Dua Menit yang Mengubah Hidup: Ketika Seorang Driver Grab Menemukan Rezeki dan Mengingat Orang Tua

Dua Menit yang Mengubah Hidup: Ketika Seorang Driver Grab Menemukan Rezeki dan Mengingat Orang Tua
Kota Medan, Sumatera Utara - (20/05/26) Sebuah pertemuan singkat di sebuah minimarket berubah menjadi momen yang mengharukan dan penuh makna. Jestham bertemu dengan seorang driver Grab yang ternyata penggemar setianya, yang kerap mengikuti konten inspiratif miliknya dan sudah lama ingin bertemu dengannya. "Bang, kenapa gemeter amat? Kita ketemu hari ini, ini rezeki kita belanja sepuasnya di dalam. Mau enggak?" tanya Jestham dengan semangat. Tanpa ragu, Abang itu pun menjawab, "Boleh, Ci." Momen sederhana itu menjadi awal dari sebuah kisah yang menyentuh hati, di mana 2 menit belanja gratis berubah menjadi ruang untuk berbagi cerita tentang perjuangan hidup, kasih sayang orang tua, dan harapan.
Begitu memasuki toko, Jestham memberi tantangan dalam waktu 2 menit untuk mengambil barang sebanyak mungkin. Dengan semangat dan sedikit panik, Abang itu berlari kecil di antara rak-rak, memasukkan telur, minyak, mi instan, sabun, dan berbagai kebutuhan pokok ke dalam keranjang. "Ayo cepat, Bang. Di rumah berapa orang?" tanya Jestham. "Tiga orang," jawab Abang itu sambil terus berusaha memaksimalkan waktunya. Di tengah hiruk-pikuk belanja itu, Jestham ikut membantu dan sesekali meneriaki Abang tersebut agar berhati-hati dengan telur yang ia bawa.

Namun, di balik gelak tawa dan kegembiraan belanja, tersimpan sebuah luka dan perjuangan yang jarang terungkap. Setelah belanja usai, Abang itu tampak gugup dan bertanya, "Saya boleh telepon orang tua saya enggak, Ci?" Pertanyaan itu sontak membuat suasana menjadi haru. Jestham pun mengizinkan, dan Abang ojol tersebut segera menelepon ibunya. "Mak tengok ini, kenal enggak ini? Ini Cici Jestham," jawab Abang itu dengan suara bergetar. Ia langsung memperkenalkan Jestham pada ibunya, dan sang ibu pun mengucap syukur sekaligus mendoakan kebaikan untuk Jestham.
Abang ojol tersebut berusia 33 tahun dan belum menikah, mengungkapkan bahwa setiap rezeki yang ia peroleh selalu ia kabarkan pada orang tuanya terlebih dahulu. "Karena apa-apa ya, ibu saya yang selalu dorong saya, Ci. Di saat saya terpuruk." tuturnya dengan mata berkaca-kaca. Ia menceritakan bagaimana ibunya tak pernah lelah memberi semangat, bahkan saat dirinya harus kehilangan kereta karena telat membayar. Ibunyalah yang menjadi tameng, peminjaman modal, dan penyemangat di saat semua tampak gelap.

Di usianya yang sudah matang, ia bahkan mengaku sering merasa tidak berguna sebagai laki-laki karena belum bisa membawa keluarga jalan-jalan seperti teman-temannya. "Saya kadang iri sama teman-teman saya, mereka udah bisa bawa keluarga jalan-jalan. Sedangkan saya harus memikirkan gimana buat makan," jawab Abang itu lirih. Jestham pun menenangkannya dengan lembut, "Kamu kerja hari ini enggak mencuri, enggak narkobaan, enggak yang aneh-aneh. Kamu termasuk anak yang baik. Hari ini kamu jadi anak yang baik, mungkin rezekinya belum bisa buat orang tua jalan-jalan, tapi kita enggak pernah tahu kapan rezekinya datang lagi."
Air mata Abang itu akhirnya jatuh saat ia bercerita tentang ayahnya yang sakit. "Ayah saya kadang sakit, tapi tetap kadang dia mau nyari. Saya sedih," kenangnya. Meski ia mengaku sering bertolak belakang dengan ayahnya, rasa sayangnya begitu besar. Ia bahkan rela tidur di jalan karena kelelahan bekerja dari pagi hingga lewat tengah malam, kadang tak takut dibegal, hanya ingin beristirahat sejenak. Semua ia lakukan demi memenuhi kebutuhan keluarganya.
Jestham yang mendengar curhatannya pun tak kuasa menahan haru. Ia memberikan sedikit rezeki pada Abang ojol dan berpesan agar uang itu digunakan untuk membawa ayahnya pulang kampung, sebuah keinginan sederhana yang selama ini belum terwujud. "Kamu bisa kumpul di rumah sama orang tua saja itu sudah luar biasa. Banyak orang yang jauh dari orang tua, pengen dekat sama orang tua," pesan Jestham sambil memberikan rezeki tersebut. Abang itu hanya bisa mengucap syukur, "Alhamdulillah, Ci. Senang, Ci." Ia pun berjanji akan menyampaikan salam pada kakaknya yang juga menjadi penggemar Jestham.
2 menit belanja dan sebuah obrolan singkat berhasil membuka ruang untuk berbagi, menguatkan, dan mengingatkan bahwa di balik setiap pekerja keras, ada orang tua yang selalu mendoakan. Seperti kata Abang ojol tersebut, "Kenapa di saat saya umur seperti ini saya belum bisa bahagiakan orang tua? Itu penyesalan saya." Namun, malam itu, ia mungkin belajar bahwa menjadi anak yang baik, jujur, dan tak pernah lelah berusaha adalah bentuk kebahagiaan yang tak ternilai.







