Pertemuan Jestham dan Anak Penjual Donat: "Aku Sayang Kali Sama Ayah"

Pertemuan Jestham dan Bocah Penjual Donat: "Aku Sayang Kali Sama Ayah"
Kota Medan, Sumatera Utara - (08/01/26) Di pinggir jalan yang ramai, seorang anak laki-laki terlihat duduk di samping sepeda sederhananya. Di depannya, tersusun rapi donat-donat buatan sendiri yang ia jajakan untuk pembeli yang lalu lalang. Jestham yang kebetulan lewat, langsung tertarik mendekat setelah melihat sosok muda yang seharusnya masih berseragam sekolah, tapi justru sibuk menunggu pembeli.
"Halo. Jual apa?" sapa Jestham ramah. "Jualan donat, Kak. Satu Rp2.000," jawab anak itu singkat. Dari situ percakapan mulai mengalir. Jestham bertanya umurnya, dan anak itu menjawab 16 tahun. Namun, ketika ditanya soal sekolah, ia hanya tersenyum tipis. "Tamatan SD aja, Kak. Enggak sekolah lagi. Enggak ada biayanya, ayah sudah meninggal."
Jestham terdiam beberapa saat. Ia tak menyangka anak di depannya ini sudah harus memikul beban seberat itu. Apalagi setelah tahu kalau donat yang dijual adalah hasil buatannya sendiri, bukan titipan orang lain. Dari cara bicaranya yang sopan dan rendah hati, terlihat jelas kalau anak ini sudah terbiasa hidup keras meski usianya masih muda.

Iseng-iseng, Jestham bertanya, "Kalau seandainya ada rezeki, mau enggak kalau donatnya diborong semua?" Mata anak itu langsung berbinar. "Boleh, Kak." Setelah dihitung, total dagangannya Rp52.000. Jestham lalu mencoba menawar dengan bercanda, "Boleh tawar sedikit? Tawarnya segini boleh?" sambil memberi isyarat jumlah yang lebih. Anak itu sempat kaget, "Eh, banyak kali, Kak!" Jestham hanya tersenyum dan memintanya untuk membungkus semua donat. Tanpa banyak kata, anak itu pun paham bahwa Jestham tidak benar-benar menawar, tapi justru memberi lebih dari harga yang diminta. Sebuah rezeki tambahan yang tak terduga untuknya.
Sambil menunggu donat dibungkus, Jestham mengobrol lebih jauh. Ia bertanya soal kesulitan jualan. "Sulitnya sepi pembeli, Kak," jawab anak itu lugu. Jestham juga bertanya soal cita-cita, tapi anak itu hanya menggeleng. "Enggak tahu lagilah, Kak, soalnya udah enggak sekolah lagi." Jestham hanya bisa menghela napas. Ia lalu berpesan agar anak itu tetap rajin salat dan jangan pernah menyerah.

Satu pertanyaan terakhir yang meluncur dari Jestham membuat suasana berubah haru. "Kalau ayah nonton kamu di surga, apa yang pengin kamu sampaikan?" Bocah itu menjawab dengan suara pelan tapi jelas, "Kalau seandainya ayah masih hidup, aku sayang kali sama ayah." Kalimat itu sederhana, tapi dalamnya luar biasa. Jestham hanya bisa menguatkan hatinya dan mengatakan kalau ia yakin anak ini kelak akan jadi orang sukses.
Setelah semua donat terbungkus dan uang diterima, bocah itu pamit dengan wajah ceria. Jestham melambaikan tangan dan mengingatkannya untuk tetap semangat. Perjalanan singkat itu mungkin tak akan dilupakan oleh si penjual donat, bukan karena uangnya, tapi karena ada seseorang yang berhenti, mendengar ceritanya, dan menganggapnya berarti.

Jestham kembali bertanya, "Biasanya jam berapa pulang?" "Biasanya jam 6" jawabnya. Jestham pun berkata, "Hari ini lebih cepat pulang ya." Anak itu mengangguk. Sebelum berpisah, Jestham berpesan, "Tetap semangat selalu ya. Jangan sedih ya. Rajin-rajin salat kita ya selalu ya, Dik." Anak itu mendengarkan dengan saksama. Jestham lalu pamit, "Oke, permisi. Bye bye." Anak penjual donat itu pun melambaikan tangan dengan wajah ceria, pulang lebih awal dari biasanya dengan dagangan yang habis terjual dan rezeki lebih di tangannya.







