Ketika Tuhan Menitipkan Rezeki: Kisih Seorang Pemulung yang Demi Anaknya Bertahan di Tengah Keterbatasan

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: tiktok/@jesicathamrin
Sumber: tiktok/@jesicathamrin

Ketika Tuhan Menitipkan Rezeki: Kisih Seorang Pemulung yang Demi Anaknya Bertahan di Tengah Keterbatasan

Kota Medan, Sumatera Utara - (26/02/26) Jestham sedang dalam perjalanannya dan menangkap pemandangan seorang Bapak pemulung yang sedang beraktivitas di pinggir jalan. Jestham pun memutuskan untuk mendekati dan menyapa bapak tersebut. Ia merasa terpanggil untuk membantu. Jestham lalu bertanya, "Bapak, saya ada rezeki dari Tuhan. Saya mau belanjakan sembako untuk Bapak, mau tidak?" Bapak itu pun menjawab dengan mata berkaca-kaca, "Mau, Kak." Jestham kemudian mengajak Bapak itu mengikuti mobilnya menuju ke sebuah minimarket.



Sesampainya di minimarket, Bapak pemulung itu tampak canggung. Ternyata ini adalah pertama kalinya ia masuk ke toko modern seperti itu. "Alhamdulillah, Kak. Baru pertama kali saya masuk ke sini," ucapnya polos. Jestham lalu memberi tantangan. Bapak itu hanya diberi waktu dua menit untuk mengambil barang-barang yang ia butuhkan. Sebelum memulai, Jestham bertanya tentang kebutuhan paling penting di rumah. "Beras," jawab Bapak itu mantap. Jestham pun memulai hitungan.



Dalam dua menit, Bapak itu bergerak cepat mengambil beras, mi instan, minyak goreng, sabun cuci piring, dan susu. Jestham terus menyemangatinya. Sambil belanja, Jestham bertanya, "Di rumah ada berapa orang, Pak?" Bapak itu menjawab, "Empat keluarga, Kak." Ia tinggal bersama istri dan anak-anaknya. Jestham juga bertanya tentang anaknya. Bapak itu punya anak yang masih duduk di bangku SMP kelas 1.



Bapak itu kemudian bercerita dengan suara bergetar. "Tadi anak saya datang mau minta uang buat beli takjil buka puasa. Tapi uang di kantong saya cuma dua ribu, Kak." Jestham mendengar cerita itu dengan seksama. Ia bisa merasakan betapa sedihnya menjadi seorang ayah yang tidak bisa memberikan apa yang diminta anaknya, apalagi di bulan puasa. Bapak itu terus berusaha mengambil barang sebanyak mungkin sampai waktu dua menit habis.



Setelah waktu habis, keranjang belanjaan sudah penuh. Jestham pun melihat-lihat isinya. Ia merasa masih ada yang kurang. Jestham lalu mengambil kue kaleng untuk Bapak itu. "Ini buat nanti Lebaran, Pak," katanya. Bapak itu sangat terharu. "Saya terharu banget dikasih orang belanja sebanyak ini. Ini rezeki dari Tuhan," ucapnya sambil menangis. Jestham juga memberikan uang tambahan untuk Bapak itu.



Bapak itu menyampaikan pesan yang menyedihkan untuk anaknya. Ia minta maaf karena makanan di rumah sering kurang, tidak cukup untuk buka puasa dan sahur. Ia juga minta maaf karena uang sekolah anaknya masih belum lunas. Menjelang Lebaran, Bapak itu juga tidak bisa membelikan baju baru untuk anaknya. "Saya gak punya uang. Saya apa adanya saja, Kak," tuturnya dengan pasrah.



Sebelum berpisah, Jestham berpesan kepada Bapak itu agar selalu rajin salat dan berdoa. "Apapun kesusahan hidup, selalu ada jalan keluar, Pak. Tuhan tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya yang sabar," pesan Jestham. Bapak itu mengangguk dan berjanji akan terus berusaha. Ia mengucapkan terima kasih berkali-kali. Semoga kisah ini bisa menginspirasi kita untuk lebih sering berbagi, terutama kepada mereka yang benar-benar membutuhkan. Karena tidak pernah ada rasa rugi dari berbagi.