Rezeki Tak Terduga di Bulan Ramadan: Sebuah Pertemuan yang Mengharukan dengan Pengayuh Becak

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: tiktok/@jesicathamrin
Sumber: tiktok/@jesicathamrin

Rezeki Tak Terduga di Bulan Ramadan: Sebuah Pertemuan yang Mengharukan dengan Pengayuh Becak

Kota Medan, Sumatera Utara - (02/03/25) Di sela-sela kesibukan menjelang Hari Raya Idul Fitri, sebuah pertemuan sederhana namun penuh makna terjadi antara Jestham dan seorang Bapak tua pengayuh becak. Jestham mendekati Bapak tersebut yang sedang duduk di becaknya. "Pak, kok enggak narik? Saya ada rezeki dari Tuhan, belanja sembako sepuasnya, mau enggak? Mau ya pak" tawarnya. Dengan ragu namun penuh harap, Bapak itu pun mengangguk dan mengikuti arahan untuk mengikuti mobilnya agar mengunjungi supermarket terdekat. "Ikutin mobil saya ya. Sekarang jalan ya Bapak ya."



Sesampainya di supermarket, percakapan hangat pun terjalin di antara mereka. Jestham menanyakan usia Bapak tersebut yang ternyata sudah 70 tahun lebih. Dengan penuh perhatian, Jestham memutuskan untuk tidak memberlakukan batas waktu berbelanja. "Pak, biasanya kan saya pakai durasi nih. Karena Bapak usianya 70 lebih, saya enggak pakai durasi. Karena saya takut Bapak enggak bisa lari-lari cepat gitu. Ya, kita belanjain kebutuhan-kebutuhan rumah ya. Oke, udah mau lebaran kan?" tanyanya. Bapak itu pun menjawab, "Iya." Belanja pun dimulai dari kebutuhan paling utama. "Kebutuhan rumah paling penting apa, Pak?" "Beras," jawab Bapak itu singkat.



Di tengah kegiatan belanja, Jestham melihat ada kesedihan di wajah Bapak tua itu. "Kenapa kok sedih, Bapak?" tanyanya lembut. "Sedih lah. Saya sendiri cari duit," jawab sang Bapak. Perlahan ia mulai bercerita tentang anak-anaknya. "Ada dua di Kamboja." Jestham bertanya lebih lanjut, "Enggak ada kabar? Udah ada telepon?" Yang dijawab tidak ada sama sekali oleh sang Bapak. Jestham mencoba menghibur, "Sabar ya, Bapak ya. Siapa nama anaknya di Kamboja?" "Fandy Akbar," jawab sang Bapak. Anak bungsunya diketahui belum kembali dan hilang kabar di negara tersebut. "Kita doakan si Fandy ini bisa pulang ya Bapak ya." ucap Jestham tulus mendoakan.



Bapak itu bercerita bahwa anaknya di Kamboja sudah lama tidak menghubunginya, seolah membuang dirinya. Jestham pun menghibur dengan harapan agar video ini bisa viral dan sampai ke telinga sang anak, sehingga ia tahu ayahnya sangat merindukannya. Bapak itu menambahkan bahwa meski anaknya berangkat dengan paspor resmi, sudah dua bulan ini ia tak pernah mendapat kabar. Ketika ditanya tentang kesulitan hidup, ia mengaku mencari uang dengan becak sangatlah susah, apalagi sekarang kalah bersaing dengan transportasi online yang lebih diminati orang.



Meski hati sedang gundah memikirkan anaknya yang tak kunjung pulang, Bapak itu tetap mengikuti Jestham berkeliling menyusuri rak-rak supermarket. Dengan sabar, Jestham menemani dan mempersilakan Bapak itu memilih sendiri barang-barang yang dibutuhkan, terutama beras sebagai kebutuhan pokok utama. Setiap kali Bapak itu terlihat ragu atau hanya mengambil secukupnya, Jestham dengan lembut memasukkan lagi barang tambahan ke dalam keranjang. Bapak itu beberapa kali berkata "cukup", namun Jestham tetap berinisiatif menambahkan aneka kebutuhan lainnya seperti minyak goreng, kopi, sabun, gula, hingga susu. Keranjang belanja mereka pun semakin penuh dengan berbagai bahan pokok yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan rumah tangganya, terutama untuk menyambut hari kemenangan.



Percakapan kemudian beralih ke persiapan menyambut Lebaran. Jestham menanyakan apakah Bapak itu sudah membeli baju baru untuk hari raya. Ternyata, sudah bertahun-tahun ia tidak membeli baju lebaran untuk dirinya sendiri. Baju yang ia kenakan saat itu adalah baju yang sama yang telah ia pakai selama tujuh tahun terakhir. Ia mengaku tidak masalah tidak memiliki baju baru, asalkan anak dan istrinya bisa memakai baju lebaran. Demi bisa membelikan keluarganya baju baru, ia rela menarik becak hingga larut malam, bahkan terkadang sampai tidak pulang ke rumah. Mendengar perjuangan berat itu, Jestham kembali tergerak hatinya untuk memberikan tambahan rezeki yang bisa digunakan untuk membeli baju lebaran bagi keluarga Bapak tersebut.



Saat menerima pemberian itu, Bapak itu tak kuasa menahan tangis haru. Dengan suara bergetar, ia mengangkat kedua tangannya dan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan atas rezeki yang tak terduga ini. Jestham pun dengan lembut mengingatkan Bapak itu untuk terus mendirikan salat dan mendoakan keselamatan keluarganya, terutama sang anak yang masih di perantauan agar segera dapat pulang berkumpul. Ia berharap Lebaran tahun ini membawa berkah bagi Bapak dan keluarga, serta rezeki yang diberikan dapat bermanfaat. Sebagai penutup, mereka berpamitan dengan penuh kehangatan. Jestham berpesan agar Bapak itu berhati-hati di jalan, dan Bapak itu pun mengucapkan terima kasih berkali-kali. Sebuah perjumpaan singkat yang tidak hanya memberi bahan makanan, tetapi juga harapan dan doa bagi seorang ayah yang sedang menanti kepulangan anaknya di perantauan.