Rezeki dari Tuhan untuk Bapak Tukang Becak: Sebuah Kisah Ketulusan di Balik Becak Tua

Rezeki dari Tuhan untuk Bapak Tukang Becak: Sebuah Kisah Ketulusan di Balik Becak Tua
Kota Medan, Sumatera Utara - (03/02/26) Di sebuah sore yang terik, seorang Bapak paruh baya tampak sibuk memperbaiki becaknya yang rusak di pinggir jalan. Tangannya yang kusam terampil menyentuh mesin tua, berusaha membangkitkan satu-satunya alat untuk mencari nafkah. Dialah Pak Paijo, seorang tukang becak yang sudah menggeluti profesinya selama lebih dari 20 tahun. Kegiatan sederhananya itu menarik perhatian Jesica Thamrin, atau akrab disapa Jestham, yang kemudian menyapanya dan memulai sebuah percakapan yang perlahan membuka tabir kehidupan berat yang ia jalani. Tanpa diduga, pertemuan itu menjadi titik balik yang membawa harapan baru bagi Pak Paijo.
Jestham yang melihat kesederhanaan Pak Paijo pun membuka hati. Ia menawarkan sebuah kejutan, kesempatan bagi Pak Paijo untuk berbelanja sembako sepuasnya di Indomaret selama dua menit. Mendengar tawaran itu, mata Pak Paijo berbinar. "Mau betul," jawabnya lirih, dengan senyum yang mulai merekah. Ia diajak masuk ke dalam toko, dan ketika ditanya kebutuhan rumah yang paling penting saat ini, jawaban Pak Paijo singkat namun menusuk hati, "Beras aja. Beras rumah." Tanpa ragu, ia mengungkapkan bahwa di rumahnya, stok beras untuk makan keluarganya sudah habis.

Momen dua menit itu pun dimulai. Dengan semangat yang menggebu, Pak Paijo berjalan cepat menyusuri lorong toko. Ia mengambil beras sebanyak-banyaknya, diikuti dengan minyak goreng, gula, dan tumpukan mi instan yang hampir tak terhitung jumlahnya. Jestham terus menyemangati dari belakang, memintanya untuk mengambil semua yang ia butuhkan. Pak Paijo tak henti bergerak, tangannya meraih berbagai kebutuhan pokok, sesekali ia juga mengambil sabun dan telur setelah diingatkan. Dalam keterbatasan waktu, ia berusaha memaksimalkan setiap detik untuk membawa pulang sebanyak mungkin bahan makanan untuk keluarga tercinta.

Di balik keramahan dan bantuan yang ia terima, Pak Paijo mulai menceritakan beban hidup yang selama ini ia pikul sendirian. "Sedih saya bu," katanya lirih, matanya berkaca-kaca. Ia mengaku belum pernah mendapatkan kebaikan seperti ini. Becak tua yang ia setir adalah satu-satunya sandaran hidup, namun sering kali rusak dan membutuhkan biaya perbaikan hingga ratusan ribu rupiah yang bahkan untuk makan pun ia harus berpikir keras. "Gak tentu bu, kalau dibongkar nanti mesinnya mau kena 300, 400... duitnya juga lah bu, gak ada duitnya," ungkapnya menggambarkan kesulitan yang ia hadapi.
Lebih dalam lagi, Pak Paijo membuka suara tentang kondisi keluarganya. Ia memiliki seorang istri yang sudah tiga tahun terbaring sakit karena gula. Setiap hari, ia harus merogoh kocek Rp10.000 untuk membeli obat sang istri. Tanpa penghasilan lain, Pak Paijo adalah satu-satunya tulang punggung yang harus berkeliling dari pagi hingga malam hari dengan becaknya, mencari nafkah di tengah persaingan yang berat. "Yang paling sulit ini cari makan yang lebih sulit bagi kita yang gak ada apa-apa," tuturnya. Meski hidup penuh dengan kesulitan, ada satu hal yang membuatnya tetap tegar, rasa syukur. "Yang penting hari ini bisa makan, iya udah syukur alhamdulillah," katanya.

Mendengar curahan hati itu, Jestham kembali tergerak. Ia pun menyisihkan uang dari dalam dompetnya untuk diberikan kepada Pak Paijo. "Bapak, ini saya ada sedikit rezeki dari Tuhan. Semoga bisa untuk perbaiki becak, bisa untuk beli obat," katanya. Pak Paijo menerima pemberian itu dengan tangan gemetar, matanya semakin basah. "Nggak pernah saya dapat kayak gini, Bu. Umur saya udah hampir 60, 70. Nggak pernah saya dapat, baru sekali dapat kayak gini," ucapnya dengan suara bergetar, terharu. Selama 20 tahun mengayuh becak, baru kali ini ia merasakan uluran tangan yang begitu tulus. Ia menyebutnya sebagai rezeki dari Allah yang datang di saat yang paling ia butuhkan.
Di akhir pertemuan, mereka berpamitan dengan doa yang saling menguatkan. Becak tua itu mungkin belum sepenuhnya pulih, namun hati Pak Paijo penuh dengan harapan baru. Sebuah becak yang rusak, seorang istri yang sakit, dan perjuangan tanpa henti untuk bertahan hidup. Namun dari balik kesederhanaan itu, Pak Paijo mengajarkan sebuah keteguhan hati bahwa dalam setiap kesulitan, selalu ada rezeki yang datang dari arah tak terduga. Bagi Pak Paijo, hari itu bukan sekadar soal sembako atau uang perbaikan becak, tetapi sebuah pengingat bahwa doa-doanya selama ini didengar.







