Di Balik Tongkat dan Senyuman Bapak Penjaga Parkir: "Tuhan Tak Pernah Meninggalkan Kita"

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: tiktok/@jesicathamrin
Sumber: tiktok/@jesicathamrin

Di Balik Tongkat dan Senyuman Bapak Penjaga Parkir: "Tuhan Tak Pernah Meninggalkan Kita"

Kota Medan, Sumatera Utara - (01/05/26) Seorang Bapak paruh baya terlihat berdiri dengan sedikit limbung sambil berpegangan pada tongkatnya. Siapa sangka, di balik tubuh yang tampak berusaha tegap itu, ada kisah pilu yang ia pendam sendirian. Ia adalah seorang penjaga parkir di salah satu area minimarket. Ketika Jestham mendekat dan menawarkan belanja gratis, pertanyaan sederhana pun memecah kebekuan. "Bapak, kenapa pakai tongkat?" tanya Jestham. Dengan polos, Bapak itu menjawab bahwa kakinya pernah ditabrak. Kejadian itu terjadi pada Juli 2023. "Dilanggar," ucapnya singkat, seolah tak ingin banyak meratap. Namun, dari situ, sebuah perjalanan haru dimulai.



Ketika ditawari untuk berbelanja sepuasnya, rasa takut justru yang pertama muncul dari benak Bapak tersebut. "Saya takutnya kepleset," katanya jujur, karena kondisi kakinya yang masih belum pulih sempurna pasca kecelakaan. Jestham pun sigap menenangkan dan membantunya berjalan perlahan. Mereka mulai memilih kebutuhan. Beras menjadi incaran pertama karena Bapak itu mengaku harus memberi makan empat orang di rumah, istri dan dua anaknya. Jestham pun tak ragu untuk mengambil jatah lebih banyak, bahkan menambahkan telur, minyak, hingga mi instan. "Biasanya kita ada durasi, guys. Tapi karena keadaan Bapaknya begini, kita gak kurasi durasi. Kita ambil aja yang memang jadi kebutuhan rumah," ujar Jestham.



Air mata Bapak itu mulai menetes di sela-sela keranjang belanja yang mulai penuh. Jestham bertanya lembut, "Apa yang buat Bapak kok sedih?" Dengan suara bergetar, Bapak itu mengaku bahwa di rumah, stok berasnya benar-benar kosong. Tak ada yang bisa ia makan sekeluarga. Kehadiran Jestham dan tim di saat yang begitu tepat sebagai pertolongan rezeki yang diturunkan oleh Tuhan. Bapak itu terus mengusap sudut matanya, berulang kali mengucap syukur dalam hati.



Perlahan, kisah sesungguhnya mulai terkuak. Sejak kecelakaan itu, ekonomi keluarganya hancur. "Setelah berlanggar, saya hidupnya susah. Saya gak bisa kerja. Istri yang kerja jadi kuli angkat sayur selama 2 tahun," ceritanya. Cedera ACL (Anterior Cruciate Ligament) yang putus membuat kakinya tak kuat dipakai untuk berjalan jauh, apalagi berlari. Yang lebih menyayat, pelaku tabrak lari tersebut tak pernah sekalipun muncul bertanggung jawab. "Orangnya juga susah, Bu," katanya pasrah. Ia hanya bisa mengingat lokasi kejadian di jalan Kapten Sumarsono, dan polisi yang menangani dari Polsek Helvetia. Namun hingga hari wawancara itu, tak ada kabar ataupun ganti rugi.



Ketika diminta menyampaikan pesan jika kelak pelaku menonton video ini, Bapak itu menarik napas panjang. "Hati-hatilah dalam berkendara. Satu nyawa, kedua kalau cacat permanen kan susahnya nggak bisa kerja." Namun, bukannya menyimpan amarah, ia justru menyerahkan segalanya pada Tuhan. "Ya, cobaan dari Tuhan lah, Bu. Kalau sudah datang naas, kita nggak bisa bilang apa," ujarnya dengan kesadaran penuh. Ia telah memilih untuk tidak larut dalam kebencian, melainkan berdamai dengan kenyataan sambil terus berdoa.



Meski hidup dalam keterbatasan penghasilannya hanya dari menjaga parkir yang terkadang orang tak membayar, Bapak ini tetap tegar menjalankan perannya sebagai seorang ayah. "Paling berat jadi ayah itu harus bisa jadi pemimpin di keluarga. Bukan hanya pelindung, juga memberi pelajaran ke anak-anak," katanya. Ia menyampaikan pesan kepada dua anaknya yang sangat ia sayangi, "Terima kasih menjadi anak yang baik. Pertahankan kebaikan itu. Bersemangatlah dalam belajar mencari masa depanmu nak." Kalimat-kalimat itu keluar dari mulut seorang yang kakinya tak lagi utuh, tapi hatinya penuh dengan cita-cita untuk anak-anaknya.



Di akhir pertemuan, Jestham memberikan sedikit rezeki tambahan untuk ongkos becak pulang dan membeli obat. Lagi-lagi, Bapak itu tak kuasa menahan haru. "Saya tersentuh, Bu. Mungkin saya nggak bisa balas, Tuhan lah yang balas," katanya tulus. Ia mengakui bahwa meski kadang manusia bingung dengan rencana Tuhan, ia sudah membuktikan satu hal, "Tuhan itu gak pernah ninggalin kita. Cuma dia datangnya pada saat yang tepat." Dengan tongkat di tangan dan senyuman syukur di wajah, Bapak penjaga parkir itu pun pamit. Sebuah pengingat bagi kita semua, bahwa di sudut kota mana pun, selalu ada pejuang yang gigih memaknai hidup, dan selalu ada rezeki yang dipertemukan oleh kebaikan siapapun.