Jestham Traktir Rifki, Anak Rantau yang Rela Bertahan Demi Keluarga

Jestham Traktir Rifki, Anak Rantau yang Rela Bertahan Demi Keluarga
Kota Medan, Sumatera Utara - (30/06/26) Masih ingat dengan aksi mulia Devi, kakak Indomaret yang rela menyisihkan setengah durasi belanjanya untuk rekan kerja yang seorang anak rantau? Nah, kini giliran sosok anak rantau tersebut yang menjadi pusat perhatian. Namanya Rifki, pemuda asal Aceh yang tengah merantau di Kota Medan. Setelah Devi dengan tulus memberikan separuh waktunya, Jestham pun memberikan kesempatan emas kepada Rifki untuk berbelanja sembako gratis selama 1 menit penuh. Dan kini, Jestham menantang Rifki untuk memanfaatkan momen istimewa itu sebaik mungkin.
Ketika Jestham bertanya, "Mau belanja apa?" Rifki dengan mantap menjawab, "Sembako lah, Ci!" Baginya, kebutuhan pokok adalah prioritas utama, terutama untuk mengirimkan sesuatu kepada orang tua dan adik-adiknya di kampung halaman. Jestham pun menggali lebih dalam, "Apa yang paling penting?" Rifki menjawab, "Beras, minyak." Namun, di balik daftar belanjaannya, tersimpan kerinduan yang mendalam. Ketika ditanya apakah ia rindu ke Aceh, dengan mata berbinar ia mengaku rindu kepada orang tua. "Mak, Yah, Abang rindu sama kalian. Tunggu Rifki pulang, Mak," ucapnya lirih, seolah sedang berbicara langsung dengan ibunya melalui kamera.
Perjuangan belanja 1 menit pun dimulai dengan penuh semangat dan sedikit kekacauan yang mengundang tawa. "Siap, siap, siap!" seru Jestham memulai hitungan. Rifki bergerak cepat bagaikan kilat sambil mengambil bertumpuk-tumpuk gula pasir. Tak berhenti di situ, ia berburu minyak goreng, Indomie, dan sabun. Jestham pun ikut berteriak menyemangati, "Pelan-pelan ambil dulu!" Suasana minimarket berubah menjadi arena perlombaan yang seru dan menggelitik, penuh sorak-sorai dan tawa.

Setelah 1 menit yang melelahkan, keranjang Rifki penuh dengan gula, minyak, Indomie, dan sabun. "Ngeri kali ya," komentar Jestham melihat hasilnya. "Tuh kan, sampai jatuh-jatuh ya." Namun, di balik tawa, ada sebuah tekad besar. Rifki menunjuk ke keranjang dan berkata, "Mak, ini untuk Mama." Jestham bertanya bagaimana ia akan mengirimkannya, dan Rifki menjawab, "Nantilah kalau off pulang kampung, Ci." Ia berencana membawa semua sembako ini untuk orang tuanya di Aceh ketika libur tiba.
Rifki mengungkapkan bahwa ia adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ia merantau ke Medan dari Aceh sejak awal banjir besar melanda kampung halamannya. "Seminggu mau banjir sudah di sini," tuturnya. Meski masih sangat muda, ia sudah memikul tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga, mengirimkan uang untuk orang tua dan jajan untuk adik-adiknya. Namun, ketika Jestham menanyakan hal paling sedih sebagai anak rantau, wajahnya berubah muram. "Ya enggak ada ramai gitu, Ci. Tinggal di kos sendiri," jawabnya dengan nada sendu. "Rindu sama orang tua," akunya. Ia juga mengungkapkan bahwa di perantauan, ia harus menahan lapar, "Kalau di rumah kita bisa makan sepuasnya, tapi kalau di sini mungkin tahan-tahan."

Yang lebih memilukan, Rifki mengaku bahwa kalau sakit, tidak ada yang tahu. Ia tetap bilang ke orang tua bahwa ia baik-baik saja, meski kenyataannya tidak. Jestham yang mendengar pengakuan itu sontak terdiam dan memberikan semangat yang dalam. "Sulitnya jadi anak rantau ya," ucapnya prihatin. "Hidup memang mengajarkan kita untuk jauh lebih kuat. Ini proses. Ada satu kata lima huruf namanya sabar. Enggak semua orang bisa ngejalani proses itu. Tapi ketika kamu sabar, percaya nanti berkatnya luar biasa." Kata-kata itu terasa menyentuh relung hati Rifki, yang tampak berusaha menahan air mata.
Momen haru semakin terasa ketika Rifki berjanji, "Minggu depan bawa pulang sembako untuk Mama ya." Jestham pun meyakinkannya, "Rezeki anak berbakti sama orang tua." Rifki lalu membocorkan bahwa orang tuanya sering menonton video Jestham di TikTok. "Tadi Cici datang belanja gitu... nanti kalau udah di-upload ke TikTok, nanti ditengok, melihat diri sendiri di video," ceritanya. Jestham tersentuh, "Video-video yang kita rasa biasa, tapi bisa mengobat rindu ke orang tua juga ya. Luar biasa." Air mata haru pun nyaris tak terbendung menyadari bahwa konten sederhana bisa menjadi jembatan kasih sayang antara anak rantau dan keluarganya di kampung.
Satu menit belanja, sejuta makna perjuangan, begitulah kebaikan sederhana Jestham mengubah hari-hari sulit Rifki menjadi kenangan yang tak terlupakan.







