Hati Seluas Samudra di Balik Seragam Sederhana, Kisah Kakak Indomaret Devi yang Rela Berbagi dan Mengorbankan Mimpi

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: youtube/@ownerjestham
Sumber: youtube/@ownerjestham

Hati Seluas Samudra di Balik Seragam Sederhana, Kisah Kakak Indomaret Devi yang Rela Berbagi dan Mengorbankan Mimpi

Kota Medan, Sumatera Utara - (30/06/26) Siapa sangka, di balik seragamnya yang sederhana, tersimpan hati seluas samudra! Episode spesial kali ini menemani Jestham melanjutkan misi berbagi yang menyentuh hati, dengan target seorang kakak Indomaret bernama Devi. Di momen istimewa di mana ia diberi kesempatan oleh Jestham untuk berbelanja sembako gratis selama 2 menit penuh, Devi justru menunjukkan ketulusan yang bikin terenyuh. Ia dengan rela menyisihkan setengah durasi waktunya untuk rekan kerjanya yang seorang anak rantau. Aksi spontan ini bukan sekadar berbagi waktu, tapi bukti nyata bahwa kebahagiaan akan terasa jauh lebih manis jika dirasakan bersama.



Ketika Jestham menawarkan kesempatan langka itu, kegembiraan Devi langsung meledak. "Ada rezeki dari Tuhan belanja 2 menit sepuasnya. Mau enggak?" tanya Jestham. "Mau!" jawab Devi dengan semangat, diiringi tawa ceria yang menular. Namun, keputusan mendadaknya sontak membuat semua orang terperangah. "Ci, boleh semenit-menit sama anak rantau," ujarnya tanpa ragu. Jestham pun tak bisa menyembunyikan kekagumannya, "Oh, mau bagi dua. Oke, boleh. Ini baru paten nih ya." Di detik itulah, Devi membuktikan bahwa peduli pada sesama adalah prioritas utamanya, bahkan di tengah kesempatan emas yang hanya datang sekali.



Perjuangan belanja 1 menit untuk keluarganya pun dimulai dengan penuh semangat dan tawa. "Apa kebutuhan rumah paling penting?" tanya Jestham. "Beras, Ci" pekik Devi mantap. Ia mengungkapkan bahwa selama ini ibunyalah yang biasa membeli beras, dan momen ini adalah kesempatan emas untuk membalas jasa orang tua. Dengan suara lantang, ia berteriak, "Hari ini aku dapat rezeki banyak, Mak. Jadi mau borong beras untuk Mama." Ia berlari ke sana kemari, mengambil minyak, telur, kecap, dan tumpukan Indomie bak sedang dalam misi penyelamatan. Jestham pun tak tinggal diam, ia ikut menyemangati Devi dengan teriakan bergemuruh, "Cepetan, cepetan! Ayo, ayo, ayo!" membuat suasana toko makin meriah oleh sorak-sorai dan tawa haru.


Suasana penuh tawa dan antusiasme ketika Devi berburu telur dan kebutuhan pokok dalam tantangan belanja dua menit.
Suasana penuh tawa dan antusiasme ketika Devi berburu telur dan kebutuhan pokok dalam tantangan belanja dua menit.

Setelah satu menit yang melelahkan namun penuh keceriaan, keranjang belanjaan Devi sudah penuh dengan kebutuhan pokok. Beras puluhan kilo untuk Mama, minyak goreng, telur yang dijaga dengan hati-hati, dan puluhan bungkus Indomie berhasil ia borong. "Alhamdulillah," ucapnya lega sambil mengatur napas. Namun, di balik senyum cerah dan semangat belanjanya, tersembunyi sebuah cerita pilu. Jestham dengan lembut menanyakan hal paling sedih yang pernah Devi alami. Wajahnya yang ceria seketika berubah sendu, dan dengan suara lirih ia menjawab, "Enggak kuliah, Ci." Dua kata sederhana itu menyimpan beban perjuangan yang sangat berat di pundaknya.



Devi, anak ketiga dari enam bersaudara, mengungkapkan bahwa ia dulu bercita-cita tinggi ingin bekerja di dunia perbankan. Namun, keadaan ekonomi keluarga yang terbatas memaksanya untuk merelakan mimpi itu. "Dulu sempat mau kuliah, cuman karena mikir adik masih kecil, ya udahlah kerja aja dulu bantu mama," tuturnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia memilih mengorbankan masa depannya demi membantu perekonomian keluarga dan memastikan adik-adiknya bisa terus sekolah. Pengorbanan ini bukanlah hal yang mudah, namun Devi menjalaninya dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab. Ia lebih memilih bekerja dan tersenyum, daripada terus terbebani oleh biaya kuliah yang tak mampu ia bayar.



Mendengar pengakuan itu, Jestham pun terdiam haru dan memberikan semangat yang tulus. "Enggak semua orang punya hati yang begitu, tapi Devi punya hati bisa membantu keluarga itu luar biasa. Ada orang punya kesempatan untuk membantu keluarga, tapi enggak digunakan kesempatannya. Tapi Devi mengorbankan kuliahnya demi keluarga. Luar biasa," puji Jestham dengan penuh kekaguman. Jestham lalu menggenggam tangan Devi dan berkata penuh makna, "Kamu harus percaya nih satu hal. Ketika kita memikirkan orang lain, bagian kita selesai. Tuhan yang memikirkan bagian kita." Amin pun terdengar khusyuk dari keduanya, mengiringi harapan agar rezeki Devi selalu lancar dan keluarganya tetap dalam lindungan.


Wajah haru dan gembira Devi saat mengatupkan tangan, mengucap syukur atas rezeki tak terduga yang ia dapatkan dari Jestham.
Wajah haru dan gembira Devi saat mengatupkan tangan, mengucap syukur atas rezeki tak terduga yang ia dapatkan dari Jestham.

Di tengah haru, Devi tetap menunjukkan ketulusan hatinya dengan mendoakan balik Jestham. "Saya doakan Cici juga. Cici lancar rezeki. Sehat selalu," ucapnya dengan senyum yang mengusir kesedihan sesaat. Jestham pun tersenyum dan mendoakan yang terbaik untuk perjalanan hidup Devi ke depan, "Aku doain supaya Devi lancar rezekinya, tetap sayang keluarga. Percaya orang yang sayang keluarga rezekinya luar biasa." Momen ini menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak pernah berhenti di satu arah, ketika kita berbuat baik, kebaikan itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang tak terduga.



Kisah Devi adalah bukti nyata bahwa kebahagiaan sejati tidak diukur dari apa yang kita dapatkan, melainkan dari apa yang kita berikan dan korbankan untuk orang-orang tercinta. Meski ia harus merelakan bangku kuliah dan cita-cita perbankannya, hatinya tetap lapang dan pikirannya selalu tertuju pada keluarga. Di tengah keterbatasan, ia justru menemukan kekayaan yang tak ternilai, kepedulian, kerja keras, dan ketulusan. Selamat berjuang, Devi! Semoga setiap langkahmu diberkahi, dan semoga suatu hari nanti, mimpimu yang sempat tertunda akan terwujud dengan cara yang lebih indah dari yang pernah kamu bayangkan.