Tangis Ibu Hamil di Tengah Panggilan Kerja: Ketika Jestham Menemukan Perjuangan di Balik Senyuman

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: tiktok/@jesicathamrin
Sumber: tiktok/@jesicathamrin

Tangis Ibu Hamil di Tengah Panggilan Kerja: Ketika Jestham Menemukan Perjuangan di Balik Senyuman

Kota Medan, Sumatera Utara - (30/04/26) Ada pertemuan yang mengingatkan kita bahwa setiap orang menyimpan perjuangan yang tak terlihat. Itulah yang dirasakan Jestham ketika melihat seorang ibu hamil menangis di dalam minimarket. "Dari mana? Kerja disini? Kenapa sedih?" tanya Jestham lembut. Dengan mata berkaca-kaca, ibu itu menjawab, "Kerja sini, iya. Udah lama sih pengen jumpa." Jestham pun duduk di sampingnya dan bertanya, "Kenapa kok sedih? Coba cerita dulu." Ternyata, ibu ini sedang hamil 7 bulan dan baru saja selesai bekerja. Jestham pun menawarkan, "Kalau saya ada rezeki untuk dedek bayi, boleh nggak saya belanjain?"



Dengan setengah tidak percaya, ibu itu menjawab, "Nggak enak." Jestham tersenyum, "Nggak papa, loh. Rezeki loh. Mau?" Akhirnya ia mengangguk. Jestham mengajaknya masuk ke minimarket dan bertanya kebutuhan paling penting saat ini. "Beras," jawabnya singkat. Karena ibu hamil, Jestham memutuskan tidak memberi durasi. "Nggak bisa pakai durasi, kalau pakai durasi tiba-tiba lahiran pula," candanya.



Jestham mempersilakan sang ibu mengambil beras. "Di rumah berapa orang?" tanya Jestham. "Cuman aku sama suami sama anak satu," jawabnya. Jestham tetap memasukkan 4 bungkus beras untuk stok sebulan. "Lalu telur, ini rezeki anak," lanjutnya sambil memasukkan beberapa kotak telur. Sang ibu malu-malu, "Udah satu aja, Kak." Jestham menolak, "Nggak papa, asli. Saya tambahin biar stok di rumah. Bumil makan telur banyak, bagus tuh proteinnya." Ia juga menambahkan minyak goreng, mi instan, dan sabun cuci.



Jestham bertanya apakah sang ibu minum susu hamil. Ternyata, anak pertamanya tidak keluar ASI sehingga harus minum susu formula. "Anak pertama, nggak keluar ASI, jadi sufor," ucapnya. Jestham segera mencari susu formula dan susu hamil. "Ini ya, susu. Berapa tahun? 1-3 tahun. Saya tambahin biar puas di rumah, dedeknya minumnya banyak." Sang ibu hanya bisa tersenyum, matanya berkaca-kaca melihat perhatian yang luar biasa. "Ini nyata nggak, sih? Kayak mimpi," gumamnya.



Saat selesai, Jestham mengobrol lebih dalam. Ternyata, ibu ini bekerja di Indomaret sudah 5 tahun. Hari itu seharusnya libur karena sakit, tapi karena tokonya sedang audit, ia terpaksa datang. "Tanggung jawab, gitu," ucapnya. Jestham bertanya, "Apa sih yang paling sulit jadi seorang ibu?" Dengan suara bergetar, ia menjawab, "Banyak sih. Aku itu kan, pas anak pertama itu ngerasa gagal aja. Karena kan kalau di orang kampung awak kan Batak, kalau Batak itu kalau misalnya nggak melahirkan normal, dibilang bukan ibu. Terus nggak keluar ASI juga."



Jestham mendengarkan dengan seksama. Sang ibu melanjutkan, "Banyak yang bilang, 'bukan ibu lah itu namanya.' Jadi untuk anak kedua, rasanya takut gitu kalau misalnya nggak keluar ASI juga." Jestham menggenggam tangannya erat. "Sebenarnya sama sih, kita semua para ibu, semua ibu yang hebat. Nggak ada satu ibu pun yang karena nggak keluar ASI jadinya nggak luar biasa. Melahirkan itu bukan proses yang gampang, loh. Luar biasa." Ia mengingatkan, "Kita punya dua tangan, kita bisa tutup kuping, kita bisa tutup mata. Jangan didengerin yang nggak baik, jangan dilihat yang nggak baik, ya."



Air mata sang ibu semakin deras. Ia juga menceritakan bahwa anak pertamanya, Nesya, sering bertanya, "Mama kok pergi terus?" Ia menjawab, "Nak, itu demi adik. Suatu saat Nesya pasti ngerti kalau mama kayak gini bukan semata-mata pengen ninggalkan adik. Itu cuman karena ekonomi kita aja yang kurang." Ia bekerja dari jam 7 pagi hingga pulang tidak menentu, sementara anaknya dititipkan ke tetangga. Suaminya juga bekerja di pabrik. Jestham juga mendengar bahwa ia belum berani memberi tahu keluarga bahwa anak keduanya perempuan, karena dalam budaya Batak, anak laki-laki lebih diutamakan.



Jestham tak kuasa menahan haru. Ia memeluk sang ibu dan berkata, "Aku doakan untuk anak kakak yang ke-2, apapun jenis kelaminnya. Percaya, rencana Tuhan yang terbaik dalam hidup kita. Amin. Tidak ada satupun rencana kejahatan yang Tuhan sediakan dalam hidup kita. Mau cewek mau cowok, itu semua spesial di mata Tuhan. Aku juga doakan mertua kakak bisa mengerti. Kakak juga sehat, lahiran lancar. Mau Caesar ataupun normal, kakak adalah ibu yang luar biasa. Mau menyusui atau tidak, kakak juga luar biasa."



Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap senyuman ibu hamil, ada perjuangan yang tak terlihat. Tekanan budaya, tuntutan pekerjaan, dan rasa takut akan penilaian orang lain sering kali membebani mereka. Jestham kembali membuktikan bahwa kebaikan tidak hanya berupa materi, tapi juga kata-kata penguat dan pelukan hangat. Ia mengingatkan bahwa setiap ibu adalah pahlawan, apapun jalannya melahirkan, apapun cara memberikan ASI, apapun jenis kelamin anaknya. Semoga setiap ibu diberikan kekuatan dan kebahagiaan, dan semoga kita semua lebih peka untuk mendukung mereka.