Kakek Penjual Kerupuk, Usia Tak Hentikan Langkah

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: youtube/@ownerjestham
Sumber: youtube/@ownerjestham

Kakek Penjual Kerupuk, Usia Tak Hentikan Langkah

Medan Johor, Kota Medan - (31/07/25) Di tengah hiruk-pikuk dan kesibukan kota, seringkali terselip kisah-kisah perjuangan yang penuh makna. Salah satunya adalah pemandangan yang menyentuh hati tentang seorang Bapak tua berusia 89 tahun yang dengan tekun dan sabar menjajakan kerupuk dagangannya di tepi jalan. Tubuhnya mungkin telah renta dan langkahnya tak lagi gesit, namun semangatnya untuk tetap mandiri dan berjuang menghidupi diri sendiri masih membara. Perjuangannya adalah cerminan ketangguhan yang langka di zaman sekarang, mengajarkan pada semua orang yang melintas tentang arti kemandirian dan kerja keras.



Kehadirannya yang sederhana itu menarik perhatian Jestham. Tergerak oleh rasa empati dan kekaguman akan semangat sang Bapak, Jestham pun mendekat. Percakapan hangat pun terjalin. Jestham menanyakan harga kerupuk yang dijual. Dengan senyum yang tulus, sang Bapak menjawab bahwa harganya adalah sepuluh ribu rupiah per bungkus. Jawaban sederhana itu menyimpan seribu cerita tentang perjuangan sepanjang hari.



Rasa kagum Jestham semakin menjadi ketika mengetahui usia sang pedagang. Usia Bapak itu ternyata telah menginjak 89 tahun. Sebuah usia yang sangat sepuh, namun diisi dengan aktivitas yang mulia untuk mencari nafkah. Jestham pun tak henti mengucap syukur, menyadari bahwa pertemuan ini adalah sebuah peristiwa yang penuh berkah.



Tanpa ragu, Jestham kemudian menyatakan niat baiknya. Ia memberitahu sang Bapak bahwa Ia ingin membeli semua kerupuk yang dijual. Tawaran yang mungkin jarang sekali didengar oleh Bapak tua itu. Dengan perasaan yang pasti campur aduk antara syukur dan heran, Bapak itu pun menyetujui dan mulai membereskan semua dagangannya untuk Jestham.



Setelah dikalkulasi, total dari seluruh kerupuk yang dijajakan adalah Rp140.000. Namun, niat baik Jestham ternyata jauh lebih besar dari angka tersebut. Dengan kerendahan hati, Ia menyerahkan sejumlah uang yang lebih besar dari yang seharusnya. Inilah momen dimana rezeki dari Tuhan dijalankan melalui kebaikan sesama, memberikan lebih dari sekadar nilai materi, tetapi juga dukungan moral dan semangat yang tak ternilai.


Perjalanan Hebat dan Perjuangan Kehidupan Bapak yang Renta
Perjalanan Hebat dan Perjuangan Kehidupan Bapak yang Renta

Wajah Bapak tua itu pun bersinar menerima kebaikan yang tidak terduga itu. Rasa syukur yang tulus terus mengalir dari bibirnya. Ia tidak hanya bahagia karena dagangannya laku, tetapi lebih karena merasakan sentuhan kemanusiaan yang dalam dan kepedulian yang tulus dari seorang anak muda.



Sebelum berpisah, Jestham tidak lupa memberikan doa terbaik. Ia mendoakan agar sang Bapak selalu diberi kesehatan dan kemudahan dalam menjalani hari. Doa yang menjadi penutup sempurna dari interaksi singkat namun sangat bermakna bagi keduanya.



Di tengah dunia yang kadang terasa individualistis, sedikit kebaikan dan empati bisa berarti sangat besar bagi kehidupan orang lain. Kisah Bapak tua yang pantang menyerah mengajarkan pada kita tentang kekuatan rasa syukur, indahnya berbagi, dan bahwa kebahagiaan sejati seringkali ditemukan dalam momen-momen berbagi kebaikan yang paling sederhana sekalipun.