Berkah di Bulan Suci: Kisah Haru Seorang Bapak Tua Menerima Sembako Sepuasnya

Berkah di Bulan Suci: Kisah Haru Seorang Bapak Tua Menerima Sembako Sepuasnya
Kota Medan, Sumatera Utara - (24/04/26) Jestham kembali menjalankan aksi sosialnya, sebuah sore yang tenang di bulan Ramadan, ia melihat seorang Bapak tua duduk sendirian. Bapak itu baru saja berbuka puasa dengan hidangan sederhana. Tergerak oleh pemandangan tersebut, Jestham pun menghampiri dan menyapanya dengan ramah, "Bapak, lagi ngapain? Oh, buka puasa ya." Percakapan singkat itu menjadi awal dari sebuah momen penuh kehangatan dan kebahagiaan yang tak terduga bagi sang Bapak.

Dengan penuh semangat, Jestham menawarkan sebuah kesempatan istimewa. "Bapak, saya ada rejeki dari Tuhan belanja sembako sepuasnya. Mau nggak di sana? Kita ke sana ya, Bapak ya," ujarnya seraya mengajak Bapak tersebut ke sebuah minimarket terdekat. Awalnya Bapak itu tampak ragu, namun ajakan tulus tersebut akhirnya membuatnya setuju untuk ikut.
Sesampainya di toko, Jestham mulai memandu Bapak tersebut untuk memilih barang-barang kebutuhan pokok. Ia memperhatikan usia Bapak yang sudah lanjut, 65 tahun. "Biasanya saya pakai durasi 2 menit, cuma karena Bapak usianya 65 tahun, udah enggak bisa lari-lari lagi. Takutnya nggak dapat banyak. Jadi kita ambilin aja kebutuhan-kebutuhan yang penting buat Bapak ini," jelasnya. Ia pun bertanya apa saja yang paling diperlukan. Dengan polos, Bapak itu menyebutkan kebutuhan dasar, beras, minyak, dan gula.

Tak hanya terbatas pada tiga kebutuhan tersebut, Jestham terus menambahkan berbagai macam bahan makanan ke dalam keranjang belanja. "Ambil lagi, Pak. Jangan satu. Ambil lagi," ujarnya berulang kali saat melihat Bapak itu hanya mengambil satu bungkus setiap kebutuhan. Ia memasukkan lebih banyak beras, beberapa botol minyak goreng, gula, telur, dan mi instan. Setiap kali Bapak itu merasa sudah cukup, Jestham akan berkata, "Enggak apa-apa satu lagi ya," sambil terus menambahkan kebutuhan lainnya.
Jestham dengan hati-hati mengambil beberapa rak telur dan menitipkannya kepada Bapak itu dengan pesan, "Ini telur, Pak. Hati-hati ya. Hati-hati Bapak." Hal ini menunjukkan bahwa kepeduliannya tidak hanya sebatas memberikan barang, tetapi juga memastikan keselamatan Bapak tersebut saat membawanya pulang. Kebahagiaan dan rasa syukur tampak jelas di wajah Bapak tua itu melihat keranjang belanjaannya yang semakin penuh.

Setelah semua belanjaan selesai, kejutan manis masih menanti sang Bapak. Sebelum berpamitan, Jestham memberikan rezeki tambahan untuk Bapak tersebut dan keluarganya. Bapak tua itu tampak terharu dan tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih atas kebaikan yang dilimpahkan kepadanya. Jestham hanya tersenyum tulus dan memohon diri untuk pulang. "Bapak, saya permisi dulu ya, Bapak ya," katanya lembut. Bapak tua itu menjawab dengan lirih penuh syukur, "Iya, terima kasih banyak. Ya Allah."
Kisah ini pun viral di media sosial dan menyentuh hati banyak warganet. Tak sedikit yang memuji ketulusan Jestham dan mendoakan agar kebaikannya dibalas berlipat ganda. Pada akhirnya, kebaikan kecil yang dilakukan dengan ikhlas akan selalu kembali menjadi kebahagiaan, baik untuk yang menerima maupun yang memberi.







