3 Tahun Tak Dijenguk Anak, Kaki Bengkak Tetap Nekat Cari Nafkah

3 Tahun Tak Dijenguk Anak, Kaki Bengkak Tetap Nekat Cari Nafkah
Kota Medan, Sumatera Utara - (27/02/26) Kisah sedih terjadi pada suatu sore. Seorang Kakek tua masih setia duduk di samping becaknya meskipun kondisi fisiknya sudah jauh dari kata sehat. Tapi dia tetap bertahan di jalan, berharap ada penumpang yang mau menggunakan jasanya. Ketika Jestham mendekat dan bertanya, "Pak, ada sewa?", Kakek itu hanya menggeleng pelan dan menjawab dengan suara lirih, "Nggak ada." Jestham tidak langsung pergi. Dia melihat ada kesedihan yang mendalam dari raut wajah Kakek itu. "Bapak, saya ada rezeki dari Tuhan. Belanja sembako sepuasnya di dalam, mau nggak?"
Kakek itu menerima tawaran yang tak disangka tersebut. "Ayo, kita parkir dulu becaknya ya, Pak" Ajak Jestham. Kakek itu perlahan berdiri sambil memperlihatkan kakinya yang bengkak. Mereka berjalan pelan-pelan menuju minimarket. Di dalam, Jestham bertanya kenapa Kakek itu kelihatan murung. Dengan suara bergetar, Kakek itu menjawab, "Sedih lah, susah kan." Ternyata istrinya sudah meninggal. "Sekarang jadi rumah sama siapa? Sendirian," keluhnya. Jestham mendengarkan dengan sabar tanpa menyela.

Jestham lalu mengajak Kakek itu mulai memilih barang belanjaan. "Kita ambil berasnya dulu ya, Pak," kata Jestham. Kakek itu mengangguk. Setelah itu, Jestham menawarkan minyak goreng, sarden, mi instan, dan sabun cuci piring. Beberapa kali Kakek itu bilang, "Cukup, cukup. Banyak kali." Tapi Jestham terus mendorongnya, "Tambah lagi, enggak apa-apa. Ini rezeki, Pak." Jestham juga mengambil beberapa bungkus susu untuk menantu Kakek yang sedang sakit. Kakek itu hanya bisa menurut meskipun matanya mulai berkaca-kaca.
Saat hendak ke kasir, air mata Kakek itu jatuh. "Sedih, enggak pernah dikasih ini banyak," katanya. Jestham tersenyum, "Gak apa-apa, rezeki Pak." Kakek itu mengaku usianya sudah 75 tahun. "Sedih lah, gak bisa balas," katanya. Jestham mencoba menguatkan, "Enggak usah balas, Pak. Tuhan yang balas." Setelah membayar belanjaan, mereka duduk sebentar. Jestham bertanya apakah Kakek sudah makan. "Belum, teringat sama orang rumah," jawabnya sedih.

Jestham lalu bertanya soal anak-anaknya. Kakek itu menghela napas panjang. "Anak empat. Dua jauh," katanya. Jestham bertanya apakah anak-anaknya sering telepon. Kakek itu menggeleng, "Jarang lah. Gak ingat sama orang tua." Dua anak perempuannya, mereka sudah tiga tahun tidak pernah pulang dan tidak pernah memberi kabar sama sekali. "Tiga tahun nggak pulang-pulang," kata Kakek itu sambil menangis. "Bapak sakit, anak-anak tidak ada yang tahu."
Jestham kemudian merekam pembicaraan itu. "Semoga video ini sampai ke anak-anak Bapak. Biar mereka bisa lihat Bapaknya cari mereka," kata Jestham. Kakek itu hanya mengangguk. Jestham juga mendoakan, "Tuhan lembutkan hati mereka ya Bapak. Karena Tuhan maha membalikkan hati orang ya." Kakek itu mengamini, "Amin ya Allah." Jestham tidak hanya memberi sembako, tapi juga memberikan uang untuk obat dan kebutuhan Kakek itu. Kakek itu menerima dengan tangan gemetar dan membalas mendoakan Jestham, "Murah rezeki Bu."

Cerita Kakek becak ini mengajarkan kita banyak hal. Jangan pernah melupakan orang tua meskipun kita sudah sibuk dengan kehidupan sendiri. Sebuah telepon singkat atau kabar kecil itu sangat berarti bagi mereka yang sedang menunggu di rumah. Jestham mengajak kita semua untuk lebih peduli pada sekitar. Tidak harus memberi banyak. Cukup dengan mendengarkan dan menemani. Karena kebaikan sekecil apapun, jika dilakukan dengan tulus, pasti akan ada dampaknya. Semoga anak-anak dari Kakek itu melihat video ini, sadar, lalu pulang. Karena tidak ada yang lebih membahagiakan orang tua selain melihat anaknya kembali ke rumah.







