan, Sumatera Utara - (27/04/26) Ada pertemuan yang meninggalkan bekas di hati. Itulah yang dirasakan Jestham ketika melihat seorang bapak tua duduk termenung di pinggir jalan. Wajahnya tampak sedih, matanya berkaca-kaca. Jestham pun mendekat dan bertanya, "Pak, lagi ngapain? Nggak ada orderan?" Sang bapak menggeleng pelan. "Sepi kali orderannya, Bu," jawabnya lirih. Tanpa pikir panjang, Jestham menggandeng tangannya. "Bapak, saya ada rezeki dari Tuhan. Kita belanja sembako sepuasnya, mau nggak?" Wajah sedih itu perlahan berubah, senyuman tipis merekah. "Mau, Bu. Mau," jawabnya dengan mata berbinar.
Jestham mengajaknya ke minimarket terdekat. Di perjalanan, ia bertanya, "Bapak usianya berapa?" "63 tahun, Bu," jawabnya. Jestham tersentuh. Biasanya ia memberi durasi waktu dalam misi belanjanya, tapi kali ini ia memutuskan berbeda. "Karena bapaknya usianya sudah menua, saya nggak pakai durasi lagi. Kita ambil aja yang memang jadi kebutuhan di rumah," ucap Jestham dengan lembut.
Masuk ke dalam toko, Jestham bertanya kebutuhan paling penting di rumah saat ini. "Beras, ya. Minyak makan, ya," jawabnya. Jestham segera mengarahkan ke rak beras. "Silakan ambil, Pak. Jangan malu-malu. Ini buat kebutuhan di rumah, sama anak butuh, ya," ucap Jestham sambil terus memasukkan beras ke keranjang. Sang bapak mulai mengambil beberapa bungkus, tapi Jestham terus menambahkannya. "Kita ambil yang banyak, Pak. Kita ambil semuanya, kasih habis. Biar bapaknya bisa masak sepuasnya di rumah," katanya dengan semangat.

Belanja berlanjut ke telur, mi instan, sabun, kopi, dan gula. Jestham memastikan semua kebutuhan pokok terpenuhi. Sang bapak mulai tak kuasa menahan haru. "Nggak sangka-sangka sama kuasa Tuhan. Dia tahu mana umatnya yang mau diberi, rupanya," ucapnya dengan suara bergetar. Jestham tersenyum dan terus menambahkan barang. "Semoga bahagia yang pemberi, selamat semua. Apa rencana dan tujuan, di jalan yang baik, amin," doa sang bapak untuk Jestham dengan penuh syukur.
Setelah semua barang terkumpul, Jestham mengajaknya berbincang. Di situlah cerita sesungguhnya terungkap. "Ada kesulitan dan kesulitan, tapi tadi ada kesenangan dan kebahagiaan. Bahagia tadi ada menghibur hati," ucapnya sambil menyeka air mata.
Jestham bertanya tentang anak-anaknya. Dengan penuh kasih, sang bapak menyebutkan nama-nama mereka, "Abdul Karim, Nabila Pertiwi, Wardah Febrianti. Maaf, Ayah belum bisa membahagiakan kalian. Cukup dengan doa aja, Ayah masih bisa menyampaikan," ucapnya dengan suara lirih. Jestham hanya bisa diam, merasakan getaran doa seorang ayah yang merindukan keluarganya. Ia juga menceritakan bahwa istrinya di rumah kadang hanya bisa membawa pulang Rp7.000 - Rp15.000 dari hasil berjualan. Bahkan sang istri jarang mengeluh kalau tidak ada beras di rumah. "Kalau udah nampak dia mengeluh, dia nggak mau ngucap," katanya mengenang istrinya.
Sebelum berpisah, Jestham bertanya apa yang ingin dibawa pulang untuk keluarganya. "Pengen beli sate atau martabak buat mereka, Bu," jawabnya dengan senyuman manis. Jestham pun memberikan uang tunai. "Bapak, saya ada rezeki ini untuk bapak. Beli sate, beli martabak, bawa pulang ke rumah, makan bersama keluarga," ucap Jestham. Sang bapak menerimanya dengan tangan gemetar. "Alhamdulillah, terima kasih. Semoga bahagia, lah. Orang yang membahagiakan kami ini, ya Allah. Semuanya mereka ini, ya Allah," doanya dengan air mata bahagia yang tak terbendung.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa di balik setiap kesedihan, selalu ada harapan jika kita mau melihat. Seorang bapak perantau dari Padang, jauh dari keluarga, tinggal sendiri, bekerja keras setiap hari namun ia tidak pernah berhenti bersyukur. Jestham kembali membuktikan bahwa kebaikan sederhana bisa menjadi pelipur lara bagi jiwa-jiwa yang lelah. Semoga apa yang telah dibagikan hari ini menjadi berkah bagi semua. Dan semoga kita semua selalu diberikan kepekaan untuk melihat dan menolong sesama yang sedang berjuang.







