Kebaikan di Bulan Lebaran: Kisah Bapak Sahul, Tukang Becak Sakit yang Tetap Berjuang Demi Anak Istri

Kebaikan di Bulan Lebaran: Kisah Bapak Sahul, Tukang Becak Sakit yang Tetap Berjuang Demi Anak Istri
Kota Medan, Sumatera Utara - (18/03/26) Sebuah pertemuan sederhana namun penuh makna. Jestham mendatangi seorang Bapak tua yang duduk termenung di samping becaknya. "Bapak ada sewa? Bapak, saya ada rezeki dari Tuhan untuk belanja barang-barang lebaran, mau tidak?" tanya Jestham ramah. Tanpa ragu, Bapak itu menjawab, "Alhamdulillah." Begitulah percakapan dimulai, membawa mereka berdua masuk ke dalam sebuah minimarket untuk berbelanja kebutuhan rumah. Bapak itu bernama Sahul, seorang penarik becak yang jalannya sudah pincang, terbata-bata, dan bertumpu pada tongkat.
Meskipun kakinya sakit dan jalannya tertatih, Bapak Sahul mengaku masih bisa menarik becak. "Saya bawa becak demi anak istri," ujarnya lirih, namun penuh keteguhan. Jestham pun membantunya berjalan pelan-pelan, mempersilakannya masuk ke minimarket, dan mulai menanyakan kebutuhan apa yang paling penting. Bapak Sahul hanya tersenyum malu, menyebutkan kebutuhan pokok seperti beras, gula, minyak, dan yang lainnya. Namun, Jestham tak tega melihat keterbatasannya. Ia pun dengan sukarela menambahkan barang belanjaan, "Saya tambahin biar bisa stok di rumah, Bapak. Mau Lebaran juga kan?"

Dari beberapa kantong beras, akhirnya bertambah menjadi telur, gula, mi instan, minyak goreng, sabun, sarden, hingga kentang dan sosis. Setiap kali Bapak Sahul berkata cukup, Jestham selalu menjawab, "Nggak apa, Bapak. Ini rezeki hari ini." Belanjaan pun terus bertambah. Bapak Sahul hanya bisa terdiam haru, sesekali mengusap matanya. "Udah banyak kali," ucapnya hampir tidak percaya. Namun kebaikan tidak berhenti di situ. Jestham tahu bahwa kebutuhan sesaat saja tidak cukup, Bapak ini juga butuh kesehatan agar bisa terus bekerja.
Ketika ditanya apakah kakinya sudah pernah berobat, Bapak Sahul menggeleng pelan. "Untuk makan aja susah, sekalinya beli obat bisa 50 sampai 100. Becak sehari belum tentu dapat sewa, makin sulit sekarang," keluhnya. Mendengar itu, hati Jestham tersentuh lebih dalam. Ia lalu merogoh sakunya dan menyerahkan sejumlah uang kepada Bapak Sahul. "Saya ada rezeki, mana tahu Bapak mau gunakan untuk Bapak berobat. Saya serahkan ya, Pak. Nanti Bapak berobat ya, biar sehat." Bapak Sahul menerimanya dengan tangan gemetar, matanya berkaca-kaca. "Iya, nanti. Udah ada duit untuk berobat sekarang. Terima kasih banyak," jawabnya terbata.
Percakapan mereka berlanjut saat menunggu barang-barang belanjaan dirapikan. Bapak Sahul bercerita bahwa di rumahnya sering tidak ada beras, bahkan kadang sampai kelaparan. Namun ia tetap memaksakan diri menarik becak setiap hari, meski kakinya sakit. Jestham pun mengingatkan agar Bapak Sahul tidak lupa sholat dan menjaga kesehatannya.

Jestham berpamitan, "Semoga berkah ya, Bapak. Jangan lupa berobat. Saya doakan semoga sehat," ucapnya hangat. Bapak Sahul menjawab dengan penuh rasa syukur, "Alhamdulillah. Terima kasih, Jestham." Dengan langkah tertatih, sambil memegang tongkat, Bapak Sahul berjalan meninggalkan minimarket itu, membawa tidak hanya sembako, tetapi juga harapan baru untuk hidup yang lebih layak dan tubuh yang lebih sehat.
Untuk Bapak Sahul dan para pejuang kehidupan lainnya, semoga setiap pincang langkahmu diganti dengan kemudahan, dan setiap tetes keringatmu menjadi saksi pengorbanan yang tak ternilai. Selamat menyambut Lebaran dengan hati yang bersih dan penuh syukur.







