Ketika Diam Bicara: Air Mata Bapak Becak yang Tak Bisa Berkata

Ketika Diam Bicara: Air Mata Bapak Becak yang Tak Bisa Berkata
Kota Medan, Sumatera Utara - (06/05/26) Ada pertemuan yang mengajarkan kita bahwa kebaikan tidak memerlukan banyak kata. Itulah yang dirasakan Jestham ketika bertemu dengan seorang bapak becak yang duduk termenung di pinggir jalan. "Pak, saya ada rezeki dari Tuhan, belanja sembako sepuasnya, mau nggak?" tawar Jestham dengan senyum tulus. Sang bapak hanya terdiam, lalu menggeleng pelan sambil menunjuk mulutnya. Jestham baru menyadari, "Oh, bapak nggak bisa ngomong." Tanpa ragu, ia tetap mengajaknya masuk ke minimarket. Karena keterbatasan itu, Jestham harus lebih peka membaca bahasa tubuh dan ekspresi wajah sang bapak.
Masuk ke dalam toko, Jestham bertanya dengan sabar, "Beli apa, mau?" Sang bapak menunjuk ke arah beras. "Oke, beras ya. Kita ambilin ya," ucap Jestham sambil memasukkan beberapa bungkus ke keranjang. Ia terus menambah, "Saya ambilin lagi ya. Tambah lagi ya. Minyak ya, oke ya." Sang bapak hanya bisa mengangguk, matanya mulai berkaca-kaca melihat perhatian yang diberikan. Jestham terus bergerak, mengambil kopi, sabun, telur, roti, dan berbagai kebutuhan pokok lainnya. Setiap kali sang bapak mengangguk, ia langsung memasukkan barang ke keranjang.

Belanja pun berlanjut. Jestham menunjukkan berbagai barang dan menunggu respon sang bapak. "Energen mau? Makan ya? Telur-telur ya, oke yuk kita beli telur yuk, Bapak. Sini telur, Pak." Dengan sabar, Jestham memandu sang bapak berkeliling toko, memastikan semua kebutuhannya terpenuhi. "Saya tambah lagi satu ya," katanya sambil terus menambah barang. Sang bapak hanya bisa mengikuti, sesekali mengangguk, sesekali mengusap matanya yang mulai basah. Jestham tersenyum, "Rezeki ya, Pak, hari ini."
Setelah semua barang terkumpul, Jestham menunjukkan keranjang yang penuh. "Ini belanjaan kita ya. Kita bayar dulu ya." Sang bapak menatap semua barang dengan mata berkaca-kaca. Jestham bertanya, "Banyak, ya. Kenapa kok sedih?" Dengan isyarat, sang bapak menunjukkan bahwa ia belum pernah belanja sebanyak ini sebelumnya. Air matanya jatuh perlahan. Jestham mendekat dan menghiburnya, "Nggak pernah belanja gini banyak, ya? Rezeki ya, Pak, hari ini."
Saat Jestham mencoba bertanya tentang keluarga, sang bapak menggeleng pelan. "Ada anak? Nggak ada? Istri? Nggak ada?" tanya Jestham. Sang bapak mengangguk, menandakan bahwa ia tinggal sendiri. Setiap hari, ia narik becak keliling kota tanpa ada yang menunggu di rumah. "Oh, tiap hari? Keliling?" tanya Jestham. Sang bapak mengangguk lagi. Jestham juga bertanya tentang sewa becak, dan sang bapak menggeleng, menandakan bahwa ia tidak punya becak sendiri dan harus menyewa setiap hari.

Jestham tak kuasa menahan haru. Ia meraih tangan sang bapak dan bertanya, "Nggak makan, Bapak?" Sang bapak mengangguk pelan. Jestham memberikan uang tunai, "Saya ada sedikit rezeki untuk bapak, nanti untuk beli makanan ya. Oke ya. Nanti beli makan ya." Sang bapak menerimanya dengan tangan gemetar, air mata terus mengalir deras. Jestham tersenyum, "Udah, jangan sedih sedih lagi ya, Bapak." Ia menepuk bahu sang bapak dengan hangat, berusaha memberikan kekuatan meski dalam diam.
Setelah semua selesai, Jestham membantu meletakkan belanjaan di becak. "Karena kebetulan bapaknya kan tunarungu ya, jadi kita juga nggak bisa tanya banyak hal gitu. Yang penting aku tahu bapaknya senang, happy. Karena udah dibelanjain. Semoga kebutuhan ini membantu untuk bapak dan keluarganya," ucap Jestham yang menjadi sorotan. Sebelum berpisah, ia melambaikan tangan, "Bye bye, Bapak. Hati-hati ya." Sang bapak tersenyum lebar, matanya masih basah namun kini penuh kebahagiaan.
Kisah ini mengajarkan bahwa kebaikan tidak memerlukan kata-kata. Cukup dengan kepekaan dan hati yang tulus, kita bisa menjadi jawaban atas doa-doa yang tak terucapkan. Sang bapak mungkin tidak bisa mengucapkan terima kasih dengan kata-kata, namun air mata dan senyumnya berbicara lebih dalam dari ribuan kata. Jestham kembali membuktikan bahwa berbagi bukan tentang siapa yang bisa berkata, tapi siapa yang mau peduli. Semoga setiap kebaikan yang kita berikan menjadi berkah yang berlipat, dan semoga kita selalu diberi kepekaan untuk melihat mereka yang membutuhkan, meskipun mereka tak bisa bersuara.







