Ojek Tengah Malam, Hati yang Tak Pernah Lelah

Ojek Tengah Malam, Hati yang Tak Pernah Lelah
Kota Medan, Sumatera Utara - (30/03/26) Perjalanan kali itu terasa berbeda bagi Jestham dan timnya. Dari spion mobil, ia melihat seseorang mengendarai motor ojek online dengan setia mengikuti dari belakang. Bukan karena sengaja membuntuti, tapi mungkin karena arah yang sama. Namun hati Jestham tergerak. "Bapaknya ikutin kita terus itu," ujarnya kepada tim. Dengan sengaja ia meminggirkan mobil di depan sebuah minimarket. "Kiri-kiri kita. Di depan aja. Kiri sini," pandunya. Setelah berhenti, ia menoleh ke Bapak ojol itu, "Pak, ikutin aku kan? Yuk, masuk ke dalam. Kita belanja ya. Dua menit saja."
Bapak itu tampak bingung tapi tersenyum gugup. Jestham mempersilakannya masuk ke minimarket. "Tadi lagi ngapain, Pak?" tanyanya. "Nunggu orderan, Kak. Sepi," jawab Bapak itu dengan nada letih. "Baru dua orderan dari pagi." Jestham bertanya lebih lanjut, dan Bapak itu mengaku belum menikah, masih tinggal bersama orang tuanya. Ketika ditanya kebutuhan paling penting di rumah, ia menjawab, "Beras, minyak, telur, Kak." Jestham mengangguk, lalu menjelaskan aturan main, "Jadi ini saya pakai durasi 2 menit. Kalau durasinya habis, Bapak harus stop. Oke?" Bapak itu mengiyakan dengan penuh syukur.
Namun ada yang mengganjal. Sesaat sebelum belanja dimulai, tangan Bapak itu gemetar. Matanya berkaca-kaca. Jestham pun bertanya, "Kenapa, Pak? Kok sedih?" Dengan suara lirih, Bapak itu menjawab, "Jarang-jarang dapat gini, Kak. Orderan sepi. Semua mahal." Ia juga mengaku baru mencicil motor dan belum bayar, jatuh tempo sudah dekat. Jestham menenangkannya, "Bapak, gak apa-apa. Nanti ada rezekinya lagi. Kita belanja dulu 2 menit. Semangat dulu, ya. Lupakan dulu cicilannya." Bapak itu mengangguk, berusaha tegar.

Hitungan pun dimulai. "Satu, dua, tiga... cepat!" teriak Jestham. Bapak itu bergegas mengambil beras. "Berapa orang di rumah?" tanya Jestham. "Empat," jawabnya. "Ambil yang banyak!" Bapak itu lalu berlari kecil, mengambil telur disusul kopi, minyak goreng, indomie, sabun, hingga susu untuk orang tua. Jestham terus menyemangati dari belakang. Dalam dua menit yang kacau tapi penuh tawa, keranjang belanjaan pun penuh. Setelah waktu habis, Bapak itu terengah-engah dan mengucap syukur, "Terima kasih banyak, Kak."
Jestham lalu mengajaknya mengobrol hangat. Ternyata Bapak itu berusia 40 tahun, belum menikah. "Gak ada yang mau, Kak. Tukang ojek kayak gini. Gemuk lagi," katanya malu. Di rumah, ia tinggal bersama kedua orang tua dan adik perempuannya yang berusia 21 tahun yang sedang mencari kerja. Setiap hari ia mengojek untuk menghidupi orang tuanya yang sudah tak bekerja. "Dulu orang tua yang ngebiayai sampai kita besar. Sekarang giliran kita yang balas," ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Jestham terharu mendengar kesetiaan seorang anak pada orang tuanya.
Kemudian ingatlah bahwa Bapak itu masih terbebani cicilan motor yang belum lunas. "Baru ketumpul Rp400.000 Kak," ungkapnya. Jestham tak berpikir panjang. Ia mengeluarkan uang dan berkata, "Ini saya dari rezeki dari Tuhan untuk bayar motornya." Bapak itu nyaris tak percaya. Matanya basah, tangannya gemetar menerima rezeki tersebut. "Mudah-mudahan Tuhan membalas kebaikan kakak, murah rezeki kak," ucapnya terbata. Jestham tersenyum, "Iya rezeki, ya Pak ." Ternyata Bapak itu sudah satu setengah jam berkeliling dan baru dapat dua orderan.

Sebelum berpisah, Jestham memberikan nasihat dan doa. "Bapak aku doakan supaya cepat dapat jodohnya. Amin. Percaya gak percaya doa orang tua untuk kita. Tetap sayang orang tua. Rezeki abang sayang orang tua selalu ketemu yang baik-baik juga." Bapak itu mengamini dengan penuh haru. Jestham menitipkan salam untuk ibu di rumah. Ia lalu menyerahkan semua belanjaan yang sudah dipacking rapi, ditambah ongkos untuk Bapak itu membawa pulang.
Hari itu, sebuah pertemuan singkat di pinggir jalan berubah menjadi momen yang tak terlupakan. Seorang Bapak ojol yang tadinya hanya mengikuti dari belakang, pulang dengan hati yang penuh dan doa yang mengiringi langkahnya. Jestham kembali diingatkan bahwa di balik setiap kesulitan, selalu ada rezeki yang tak terduga. Dan kadang, cukup dua menit untuk mengubah hidup seseorang.







