Malam Larut di Atas Becak: Haru Bahagia Jestham traktir Bapak Tukang Becak yang Mengais Rezeki demi Anak-anaknya

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: youtube/@ownerjestham
Sumber: youtube/@ownerjestham

Malam Larut di Atas Becak: Haru Bahagia Jestham traktir Bapak Tukang Becak yang Mengais Rezeki demi Anak-anaknya

Kota Medan, Sumatera Utara - (17/03/26) Malam itu sudah cukup larut, suasana jalanan mulai sepi. Hanya sesekali terdengar suara kendaraan yang melintas. Di tengah kesunyian itu, Jestham mendapati sebuah pemandangan yang langsung membuatnya terenyuh. Seorang Bapak paruh baya tengah tertidur pulas di atas becak tuanya. Sang Bapak itu tampak kelelahan, mungkin sudah berputar-putar sejak sore mengayuh roda, namun belum satu pun penumpang yang menghampirinya.



Jestham pun tak bisa menahan hatinya. Ia mendekat dan membangunkan Bapak itu dengan lembut. "Bapak, maaf, saya ada rezeki dari Tuhan. Mau saya ajak belanja sembako sepuasnya di sana?" tanya Jestham sembari menunjuk ke sebuah minimarket. Dengan mata yang masih sayu tapi mulai berbinar, sang Bapak menjawab, "Alhamdulillah, boleh." Jestham pun menggandeng tangan kasar Bapak itu, mengajaknya masuk ke dalam toko yang mungkin tak pernah ia masuki sebelumnya. "Enggak pernah masuk sini," ujar Bapak dengan polos, menunjukkan betapa asingnya kemewahan sederhana sebuah swalayan baginya.



Saat masuk ke dalam, Jestham langsung mempersilakan Bapak itu untuk memilih. "Belanja untuk kebutuhan rumah, yang paling penting saat ini menurut Bapak apa?" tanya Jestham. Tanpa pikir panjang, Bapak itu menjawab, "Beras. Minyak." Jestham pun dengan sigap menggandengnya menuju rak-rak. Di tengah perjalanan, terungkaplah usianya yang sudah 59 tahun. Jestham pun memutuskan untuk tidak memakai durasi waktu, membiarkan Bapak itu memilih dengan tenang. Mulai dari beras, minyak goreng, hingga telur, satu per satu barang masuk ke keranjang.



Meskipun Jestham terus memasukkan barang, sang Bapak berkali-kali terlihat canggung. "Banyak kali ini," katanya setengah tidak percaya. Namun, Jestham terus meyakinkan, "Enggak apa-apa, saya tambahin lagi." Begitu pula saat ditanya soal kopi, sarden, kecap, hingga gula. "Jangan banyak-banyak, Bu," ujar Bapak itu sambil tertawa kecil karena Jestham terus saja menambahkan sabun dan kebutuhan lainnya. Jestham hanya tertawa dan menjawab, "Tenang, Bapak, aman. Stok di rumah." Ia bahkan dengan penuh perhatian mengambil roti, "Biar senang anak-anak di rumah makan roti pagi-pagi."



Di sela-sela belanja, Jestham menggali cerita lebih dalam. Ternyata sang Bapak memiliki empat orang anak di rumah. Ia belum pulang meski malam sudah larut karena belum mendapat orderan. "Jadi nunggunya sampai malam gitulah," katanya lirih. Jestham kemudian bertanya, "Andai kata Bapak bisa menyampaikan sesuatu ke anak-anak, apa yang ingin Bapak sampaikan?" Dengan mata yang mulai basah, sang Bapak menjawab, "Semoga anak-anakku jangan seperti bapaknya lagi. Bisa menjadi yang lebih baik. Bapak minta maaf, tidak terlalu membahagiakan anak-anak." Jestham langsung menyemangati, "Tapi Bapak rajin kerja sampai malam demi keluarga. Itu sudah membahagiakan."



Keterharuan semakin menjadi ketika Jestham bertanya soal persiapan Lebaran. Ternyata sang Bapak belum membeli baju lebaran untuk anak-anaknya. Bahkan, kemeja yang ia pakai saat itu adalah pemberian orang dan sudah berusia 20 tahun. "Ini baju pemilihan umum," candanya getir. Jestham pun tak kuasa menahan haru. Ia lalu memberikan sedikit rezeki tambahan. "Saya ada sedikit rezeki untuk Bapak bawa pulang ke rumah untuk beli baju lebaran," ujar Jestham. Begitu uang itu berada di tangannya, sang Bapak hampir tidak percaya. "Bu, saya tidak pernah memegang uang sebanyak ini," katanya dengan suara bergetar, berulang kali mengucap "Alhamdulillahi rabbil alamin."



Tak cukup sampai di situ, Jestham juga membelikan kurma, sirup, dan kue-kue untuk persiapan menyambut hari raya. "Kue lebaran sudah beli belum? Belum. Ini saya beliin ya," kata Jestham. Sang Bapak hanya bisa mengangguk dengan wajah berseri-seri, mulutnya terus mengucap syukur. Malam yang dingin dan melelahkan itu berubah menjadi malam penuh kehangatan. Jestham berhasil mengubah sekadar belanja sembako menjadi sebuah momen yang mengingatkan kita semua bahwa di balik setiap becak yang terparkir, ada perjuangan ayah yang tak kenal lelah.



Mari kita dukung perjuangan Bapak tukang becak ini dan lihat bagaimana kebaikan kecil bisa membawa perubahan besar bagi sebuah keluarga. Karena di balik rasa lelah yang terpancar dari wajahnya, tersimpan doa sederhana seorang ayah, semoga anak-anaknya tidak akan mengalami susah seperti dirinya. Dan malam itu, Jestham menjadi jawaban atas doa yang mungkin sudah lama Bapak itu panjatkan dalam diam.