Kehangatan di Lorong Supermarket: Jestham dan Ari, Sebuah Dialog Tanpa Kata

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: youtube/@ownerjestham
Sumber: youtube/@ownerjestham

Kehangatan di Lorong Supermarket: Jestham dan Ari, Sebuah Dialog Tanpa Kata

Kota Medan, Sumatera Utara - (26/01/26) Pertemuan sederhana seringkali bisa menjadi momen yang bermakna, terutama ketika diisi dengan interaksi yang hangat dan penuh perhatian. Jestham dan Ari yang sudah beberapa kali bertemu dan kini kembali menghabiskan waktu bersama untuk berbelanja kebutuhan rumah. Di balik percakapan sederhana yang terekam, tersimpan sebuah keistimewaan, Ari adalah anak spesial yang lebih banyak berkomunikasi melalui gestur tubuh, dan Jestham dengan penuh kesabaran memahami setiap bahasa diamnya.



Percakapan dimulai dengan sapaan akrab Jestham, "Apa kabar, Ari?" meski ia tahu jawabannya mungkin akan datang dalam bentuk anggukan atau senyuman. Pertanyaan-pertanyaan kecil penuh perhatian terus mengalir, "Udah makan?" dan "Kenyang?" Jestham membaca setiap respons Ari dari sorot mata dan gerak-geriknya. Pertanyaan-pertanyaan ini bukan sekadar basa-basi, melainkan bentuk kepedulian yang tulus, agar mereka merasa diperhatikan dan dicintai tanpa harus mengucapkan sepatah kata pun.



Saat berkeliling mencari kebutuhan, Jestham dengan lembut menggali informasi tentang sosok yang paling penting dalam keseharian Ari. "Bapak di mana?" tanyanya, dan ia mengamati gestur Ari yang menunjuk atau mengangguk ke arah tertentu. Jestham memahami bahwa Ari hanya tinggal bersama sang Bapak di rumah. Dengan penuh kepekaan, ia mengarahkan percakapan pada rencana memasak bersama, "Kasih Bapak masak nanti ya," sebuah cara halus untuk memastikan bahwa kehadirannya dalam belanja kali ini akan berujung pada kebersamaan Ari dan Bapaknya di rumah.



Jestham dengan sabar menyebutkan satu per satu barang yang akan dibeli, sambil sesekali menatap Ari untuk mendapatkan persetujuan diamnya. "Kita beli beras ya, Ari ya," ujarnya, menunggu anggukan kecil dari Ari. Bahkan ketika memilih indomie, ia bertanya, "Suka makan Indomie?" sambil memperhatikan ekspresi wajah Ari yang menjadi petunjuk utama. Ini adalah cara sederhana untuk mengajak Ari berpartisipasi, menghargai pilihannya meski disampaikan tanpa kata-kata.



Tak lupa, ada momen kecil yang menyenangkan di sela-sela belanja kebutuhan pokok. Ketika melewati rak jajanan dan lemari pendingin, Jestham menawarkan, "Jajan mau jajan?" dan "Mau es krim?" Kebahagiaan Ari terpancar jelas dari sorot matanya saat ia menunjuk es krim pilihannya. Jestham pun mengomentari dengan hangat, "Senang belanja. Happy."



Di tengah keceriaan, Jestham tak melupakan nilai terpenting. Ia menanyakan, "Udah sholat?" dan dari gestur Ari, ia paham bahwa anak istimewa ini telah menunaikan kewajibannya di masjid. Jestham memberikan pujian tulus, "Oh, gitu. Ya, good ya. Harus rajin sholat ya, Ri ya." Ini menunjukkan bahwa di sela-sela aktivitas duniawi seperti belanja, perhatian Jestham tetaplah pada pembentukan karakter dan nilai spiritual Ari, perhatian yang mungkin sangat berarti bagi seorang anak spesial yang tinggal hanya dengan sang Bapak.



Di akhir percakapan, setelah semua barang masuk ke keranjang dan es krim di tangan Ari, Jestham mengingatkan kembali tentang kebersamaan yang akan terjadi di rumah. "Nanti, sama Bapak goreng di rumah ya," ujarnya sambil tersenyum, dan ia membaca pemahaman di wajah Ari. Sebuah pengingat manis bahwa kebahagiaan belanja ini akan berlanjut menjadi momen hangat antara Ari dan Bapaknya saat mereka memasak dan menikmati hasil belanjaan bersama. Jestham pun berpamitan dengan doa dan harapan, "Oke, ini Ibu permisi dulu," meninggalkan jejak kebaikan dalam keseharian mereka.



Dari interaksi sederhana ini, kita dapat memetik banyak pelajaran tentang arti kehadiran dan kepedulian yang melampaui batasan komunikasi verbal. Jestham mengajarkan bahwa cinta dan perhatian tidak selalu membutuhkan kata-kata, kadang, kehadiran yang sabar dan kemampuan membaca bahasa diam adalah bentuk komunikasi paling dalam yang bisa diberikan kepada seorang anak spesial seperti Ari. Di lorong-lorong minimarket itulah, tanpa banyak kata, terjalin ikatan yang tulus dan penuh berkah.