Momen Jestham Ajak Lukman Belanja 2 Menit di Indomaret

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: youtube/@ownerjestham
Sumber: youtube/@ownerjestham

Momen Jestham Ajak Lukman Belanja 2 Menit di Indomaret

Kota Medan, Sumatera Utara - (01/02/26) Setelah pertemuan singkat yang lalu meninggalkan kesan mendalam, Jestham kembali mencari anak remaja penjual donat yang dikenal dengan kegigihannya. Bukan sekadar menyapa, kali ini Jestham membawa misi istimewa yang sudah lama ia rencanakan. Ia ingin mengajak Lukman, anak yang biasa berjualan dengan sepedanya itu, untuk merasakan pengalaman yang mungkin belum pernah ia dapatkan, berbelanja sembako sepuasnya. Di balik rencana seru ini, tersimpan harapan untuk meringankan beban keluarga Lukman, yang setiap hari harus berjuang tanpa kehadiran seorang ayah.



Pertemuan itu dimulai dengan sapaan hangat Jestham yang sudah lama mencari Lukman. “Luar biasa ya kamu ya. Di usia kamu seharusnya kamu masih bisa main-main, sekolah,” ujar Jestham dengan nada kagum sekaligus prihatin. Lukman yang masih sangat muda, dengan polos menjawab, “Iya. Bantu orang tua lah Kak. Karena ayah udah enggak ada, enggak ada yang nyari makannya.” Kalimat sederhana itu menjadi pembuka dari perjalanan emosional yang akan mereka lalui. Jestham pun langsung mengajukan tawaran yang membuat mata Lukman berbinar, yaitu berbelanja sembako untuk memenuhi kebutuhan rumahnya.



Rencana belanja pun dimulai dengan penuh tawa. Jestham memberi tantangan kepada Lukman untuk mengisi keranjang belanja selama dua menit. “Kamu boleh belanja apa aja semuanya yang ada di dalam sini. Kebutuhan rumah selama 2 menit. Jadi kalau 2 menitnya udah selesai, stop,” jelas Jestham. Dengan semangat, mereka berlari menyusuri rak. “Cepat cepat beras, beras! Minyak, minyak, minyak! Penuhkan untuk mama ya!” teriak Jestham memberi semangat. Lukman bergerak cepat mengambil telur, Indomie, hingga sabun, menciptakan momen penuh tawa dan kebahagiaan yang sederhana namun sangat berarti.



Di sela-sela kepanikan manis saat belanja, terlihat sisi lain dari Lukman yang sangat menyentuh. Saat mengambil susu, Jestham sempat salah memilih, namun Lukman dengan cepat menggantinya. “Ini aja sih, yang suka mama,” ujarnya. Jestham pun tersadar, “Oh, mama suka susu ini.” Lukman mengangguk, “Iya, susu dancow suka.” Tanpa diminta, ia selalu mengutamakan ibunya di rumah. Momen ini menunjukkan bahwa di balik usianya yang masih 16 tahun, Lukman memiliki kedewasaan yang luar biasa.



Perbincangan mereka berlanjut ke topik yang lebih dalam, menyentuh alasan mengapa Lukman harus berhenti sekolah. Dengan jujur, Lukman mengaku bahwa ia berhenti sendiri setelah lulus SD. “Bantu orang tua aja karena udah enggak ada ayah,” katanya lirih. Jestham kemudian menanyakan sosok ayah yang telah tiada selama 6 tahun. Lukman mengungkapkan rasa rindu yang sangat besar. Saat ditanya apa yang ingin ia sampaikan pada sang ayah, jawabannya singkat, “Rindu sih. Rindu kali.” Ia bahkan mengisahkan bahwa kepergian ayahnya karena sakit gula terjadi di depan matanya, sebuah kejadian yang pasti meninggalkan luka mendalam di hatinya.



Ketika ditanya tentang cita-citanya, Lukman yang tadinya semangat berbelanja tiba-tiba terdiam. “Ya enggak tahu lagiah, Ci. Bilangnya kalau udah enggak sekolah, enggak mikirkan cita-cita lagilah, bantu orang tua aja,” ungkapnya. Namun, ia sempat berbagi bahwa dulu saat masih sekolah, ia bercita-cita menjadi seorang guru. “Pengen jadi guru sama ayah,” katanya, menunjukkan betapa besar peran dan rindu yang ia miliki terhadap sosok pemimpin di keluarganya. Meskipun kini ia lebih fokus untuk bertahan hidup, gurat masa depan itu masih tersimpan samar dalam ingatannya.



Di akhir kebersamaan yang penuh makna ini, Jestham tak hanya berbagi sembako, tetapi juga semangat dan doa. Ia membeli seluruh dagangan donat Lukman, memberikan kejutan dengan membayar lebih dari harga yang diminta. Jestham pun sempat menitipkan pesan, “Ingat ya, rajin salat selalu ya.” Lukman yang kecil namun penuh keteguhan, mengucapkan terima kasih dengan doa yang tulus. Perjalanan ini bukan sekadar tentang belanja sembako, melainkan tentang bagaimana sebuah ketulusan bisa menjadi pengingat bahwa di tengah kerasnya kehidupan, masih ada tangan-tangan yang siap membantu dan memberi harapan baru bagi mereka yang tak kenal lelah berjuang.