Hati Mulia di Balik Belanja 2 Menit: Aksi Berbagi Berkah dari Jestham

Hati Mulia di Balik Belanja 2 Menit: Aksi Berbagi Berkah dari Jestham
Kota Medan, Sumatera Utara - (23/03/26) Malam sudah larut. Di pinggir jalan yang sepi, seorang Bapak tua masih setia bersama becaknya, sesekali menengok kanan-kiri mencari penumpang yang tak kunjung datang. Jestham yang kebetulan melintas, melihat sosok itu. Tanpa berpikir panjang, ia mendekat dengan menyodorkan tawaran tak biasa, "Bapak, gak usah cari penumpang dulu. Saya mau belanjakan Bapak, rezeki dari Tuhan kita belanja disana ya."
Bapak itu terkejut, tapi sorot matanya berbinar. Jestham menggandeng tangannya yang kasar, membawanya masuk ke dalam minimarket. "Sandalnya jangan dibuka, nggak apa-apa. Pakai aja, ya Bapak," ujar Jestham. Lalu aturan dijelaskan, selama dua menit bebas ambil apa saja. Bapak itu mengucap syukur, "Alhamdulillah, Kak." Jestham mulai menghitung, "Satu, dua, tiga... mulai!"

Dua menit berlalu dengan kepanikan yang menyenangkan. Bapak itu bolak-balik mengambil beras, minyak goreng, kopi, sabun, pewangi pakaian, sirup, hingga kue kering untuk Lebaran. "Cepat, Pak, ambil lagi!" teriak Jestham sambil tertawa. Keranjang penuh dalam sekejap. Setelah waktu habis, Jestham mengajak Bapak itu mengobrol lebih dalam.
Bapak itu tinggal di Tembung, belum menikah, dan tinggal bersama abang serta kakak-kakaknya yang sudah memiliki anak. "Bapak sama Mama udah gak ada," ujarnya lirih. Yang membuat Jestham terperangah adalah ketika ia bertanya, "Belanjaan ini buat siapa, Pak?" Bapak itu menjawab polos, "Buat anak-anak kakak. Mereka tiga orang. Suami kakak kadang gak ngasih. Saya kan cari botol-botol bekas, saya jual. Buat mereka."
Jestham terdiam. Ternyata selama ini Bapak tua itu menghidupi keponakan-keponakannya dari hasil mengayuh becak dan memulung. "Biar berguna saya hidup," katanya lagi. Ia biasa pulang jam 11 malam, bahkan lebih. Jestham pun tak kuasa menahan haru. "Luar biasa, Pak. Bapak punya hati yang memberi," ucapnya. Lalu Jestham memberikan tambahan rezeki dan mendoakan yang terbaik untuk Bapak itu.
"Bapak, rezeki ini mau diapain?" tanya Jestham. "Mau saya bagi ke anak-anak kakak. Sedekah," jawabnya mantap. Jestham tersenyum. Ia lalu membayar semua belanjaan dan memastikan barang-barang itu diantar ke rumah Bapak tersebut. "Semoga berkah yang kita belanjakan ya, Bapak," doa Jestham.

Malam itu, becak yang biasanya hanya mengangkut penumpang, mengangkut lebih dari itu, segunung harapan. Kekurangan bukanlah penghalang untuk menjadi dermawan. Sebaliknya, kelapangan hati justru sering lahir dari mereka yang serba kekurangan.







