Dua Menit yang Mengubah Kesedihan Seorang Ayah Penjual Balon

Dua Menit yang Mengubah Kesedihan Seorang Ayah Penjual Balon
Kota Medan, Sumatera Utara - (09/02/26) Seulas senyum tipis terukir di wajah seorang bapak paruh baya yang tengah duduk termenung di depan sepeda sederhananya. Pagi itu, sapaan ramah dari Jestham menghentikan lamunannya. "Selamat pagi, Pak. Lagi ngapain, Pak?" tanya Jestham. "Jualan," jawab Bapak itu singkat sambil menunjukkan beberapa buah balon yang ia jual. Jestham pun menawarkan sebuah kejutan, "Bapak, saya ada rezeki nih dari Tuhan. Belanja sepuasnya di dalam selama dua menit, mau nggak?" Tatapan Bapak itu langsung berbinar, namun masih menyisakan sedikit keraguan yang berubah menjadi antusias.

Saat ditanya kebutuhan apa yang paling penting, dengan spontan ia menjawab, "Beras." Jestham pun menggali lebih dalam dan mengetahui bahwa stok beras di rumahnya hanya tersisa sekitar dua kilogram. Setelah mendengar kegundahan itu, Jestham mengajaknya masuk kedalam minimarket dan memberikan instruksi sederhana namun penuh makna, "Pak, belanja sepuasnya, ya kita, ya. Jangan sedih lagi, ya." Bapak itu pun mengangguk, namun Jestham masih penasaran dengan kesedihan yang tadi terlihat di raut wajahnya. "Tadi merenung duduk di depan, kenapa, Pak?" tanyanya lembut. "Kebutuhan sekolah anak. Kebutuhan rumah tangga, lah," jawab Bapak itu lirih, menggambarkan beban hidup yang ia pikul sendirian.
Setelah memberi semangat, tantangan dua menit pun dimulai. Dengan hitungan mundur, Bapak itu segera beraksi. "Ambil beras yang banyak, yang banyak!" teriak Jestham memberinya arahan. Terlihat jelas prioritasnya, berkali-kali ia meraih karung-karung beras dan meletakkannya ke dalam keranjang belanja. "Telur, telur, telur!" teriak Jestham kembali, dan Bapak itu pun sigap mengambil beberapa papan telur. Suasana yang awalnya sendu berubah menjadi riuh, melihat seorang kepala keluarga berusaha keras memanfaatkan setiap detik untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarganya.

Obrolan pun kembali mengalir dan menguak luka lama yang masih membekas. Bapak yang sehari-hari berjualan balon dengan penghasilan tidak menentu ini ternyata pernah kehilangan seorang putrinya yang berusia 23 tahun pada tahun 2019 karena sakit paru-paru yang bermula dari asam lambung. Kesedihan itu semakin menambah berat beban pikirannya sebagai seorang ayah. Saat ditanya tentang kesulitan menjadi seorang ayah, ia hanya berpesan dengan mata berkaca-kaca, "Ingat sama orang tua. Jangan jauh dari orang tua. Itu aja pesan saya. Berdoa untuk orang tua."
Ketika waktu dua menit usai, keranjang belanjaan telah penuh dengan sembako, terutama beras dan telur. Jestham kemudian mempersilakan Bapak tersebut untuk pulang lebih awal membawa rezeki kebahagiaan ini. "Oke Bapak, kami bayar dulu ini. Semoga membantu untuk kebutuhan rumahnya dan juga semuanya. Semoga membantu ya, Bapak ya," ucap Jestham tulus, sembari memberikan rezeki tambahan untuk sang Bapak. Bapak itu pun menerima dengan penuh syukur, "Terima kasih banyak ya, Mbak Jestham. Mudah rezeki Mbak. Sukses selalu."

Momen sederhana penuh sarat makna ini menjadi pengingat bahwa di tengah kerasnya kehidupan dan perjuangan seorang ayah, masih ada ruang untuk kebaikan dan empati. Bantuan tak selalu harus dalam bentuk materi yang besar, namun kehadiran dan perhatian yang tulus. Kisah Bapak penjual balon ini adalah potret nyata perjuangan kelas bawah yang tak kenal menyerah, dan kebaikan hati Jestham yang memilih untuk menjadi jawaban atas doa-doa kecilnya.







